
Millie tak kuasa menahan tangisnya, tangis kebahagiaan karena telah kembali dipertemukan dengan belahan jiwanya.
Ardy enggan melepas pautan itu, sesuatu dalam dirinya tergugah untuk merasakan lebih dari sekedar penyatuan bibir.
Ardy kembali meraup bibir Millie yang baru ia rasakan dan dia ingat perasaan itu kala memaut bibirnya.
Kini Ardy ********** lembut, diselipkannya telapak tangan kebelakang tengkuk Millie agar dia bisa mengeksplore mulutnya lebih dalam.
Tak hanya itu, Ardy membalik posisi mereka menjadi memepet tubuh Millie ke tembok.
Tentu saja Millie tak diam. Dia merindukan sentuhan sang suami yang selama ini ia rindukan, namun tak mau ia lampiaskan pada siapapun.
Dan kini ******* itu berubah liar.
Millie melepas paksa jas dan kemeja Ardy, pun dengan Ardy yang membuka paksa blouse Millie hingga robek pada bagian lengannya.
Mereka tak perduli, hanya penyatuan yang ingin mereka lakukan saat ini.
Bahkan mereka tak perduli tengah berada di kantor Ardy yang sewaktu waktu bisa saja siapapun menerobos masuk.
"Enghh.. " keduanya melenguh kala pusaka itu kembali menerobos pertahanan Millie. Sesuatu yang tak pernah Ardy bayangkan akan ia rasakan dengan hilangnya ingatannya. Dia bahkan seperti kehilangan selera pada wanita.
Millie memang ajaib.
Pertemuan kembali mereka di mall kala itu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit.
"Terimakasih.. terimakasih karena telah menjaganya selama ini, dan percaya kalau aku akan kembali" ucap tulus Ardy kala merasakan milik Millie yang sempit.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin disentuh olehmu" balas Millie seraya mengecup bibirnya.
Ardy mulai bergerak karena tak kuasa menahan rasa nikmat yang membuncah dari penyatuan mereka kembali setelah 5 tahun.
tok tok tok
"Momyyy... udah beyum hukum dady nya... David yapey ini gimana nda ada yang ngasih makan huaaa..." rengekan David menyadarkan mereka jika anak mereka tengah menunggu.
Keduanya terkekeh.
"Dikit lagi sayang, biar dady kapok" balas Millie berteriak.
"Kapok hah? kamu pikir aku akan kapok?" timpal Ardy memompa lebih cepat membuat tubuh Millie menggelinjang membusungkan dadanya.
"Terus..ahh.. lebih cepaat..." racau Millie yang hampir tiba di puncak.
duarr
Keduanya mengejang bersamaan.
__ADS_1
Keduanyapun terengah diselingi saling *******.
"Belum puas" bisik Ardy.
Millie terkekeh.
"Masih banyak waktu kalo kamu pulang sekarang juga" balas Millie menggoda.
"Apa kamu yakin aku suami kamu?" pertanyaan yang ingin Ardy lontarkan sebelum melakukan penyatuan hebat itu. Namun dia urungkan karena sudah tak tahan.
Millie menatapnya lekat. Ekspresinya berubah serius lantas..
"Aww... " Ardy mengaduh mengusap hidungnya yang Millie gigit.
Setelah dipikir pikir, kenapa Millie seyakin itu kalau dia suaminya. Bagaimana jika mereka adalah orang yang berbeda. Bukankah banyak rahasia di keluarga Jordan?
Seketika otak Millie bekerja.
"Becanda, sayang. Aku yakin aku suamimu. Kalo enggak, kenapa aku tau namamu padahal kita belum pernah ketemu sebelum hari itu" bujuk Ardy merengek dan kembali memeluk Millie yang mendorong jauh tubuhnya.
"Gak lucu tau gak" cebik Millie kesal.
"Momyy.. janan diabisin dadynyaa... cepetan bawa puyaang.." David kembali berteriak mengingatkan.
"Shall we?" ajak Ardy. Dia juga ingin menghabiskan sisa waktu hari ini dengan mereka meski belum sepenuhnya ingat.
Beruntung Ardy membawa kemeja cadangan. Berjaga jaga jika hal tak terduga terjadi.
Millie memutuskan memakai kemeja dan menyuruh Ardy hanya mengenakan jas tanpa kemeja. Membuatnya semakin terlihat seksi.
Millie akan membuat seluruh wanita di negeri ini iri padanya.
"Kalian.." Mia menunjuk keduanya, menggantung kalimatnya karena tak mau mempercayai apa yang dia lihat saat ini.
Beberapa tanda kepemilikan di leher dan dada Ardy yang sedikit terpampang.
Millie melangkah pasti sambil menggandeng tangan Ardy tanpa memperdulikan keberadaan siapapun.
"Ayo jagoan, kita pulang" ajak Ardy pada David lantas menggendongnya.
Ardy memutuskan memakai mobil Millie dan meminta supirnya mengantar mereka, setelah itu sang supir diperintahkan untuk kembali ke mall mengambil mobil Ardy untuk diantarkan ke rumah Millie.
Sepanjang perjalanan, Ardy dan Millie lengket bagaikan permen karet yang menempel pada pakaian.
David sampai protes dan kesulitan memisahkan mereka berdua karena tak mau mengalah.
Akhirnya David tertidur di pangkuan Ardy dengan kaki berselonjor pada paha Millie.
__ADS_1
Millie merebahkan kepalanya pada pundak Ardy, sesekali menghidu aroma menenangkan Ardy dari ceruk lehernya.
"Apa kamu biasa seperti ini padaku?" tanya Ardy yang menyukai sikap manja Millie.
"Uhum. Aku bahkan biasa lebih dari itu" jawab Millie singkat seraya memejamkan mata, membuat sang supir menelan ludah membayangkan yang iya iya.
Saat mobil memasuki pagar yang terbuka secara otomatis dari memindai plat nomer Millie, Ardy cukup kagum akan keindahan rumah yang Millie tinggali.
Rumah 1 lantai dengan halaman yang luas dan pastinya terdapat banyak kamar.
"Apa kamu tinggal bersama keluargamu?" tanya Ardy masih menatap bangunan megah yang tampak hangat itu.
"Kami hanya tinggal berdua. Ah iya, rumah ini aku beli dari hasil menjual apartemenmu, dan sisanya ayah yang menambahkan. Katanya itung itung menyicil warisan untuk anak kita" terang Millie yang bersiap turun, namun Ardy menahannya dan menunggunya turun terlebih dahulu untuk menggendong sang anak.
"Kenapa hanya 1 lantai?" tanya Ardy kembali.
"Aku gak mau kehilangan seseorang lagi karena ketinggian" jawab Millie sendu.
Millie melangkah keluar mobil dengan meraih uluran sebelah tangan Ardy, sedang sebelah tangannya yang lain tengah menggendong David.
Ardy mendekap erat tubuh Millie kala Millie sudah berdiri tegak.
"It's okay, honey. Maaf kalau aku membuatmu takut" bisik Ardy lantas mengecup kepala Millie.
Baru melangkah ke halaman rumah nya saja Ardy merasa berada di rumah sendiri. Tak merasa asing seperti yang dia rasakan selama tinggal di tempat orang tua angkatnya.
Ardy membaringkan David di tempat tidurnya.
Lagi lagi dia kagum dengan kemandirian sang anak yang tidur terpisah dari ibunya.
Ardy mengecup lembut puncak kepala sang anak, sekaligus bersyukur jika benihnya membuahkan bibit yang unggul. Tentu saja peranan Millie yang sangat berpengaruh dengan tumbuh kembang sang anak.
"Terimakasih, nak. Kamu membawaku kembali pada ibumu" bisiknya.
Ardy menatap lukisan besar di ruang tengah. Lukisan pernikahan dirinya dengan Millie. Pantas saja sang anak sangat mengenalinya.
"Millie.. Millie.. kamu kemana a- ja" seru Arsen yang lantas terpotong kala melihat kehadiran sang adik di ruang tengah.
"Kamu.." Arsen terbata. Mencoba menolak kemungkinan besar yang pada kenyataannya memanglah terjadi.
Ardy sang adik selamat.
Dan dia kembali.
AYO, YANG BACA BANYAK TAPI PADA MALU MALU TONGOLIN JEMPOL NIH👍🏻👍🏻
__ADS_1