My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Balada Sate Ayam


__ADS_3

Ardy tercenung dengan tingkah tak terduga Millie.


"Maap, ga jadi..." Millie membatalkan niat dadakannya dan langsung melesat pergi membawa rasa malu tepat saat Ardy membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Tangannya bahkan sudah mengacungkan telunjuk didepan wajahnya.


"Ada apa dengannya? apa yang salah denganku? setelah melambungkanku keatas awan lalu dia seenaknya menghempaskanku ke dasar bumi. Dia.. aaarrgghh..." Ardy meninju udara dengan frustasi bertubu tubi. Sedangkan Amir tengah menikmati penderitaan sang bos yang lagi lagi dikerjai seorang gadis dewasa. Kapan lagi Amir menyaksikan penderitaan sang bos dikarenakan lawan jenis, selama ini para wanita lah yang menderita karenanya.


Sementara itu, Millie yang tengah berjalan cepat pun diliputi rasa panik.


"Gimana kalo sampe diliat sama calonnya ya lord.. bisa ada huru hara kan. Bisa bisa prahara pra-rumah tangga meletus duluan, kalo batal nikah kan..." Millie seketika menghentikan langkahnya kala terfikir akan sesuatu.


"Kan bagus tuh.." lanjutnya sambil terengah.


"Apa gue rebut aja ya?" imbuhnya lagi.


"Ah, sial. Dasar gak laku, sampe sampe mikir kesitu. Mestinya kan gue ikut bahagia kalo liat dia bahagia. Tapi..." Millie kembali melangkah dengan lesu. Entah apa yang terjadi dengannya. Sekilas tadi dia merasakan jantungnya berdegup kencang. Untuk pertama kalinya jantung itu berfungsi dengan diluar kebiasaan.


Didepannya Millie melihat penjual makanan kesukaannya.


"Bang..


sate 200 tusuk ya..." pinta Millie dengan lesu.


Kang sate sontak menoleh kearah bawah Millie. Memastikan jika wanita dengan rambut sedikit berantakan berpakaian putih celana bahan berwarna coklat susu itu masih menapak tanah.


"20 tusuk, kali neng" ralat kang sate.


"Enggak, bang. 200 beneran. Saya lagi banyak pikiran, daripada bundir mending makan sate. Diskon 50 persen ya" tawar Millie membuat dahi kang sate berkedut mengkerut.


"Neng kalo setres jangan lari kesini. Jauh jauh sana" hardik kang sate yang merasa aneh dengan sikap Millie. Jangan jangan wanita ini orang gila baru, pikirnya.


"Ya udah deh, saya bundir dulu aja. Nanti balik lagi sini. Tunggu saya ya" timpal Millie lemah.


"Eeeh.... sembarangan. Jangan gentayangin lapak saya dong neng. Iya abang buatin. Beneran nih 200 tusuk?" sergah kang sate.


Millie kembali berbalik masih dengan lemas nya ditambah dengan anggukan lemah.


"Emang punya duitnya?" lanjut kang sate yang percaya tak percaya dengan sosok wanita aneh di depannya.


Millie lantas merogoh tas tangannya asal dan memberikan 5 lembar pecahan berwarna merah tanpa ekspresi.


"Ini bukan daun kan?" tanya kang sate memastikan dengan membolak balik uang itu.

__ADS_1


Millie lantas meraih sesuatu dengan tangan kirinya kearah luar lapak lalu mengambil kembali uang yang tengah dibolak balik kang sate dan memberikan lembaran hijau sebagai gantinya.


" yaelah malah dikasih daun beneran" ketus kang sate yang lantas merebut kembali uang yang baru Millie ambil darinya.


"Kalo gini tiap hari kan bisa cepet tutupnya. Asiiik.. bisa asoy asoy an sama bebep ini mah" gumam kang sate sambil terkikik.


"Hhhh..." Millie menghela nafas kasar.


"Kang sate aja udah punya bebep.." keluh Millie nelangsa.


Mobil Ardy melaju perlahan. Diam diam mengikuti Millie dengan sengaja tak menghidupkan lampu depan mobil agar tak dicurigai menguntit.


Millie duduk di halte bus yang sudah sepi sendirian, dengan wajah murung dia mengambil 1 demi satu tusukan sate dan memakannya tanpa khawatir akan lemak dan karbon yang berasal dari daging yang menghitam karena proses pembakaran yang mungkin bisa mengganggu kesehatannya.


Sesekali tampak mengusap matanya dan lanjut memakan sate itu.


"Bos.." Amir mencegah Ardy keluar kala mata nya memberi isyarat kearah tak jauh dari keberadaan Millie.


"Sialan" desis Ardy yang lantas kembali duduk.


Seseorang tengah memantau Millie di kegelapan.


Dua orang..


Ardy dan Amir memantau pergerakan mereka yang semakin mendekat pada Millie.


Sampah tusuk sate sudah mengelilingi Millie, tampaknya dia berniat untuk benar benar menghabiskannya sendirian.


"Maju, Mir. Depan belok kanan" titah Ardy yang tak dimengerti Amir.


Dia pikir sang bos akan terus memantau gadis itu, namun ternyata dia salah.


"Si bos emang bener bener kejam" batin Amir yang lantas mengikuti instruksi Ardy.


"Stop disini. Matikan mesin" titah Amir yang keheranan dengan tingkah bos kejamnya ini.


Pasalnya mereka berhenti tepat di depan sebuah pub yang belum terlalu ramai pengunjung karena waktu masih cukup siang untuk masuk pub.


"Cius kita kesini?" tanya Amir membatin.


Ardy lantas membuka pintu dan keluar dari mobil lalu melangkah lurus kearah pub dan terlihat berbicara pada 2 orang lelaki bertubuh kekar dan memberikan sejumlah uang yang dari ketebalannya lumayan untuk melakukan liburan srlama seminggu. Ardy kemudian tak masuk ke pintu pub, namun ke celah pada sebelah pub untuk bersembunyi.

__ADS_1


Kurang lebih sudah 100 tusuk Millie melahap sate ayam kesukaannya.


Larutnya Millie dalam pikiran randomnya terganggu oleh kehadiran 2 orang lelaki yang berdiri tegap tepat dihadapannya.


"Ya elah, gak bisa apa biarin gue sendirian. Iya nanti gue bersiin ni sampah tusuk sate" ketus Millie yang merasa terganggu dengan kehadiran kedua lelaki itu.


Millie mendongak karena keluhannya tak digubris kedua orang yang menghalanginya.


Matanya seketika membola kala melihat siapa yang berdiri di depannya.


"Kalian..."


"Hehe.. gadis kecil, rupanya kamu sudah dewasa heh, bos kami pasti lebih menyukaimu" kedua lelaki itu lantas meraih dan mencengkeram lengan Millie yang langsung meronta dan berteriak. Melawan sekuat tenaga tak memperdulikan sisa sate yang jatuh ke tanah.


"Lepaaaaas...."


jleb..


Teriakan Millie disusul dengan hujaman beberapa tusukan sate pada leher salah satu dari pria itu.


"Aaargghh..." lelaki itu memegang lehernya yang mengeluarkan darah, tercenung karena terkejut dengan pergerakan Millie yang diluar perkiraan mereka. Rasa sakit dan perih membuatnya mundur beberapa langkah.


"Gadis sialan.."


buggh..


Millie memukul seorang lagi dengan tas nya yang selalu sedia batu bata untuk berjaga jaga akan terjadi hal seperti ini lagi berdasarkan pengalamannya waktu itu.


Millie lantas berlari menyusuri trotoar dan berbelok di persimpangan jalan.


Seingatnya ada sebuah pub yang selalu dijaga oleh body guard bertubuh kekar, dan Millie mengenali salah satunya.


"Gadis brengsek.. jangan lari kamu.. awas kalau kami tangkap" teriak lelaki yang kena hantaman tas berisi milik Millie yang kemudian mengejar Millie, mengabaikan rekannya yang tengah kesakitan dan bersusah payah mencabut tusukan sate di lehernya.


Tidak, dia tak boleh kembali tertangkap. Batin Millie sambil menitikan air mata.


Tak jauh dari persimpangan, tampak gedung menjulang tinggi dengan lampu terang mengelilingi gedung sehingga tampak meriah.


grepp


"Aahh.." pekik Millie terkejut karena sergapan tiba tiba yang membekap mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2