
Ardy menceritakan masalahnya tentang keluarganya, sampai tragedi yang merenggut nyawa sang bunda serta hancurnya rumah tangga sang kakak yang semuanya disebabkan oleh sang ayah.
Millie mendengar dengan seksama. Merasa terenyuh dengan kenyataan pahit yang juga Ardy rasakan dalam keluarganya. Ternyata memiliki keluarga pun tak seindah bayangannya.
"Jadi itulah sebabnya kenapa aku mencari tapi menghindarimu. Kamu pasti tau perangai ayahku. Dan aku tidak rela jika dia merenggutmu seperti dia merenggut kakak iparku. Parahnya, kakak iparku itu seolah menyerahkan diri, demi menyelamatkan kakakku agar bisa lepas dari cengkraman ayah. Dan setelahnya.. kakak iparku bunuh diri membawa janin yang dikandungnya. Buah cintanya bersama kakak. Dan sejak saat itu kakak ku tak pernah ditemukan. Seperti menghilang ditelan bumi.
Aku bersyukur sekaligus khawatir, apakah dia baik baik saja, atau sudah.." ucapan Ardy menggantung karena terisak.
Millie mengusap lembut punggung tangan Ardy, menyalurkan kekuatan, dan seolah berkata "Ada aku disini, dan semua akan baik baik saja".
"Aku tak bisa mengabaikanmu, saat mulai tahu kalau ayahku mulai menguntitmu lagi, dan secara kebetulan manajemen rumah sakit ini bobrok, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk bisa melindungimu lebih dekat. Dan satu hal lagi.." Ardy menjeda ucapannya karena rasa haus yang membuatnya menghentikan obrolan.
Mereka tengah makan siang di ruangan Ardy setelah Jordan sudah dipastikan benar benar keluar dari rumah sakit setelah mengunjungi Hansel tentunya.
"Paman? apa yang paman lakukan disini?" tanya Hansel terkejut dengan kunjungan tiba tiba Jordan sang paman.
Secara selama ini Jordan tak pernah mengunjungi siapapun kecuali ada maunya.
"Tentu saja menjengukmu" ucap acuh Jordan.
"Heh, apa yang paman inginkan. Paman tahu kan kalau aku tak punya kekasih" tebak Hansel to the point.
"Yah, sayang sekali kamu tak pernah punya kekasih. Lagi pula siapa yang mau dengan laki laki penyakitan sepertimu" sarkas Jordan menghentikan aktifitas Hansel membereskan barang pribadinya. Hansel memutuskan untuk pulang hari ini seperti yang disarankan dokter.
"Ya, paman benar. Tapi aku bersyukur dengan penyakit bawaanku ini. Jika tidak, mungkin aku akan berakhir seperti anak sulung paman" timpal Hansel membuat seringai mengejek di bibir Jordan surut.
"Baiklah, karena paman sudah kesini dan aku sudah boleh pulang, mungkin aku bisa numpang pulang dengan mobil paman. Kebetulan sopir pribadiku belum datang" lanjut Hansel dengan cuek.
Dia tak perduli Jordan akan melakukan sesuatu padanya. Toh hidupnya pun sudah menderita karena penyakit bawaannya itu.
"Yah, sebaiknya kamu menunggu supir mu itu. Paman ada keperluan lain" tolak Jordan lantas pergi begitu saja meninggalkan Hansel yang tersenyum sinis.
Hansel sudah sangat hafal dengan perangai Jordan sang paman yang tak pernah sekalipun berbuat baik terhadap siapapun kecuali ada maksud tertentu.
Seketika Hansel teringat dengan ucapan Millie.
__ADS_1
Hansel membenarkan ucapannya. Tidak akan ada orang baik yang nyaman dengan orang jahat. Terbukti dengan sifatnya yang pemarah dan semena mena, tidak ada yang mau dekat dengannya jika mereka tidak membutuhkan uang.
"Apaan satu hal lagi?" tanya Millie tak sabar karena Ardy malah melanjutkan makannya. Sedangkan Millie tampak tak tertarik untuk menyentuh makanan yang dipesan dari kafetaria itu.
"Bentar, makanan ini enak banget" ucap Ardy sembari melahap potongan daging steak yang rasanya tak kalah dengan yang dijual di restoran bintang 3 michelin.
"Tau seenak ini kenapa gak pesen dari kemaren kemaren, Mir?" lanjut Ardy tanpa mengalihkan fokusnya dari melahap menu makanan itu.
"Iya bos. Saya juga baru tau" timpal Amir yang ikut melahap makanannya dengan menu yang sama. Tampilan pada piring saji nya membuat Amir memesan menu yang sama, juga untuk Millie.
"Kenapa kamu gak makan? apa kamu bosan dengan steak ini?" tanya Ardy heran. Pasalnya sejak dulu jika masuk waktu makan siang, mereka selalu berebut makanan dari piring satu sama lain.
"Sebenarnya aku dulu sangat menyukainya juga" timpal Millie sedikit menjeda.
Ardy hanya mengerutkan kening tanpa menghentikan suapan demi suapan.
"Sampe mereka menemukan sejumlah bangkai tikus di dapurnya" imbuh Millie cuek membuat Ardy dan Amir seketika memuntahkan makanan mereka.
Hoek
Hoek
What a tragedy🤦🏻♀️
"Makanya kalo orang ngomong itu didengerin sampe beres" gerutu Millie sambil mengolesi perut Ardy dengan minyak kayu putih.
Ardy terkapar lemas karena mengosongkan perutnya.
"Kamu yang ngomongnya setengah setengah..hmmpp..." timpal Ardy yang lantas kembali merasakan mual.
"Aku pesenin bubur ayam, mau?" tawar Millie yang tak tega melihat wajah pias Ardy.
"Jangan dulu ngomongin makanan, plis" mohon Ardy menggelengkan kepalanya.
"Trus kamu gimana dong, lemes gini" tukas Millie khawatir. Tangannya terus mengolesi perut kotak kotak milik Ardy.
__ADS_1
"Kamu yang masak deh, biar aku yakin kalo makanannya aman" timpal Ardy lemah.
"Kerjaan saya gimana?" imbuh Millie.
"Ya ini juga kan masih kerjaan kamu. Gawat darurat. Udah cepetan, jangan sampe dehidrasi" titah Ardy yang lantas bangkit.
"Saya gimana bos?" tanya Amir yang terduduk lemas di lantai sebelah kamar mandi.
"Ya kamu ikut lah. Emang siapa yang nyupirin?" ketus Ardy.
"Kan saya sakit juga, bos" keluh Amir menghiba.
"Cemen lu. Baru gitu aja manja amat" ketus Ardy lagi.
"Non dokter aja yang nyupir ya bos. Takut oleng mobilnya" pinta Amir dibalas delikan mata Millie.
"Dia udah punya job desc sendiri. Udah jangan rewel. Nanti gaji kamu saya kasiin ke Millie kalo rewel.
Tanpa membantah lagi Amir menurut dan menjalankan mobil dengan perlahan. Menahan mati matian rasa mual yang menyerangnya.
"Enak bener tugas non dokter.. maaf ralat.. jadi bos" keluh Amir bergumam.
Pasalnya dia melihat sang bos tengah tertidur lelap di jok belakang dengan kepala berbantalkan paha Millie dan perutnya terus diusap oleh dokter cantik nan eksentrik.
"Non.. " seru Amir setengah berbisik memanggil Millie.
"Apa?" jawab Millie ketus. Matanya beralih menatap kaca spion sehingga bisa melihat Amir.
"Perut saya juga perlu diusap usap, non. Emergensi" tukas Amir dengan tak tahu malunya.
"Hmm.. mau diusap pake golok, apa parang?" timpal Millie menawarkan pilihan.
"Ya ampun serem serem pilihannya. Dokter kan gak boleh pilih pilih pasien. Kenapa non dokter pilih kasih?" gerutu Amir.
"Yee.. tergantung bayaran dong. Emang situ berani bayar berapa minta dielusin perutnya?" balas Millie.
__ADS_1
"Ck.. gini amat jadi rakjel"