My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Terpuruk


__ADS_3

"Gak mungkin... gak mungkin ibu ngelakuin hal itu... enggak.. ini pasti cuma karangan ayah aja.." racau Arsen frustasi di kamar kontrakannya.


Rambut semi panjangnya berantakan karena ulah tangan yang tak bisa diajak tenang.


Bahkan kuku-kuku nya habis dijadikan camilan karena enggan makan kala memikirkan sang ibu yang selama ini sangat menyayanginya.


Arsen akui jika selama sang ibu mengurus Ardy, selalu baik dan ramah dalam memperlakukannya. Namun Arsen kerap mendengar gerutuan dan sumpah serapah yang ibunya lontarkan kala sendirian.


Mengutuk kehidupan Ardy agar tidak bahagia dan sebagainya.


Arsen yang awalnya merasa tersaingi dengan kehadiran Ardy kecil ditambah sang ibu yang tampak juga menyayangi adik tirinya itu merasa mempunyai sekutu untuk menjatuhkan Ardy dan membalas dendam pada sang ayah suatu saat nanti.


Selama ini Jordan mencari keberadaan Arsen karena mengetahui niat jahatnya pada Ardy.


Arsen tak percaya jika sang ibu ternyata menipunya juga demi kepentingan pribadinya.


Dengan memalsukan kematiannya, dia bisa mencairkan asuransi jiwa yang bernilai milyaran rupiah.


Tentu saja dia mengerahkan orang-orangnya untuk melancarkan penipuan terhadap perusahaan asuransi tersebut.


Arsen lantas meraih ponsel dan secarik kertas yang Jordan berikan.


Kertas yang berisi nomor telfon baru sang ibu.

__ADS_1


"Telfonlah ibumu kalau kamu penasaran. Tapi aku sarankan, ganti foto profilmu dengan foto ini, lalu lakukanlah video call" saran Jordan mengirimkan sebuah foto lelaki yang usianya tak jauh dari Arsen sebelum Arsen meninggalkan pabrik lama yang menjadi kediaman ibu kandung Ardy.


"Lelaki ini.." gumamnya geram kala menatap foto seorang lelaki blasteran yang pernah dilihatnya bersama sang ibu.


Dengan perasaan marah dan gundah, Arsen mengikuti saran Jordan dengan mengubah foto profilnya dengan foto lelaki yang dikirimkan Jordan. Setelah itu, dengan tangan bergetar, antara ragu-ragu dan penasaran, dia menekan tombol video call.


Deringan pertama, jantungnya berdegup kencang, dering kedua degupan itu semakin kencang dengan keringat membanjiri keningnya.


"Halo sa-"


"Halo bu. Apa kamu tidak merindukanku?" potong Arsen menyapa sang ibu saat baru muncul di layar dengan pakaian yang minim.


Arsen menitikan air mata kala memandang wajah sang ibu yang sangat dia rindukan.


Namun sepertinya wajah yang sudah menampakkan beberapa keriput namun masih tampak cantik itu tak sedikitpun merindukannya.


"Arsen.." lirih Sheryl terkejut lantas segera mematikan sambungan telfon tersebut.


Nyeri terasa di dada Arsen kala sang ibu memperlakukannya seperti itu.


Dia lantas menghubunginya kembali dengan frustasi diiringi pecahan tangis nan sendu.


Namun tampaknya sang ibu me non aktifkan ponselnya, membuat Arsen marah. Ia berteriak lantas membanting ponselnya.

__ADS_1


"Jahaaaaaat....." raungnya dalam ruangan berukuran 4x5m itu sambil membanting apapun yang ada.


Ardy mematung di depan pintu kontrakan sang kakak.


Mendengar raungan yang terasa pilu selama hampir seharian itu membuat hatinya ikut teriris.


Apa yang direncanakan sang kakak dan ibu sambung selama ini tak ia perdulikan.


Dia hanya tetap meyakini jika ibu sambungnya yang sudah membesarkannya juga sang kakak yang sudah menjadi satu satunya teman selama ini, merupakan keluarga yang sangat menyayanginya.


"Apa kamu gak akan masuk?" tanya Millie.


Ardy menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Dia ingin memberikan waktu pada sang kakak untuk menenangkan diri.


Tak ada perasaan kecewa ataupun terkhianati oleh sang kakak.


Justru dia merasa prihatin karena sang kakak yang tengah merasa dikhianati ibu mereka.


"Awasi dia terus" titahnya pada anak buahnya.


Ardy tak ingin sang kakak melakukan hal buruk seperti menyakiti dirinya sendiri pada saat sedang terpuruk seperti ini.

__ADS_1


Ardy meraih tangan Millie lantas mengajaknya pergi.


__ADS_2