
"Mau kemana kita?" tanya Ardy berbisik. Entah kenapa dia berbisik, toh mereka sedang berada di lorong yang ramai pembesuk pasien.
Millie pun bingung harus menjawab apa. Dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah sambil terus menarik tangan Ardy.
"Itu mereka" seru seseorang dari arah belakang sedikit jauh.
"Aak..." Millie memekik panik lantas menyeret Ardy untuk berlari lebih cepat.
Kali ini mereka tak boleh terpisah, apapun yang terjadi. Tekad Millie.
Mereka terus berlari mengikuti insting dan lorong menuju ke bawah dengan tangan yang terus berpegangan.
"Kemari kemari.." seru Ardy yang merasa mendapat tempat aman untuk bersembunyi sambil mengatur nafas.
Millie mengikuti arahan Ardy dengan nafas tersengal.
"Yang bener aja.." sergah Millie protes dengan berbisik.
"Kalo lari terus bakalan keliatan" jelas Ardy yang kemudian dimengerti oleh Millie.
Tanpa persetujuan Millie, Ardy menariknya masuk kedalam ruangan dengan pintu berbahan stainless bertuliskan 'Morgue' diatasnya karena menurutnya tak ada waktu untuk berfikir.
Mereka segera menempelkan punggung mereka pada tembok di sebelah pintu sambil mengamati pergerakan.
drap drap drap
Langkah kaki bersepatu yang cepat itu terdengar mendekat, lalu berhenti.
srett
Bayangan kepala seseorang tampak mengintip dari jendela pintu berbentuk lingkaran.
Sepertinya orang itu tengah mengintip ke dalam ruangan.
Millie dan Ardy reflek menahan nafas sembari merapatkan seluruh tubuh mereka pada tembok.
"Siyalan, mereka lama amat. Bisa bisa kita yang bentar lagi jadi mayat" gumam Millie dalam hati sambil menahan nafas.
Millie yang tak bisa berenang tak tahu bagaimana caranya menahan nafas dengan durasi yang cukup lama.
__ADS_1
srett
Bayangan kepala itu tampak pergi.
"Haaaaah..." Millie menghembus kasar nafasnya karena tak bisa menahan lebih lama lagi. Merasa lega karena orang yang mencari mereka tampaknya sudah pergi.
jeglek
"Heppp....." mereka kembali menarik nafas kala kedua daun pintu itu dibuka tiba tiba.
Ardy langsung memposisikan tubuhnya menjadi menutupi Millie karena pakaian hitamnya di ruangan gelap itu bisa menyamarkan tubuh mereka. Selain itu tubuh Ardy yang berada disebelah pintu akan menghalangi pintu yang dibuka lebar sehingga persembunyian mereka akan diketahui.
"Bernafaslah" bisik lirih Ardy kala mengetahui Millie menahan nafasnya lagi. Dia seolah mengatakan jika tubuhnya menjadi tameng bagi Millie agar bisa bebas bernafas.
"Orang jaman sekarang aneh aneh emang. Gak tua gak muda, em el sembarangan. Udah tau tempat keramat, malah dipake mesum" gerutu salah satu petugas yang masuk untuk mengambil brankar khusus kamar mayat.
"Polisi juga ngapain nitip mayat gituan segala disini. Bikin repot aja" lanjut petugas lainnya membantu mendorong brankar.
Millie dan Ardy bersitatap dalam jarak yang sangat dekat.
Deru nafas dan jantung yang berdegup kencang mendomonasi situasi.
"Ini tempat keramat bukan?" tanya Ardy berbisik. Jarak yang sangat dekat di ruangan yang dingin membuatnya betah menempel seperti itu.
"Kita gak jadi batu, kan?" lanjutnya.
Ardy tersenyum dengan perlakuan tiba tiba Millie.
"Kalo dilanjut bakal jadi batu" sergah Millie kala Ardy memiringkan wajah sedikit membungkuk.
"Dasar licik" desis Ardy lantas mengecup hidung Millie.
Mereka bertahan dalam posisi itu hingga para petugas itu kembali membawa jenazah yang sudah dimasukan ke dalam kantong jenazah.
Setelah para petugas pergi, Ardy mengintai dibalik jendela pintu.
Sepi
"Mill.. ayo.." seruan Ardy terpotong kala menoleh ke samping dan Millie sudah tak ada di tempat.
__ADS_1
Ardy lantas menoleh kearah belakang, tampak Millie hendak membuka sleting kantong jenazah tersebut.
"Jangan sentuh!" sergah Ardy memperingatkan.
Tangan Millie mengambang diudara.
"Nanti kena kutukan" lanjut Ardy lantas mendapat delikan mata dari Millie.
"Lihat posisi mereka" tukas Millie setelah membuka sleting kantong jenazah dan membukanya menggunakan sarung tangan karet. Tak lupa masker yang memang tersedia di ruangan itu.
Ardy mengikuti arah yang Millie perhatikan.
Sedikit bingung dengan maksud dari pertanyaaan Millie, Ardy mencoba menilik dua tubuh kaku dengan organ intim masing masing masih menyatu.
"Apa itu posisi enak?" lanjut Millie dengan intonasi suara dan ekspresi yang datar.
Ardy yang tadinya membungkuk untuk meneliti jasad seketika menegakkan tubuh sambil menyipitkan mata.
"Bener bener ngerjain tuh polisi. Tadi disuruh dimasukin ke sini, sekarang nyuruh pindahin ke sana. Kenapa gak dari awal aja dibawa kesana?" keluh petugas dari arah luar.
Millie dan Ardy panik lalu menutup kembali kantong jenazah itu. Membuka sarung tangan karet dan melemparnya ke kolong brankar lain.
"Gawat.. makanya jangan penasaran sama hubungan orang" gerutu Ardy yang bingung harus bersembunyi dimana.
Jika mereka lari ke belakang pintu pastilah tak cukup waktu karena para petugas sudah terdengar sangat dekat.
Mereka berdua bergerak panik hingga akhirnya Ardy memutuskan mengajak Millie berbaring di satu brankar dan memposisikan tubuh mereka saling berpelukan menyamping dengan seluruh tubuh ditutupi kain putih bersih yang biasanya digunakan untuk menutupi jenazah baru.
"Orang orang tadi juga ngapain mondar mandir nyariin pak presdir. Tinggal telpon aja kan beres" ucap petugas lain yang lantas membuka pintu ruang jenazah.
"Eee... tadi si Eman masukin berapa mayat, Nang?" tanya salah satu petugas pada rekannya. Tampaknya mereka tertegun diantara dua brankar dengan masing masing berisikan 2 tubuh yang menyatu.
"Lah, mana saya tahu. Udah pasti yang ini yang belum di visum" balas petugas yang ditanya lantas bergegas menarik brankar berisikan Millie dan Ardy yang saling bertanya lewat tatapan.
"Emang ni mayat mau dipisahin gitu?" lanjut penanya.
"Rencananya sih..."
sreettt..
__ADS_1
Ucapan petugas itu terpotong kala Ardy memutuskan untuk bangkit dan kabur karena mereka sudah berada di luar ruangan.
"Setaaaaan...." pekik kedua petugas terkejut dengan kebangkitan Ardy dan Millie yang bersamaan.