My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Mata - Mata


__ADS_3

"Bos, Kakak anda kabur karena lokasinya tercium ayah anda " lapor Amir sedikit panik sembari membawa spatula di tangan kanan dan ponsel di tangan kirinya, serta celemek menempel sempurna di tubuhnya.


Ardy yang tengah dielusi perutnya oleh Millie di sofa ruang tengah seketika terperanjat bangkit.


"Sialan. Apa kerja anak buah mu?" kesal Ardy yang lantas menghidupkan laptopnya dan menghubungkannya pada GPS yang ia pasang di sepeda motor sang kakak.


"Eeehh... anak buah anda bos, termasuk saya" sanggah Amir yang tak mau disalahkan.


"Kamu lagi masak apa?" tanya Millie dengan hidung mengendus.


"Innalillahi.. bakar ayam.." panik Amir yang kembali lari kearah dapur.


Millie mengikutinya sementara Ardy sibuk dengan laptopnya.


Amir mengangkat tinggi tinggi daging berwarna hitam dengan asap mengepul memenuhi dapur.


Sembari terbatuk, Millie membuka semua jendela.


uhuk uhuk uhuk


"Astaga.." Millie berjenggit kaget saat membuka jendela terakhir, muncul sosok pria tak dikenal dengan nafas terengah.


"Makasih" ucap si pria dengan wajah yang tak asing bagi Millie.


Pria itu lantas melompat masuk melalui jendela dengan tubuh penuh peluh, dan alas kaki yang super kotor membuat jejak yang sangat indah pada lantai dapur.


"E eh.. tunggu.. main masuk aja" sergah Millie menghadang langkah si pria.


"Lo gak bisa masuk sembarangan ke rumah orang" lanjutnya.


"Hhh... kumohon menyingkirlah. Aku kakak pemilik rumah ini. Jadi gak masalah aku masuk. Oke" ucap si pria dengan tenang diakhiri menepuk pucuk kepala Millie seperti pada seekor anak kucing.


"Sabodo situ siapa. Bersiin ni lantai. Tuh mulai dari jendela. Gue gak perduli situ siapa, yang penting tata krama harus dipake. Enak aja main nyelonong ngotorin rumah orang. Emang siapa yang mau bersiin, orang yang punya rumahnya juga pelit gak mau bayar pembantu buat bersih bersih" dumel Millie tanpa perduli jika dia adalah kakak Ardy yang baru diberitakan kabur.


"Tuan muda pertama?" gumam Amir kala menyadari siapa lawan berseteru Millie setelah kepulan asap menghilang.


"Tuan muda pertama.. anda kemari..." sambut Amir terharu.


"Eit.. simpen dulu melow melow-an nya, nih kalian kerjain berdua. Sebelum bersih, gak ada yang boleh keluar dapur" ketus Millie menyodorkan kain lap juga pel, lantas menutup dan mengunci pintu dapur dari dalam dengan Millie mengawasi mereka.

__ADS_1


Kedua lelaki itu saling bersitatap.


"Siapa?" tanya Arsen, kakak Ardy.


"Hhhh..." Amir menghela nafas dalam.


"NYONYA BESAR. Sekarang cepet kerjain, malah bengong" hardik Millie lantas melompat keatas meja makan lalu duduk bersila dengan kedua tangan bersidekap.


Amir dan Arsen terpaksa mengikuti perintah nyonya besar abal abalnya.


"Ibu tiri hanya cinta kepada anakmu saja.." gumam Amir bersenandung namun dapat didengar Millie.


plak


Millie melempar lap piring ke wajahnya seraya berkata ketus "Malah mewek"


Arsen merasa masalahnya seketika menguap. Dia tanpa sadar mengulum senyumnya karena perlakuan Millie yang entah siapanya Ardy namun jika tangan kanan Ardy saja tak berkutik dihadapan wanita ini, pastilah dia seorang yang spesial bagi sang adik.


"Mill.."


tok tok


"Millie.. kamu di dalem?"


tok tok tok


tok tok tok


"Buka, Mill.. kalian ngapain kunci kunci pintu segala.."


tok tok tok


Ketukan di pintu penghubung dapur dan ruang tengah terdengar semakin nyaring.


Millie memutar bola matanya malas.


"Ajudan ma juragan lebaynya gak ketulungan" gerutu Millie yang lantas melompat turun dari meja lalu berjalan kearah pintu karena ketukan telah berubah menjadi gedoran.


"Rusakin aja pintunya bang, biar aye bisa minta ganti rugi 100 juta" ketus Millie saat membukakan pintu.

__ADS_1


"Kamu ngapain berduaan di dapur? pake dikunci segala. Tau kan kalo berduaan di ruangan pasti yang ketiganya.."


"Iya setan yang ketiganya. Setan yang bikin lantai jeblok" sarkas Millie menunjuk Arsen dengan dagunya memotong keluhan Ardy.


"Kak Arsen.." lirih Ardy saat menatap Arsen yang tengah mengepel lantai yang tak kunjung bersih.


"Et et et... tunda dulu melow nya. Noh bantuin kakak lo bersiin lantai. Gimana mo bersih kalo sepatu jebloknya dipake terus" sergah Millie meraih kerah belakang Ardy yang hendak mendekati Arsen sang kakak.


"Buka" titah tegas Millie pada Arsen agar membuka sepatunya. Arsen menurut tanpa banyak protes.


"Kamu bagian nyuci sepatunya" lanjut Millie memberi titah pada Ardy.


"What?!"


"Udah gausah protes. Tunjukin bakti kamu sama kakak" ucap Millie mendorong tubuh Ardy kearah kamar mandi dengan sepatu kotor milik Arsen.


"Terus kamu ngapain?" teriak Ardy dari dalam kamar mandi tanpa menutup pintu.


"Setiap pekerjaan harus diawasi biar pada bener kerjanya. Udah terusin, malah bengong" cetus Millie yang kembali pada singgasananya diatas meja.


Ketiga lelaki itu lantas bersamaan memutar bola mata mereka.


"Dari mana kakak tahu rumah ini?" tanya Ardy saat mereka tengah menikmati makan malam yang dimasak oleh Millie. Meski menu rumahan nan sederhana, namun rasanya benar benar membuatnya serasa memiliki keluarga baru yang hangat.


"Anak buahmu yang mengawasi rumah kontrakan kakak pernah sekali waktu kakak buntuti. Hanya saja, bukan hanya kakak yang membuntutinya, tapi anak buah ayah" tukas Arsen sembari mengunyah daging ayam dengan taburan serundeng dan dicocol sambel.


"Apa? anak buah ayah? tapi.." Ardy terkejut merasa kecolongan. Mungkinkah tempat tinggalnya sudah tidak aman? setelah mengorbankan apartemen, apa dia juga harus mengorbankan rumah sederhana nan nyaman ini?


"Bos tenang saja, orang itu membuntuti kemari karena ingin pindah haluan, bos. Kami berhasil meringkusnya dan menginterogasinya. Dan sekarang dia sudah menjadi salah satu anggota kita" ucap Amir jumawa.


"Apa kamu yakin kalau dia tidak sedang me mata matai?" tanya Arsen meragukan pernyataan Amir.


Ardy mengerutkan kening. Merasa ragu juga. Secara selama ini dia merekrut orang orang ayahnya bukan karena mereka dengan sukarela bergabung, namun karena menyelamatkan mereka dari eksekusi sang ayah dan memanfaatkan dendam mereka pada mantan bos mereka dan diajak bergabung.


"Tentu saja saya yakin, bos. Kami sudah menggunakan mesen pendeteksi kebohongan" timpal Amir meyakinkan Ardy dan Arsen.


"Lalu dari mana mereka mengetahui mengenai rumah sakit yang dia beli?" Arsen kembali bertanya. Membuat tatapan Ardy menyorot tajam padanya.


Kakaknya saja yang diketahui jauh dari jangkauan radar bisa mengetahui tentang rumah sakit yang dia beli.

__ADS_1


"Eee... itu..." Amir terbata dan berkeringat hebat.


"Makanya kalo kerja yang bener" Millie menggebrak meja dan bersuara lantang, membuat ketiga lelaki penikmat masakannya berjenggit kaget.


__ADS_2