
Ardy tak bisa menahan gejolak jantungnya kala menempelkan mulutnya pada mulut Millie.
Wanita itu hanya memejamkan matanya, tampak menghayati perannya sebagai seorang pasien yang tak berdaya.
Sekali
Dua kali
Ardy melakukannya sesuai instruksi yang ia baca di modul, tak pernah ia bayangkan akan membawa jantungnya turut serta saat mempraktekannya.
Pada saat tiupan ke tiga, Millie tiba tiba memagut bibir Ardy dan tanpa sadar Ardy membalas pagutan Millie perlahan.
Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan dia lakukan dengan lawan jenis.
"Jangan ciuman"
plok
Pak Bandi menyentak sembari menggebrak meja membuat Ardy sontak berdiri tegak dan tersadar dengan perilakunya yang kelewat batas.
Tawa riuh nyaring menggema di ruang kelas yang cukup luas.
"Sialan, gue ciuman diliatin sekelas" umpat Ardy dalam hati dengan wajah memerah.
Sorak sorai para mahasiswa tak hentinya menggema. Ada yang bersorak untuk melanjutkan, ada pula yang bersorak iri.
Pak Bandi berjalan mondar mandir dengan kedua tangan bertaut dibelakang tubuhnya, menatap Ardy dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
Sedangkan Millie tengah mengulum senyumnya.
"Apa kamu akan menikmati sekaratnya pasien?" ketus pak Bandi.
__ADS_1
Ardy menggeleng cepat, tak mau di cap sebagai lelaki yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Saya hanya menikmati dia, pak" jawabnya menunjuk Millie, namun segera menutup mulutnya dengan sebelah tangan kala menyadari perkataannya sendiri yang membuat seisi kelas terbahak semakin menjadi.
Pak Bandi mendekat dan memelototinya.
"Ganti posisi" titahnya dan langsung dituruti Ardy dan Millie yang masih mempertahankan senyum dikulum nya.
"Sialan lo" desis Ardy di telinga Millie.
ppfft..
Millie sedikit menyemburkan tawanya namun berhasil ia tahan.
"Di lantai" tukas pak Bandi saat Ardy hendak merebahkan diri diatas meja.
"Hah.. dilantai?" tanya Ardy.
"Ya, kita lakukan kompresi dada. Tak mungkin Millie yang jadi korbannya bukan. Bisa kamu macem macemin lagi nanti" ucap pak Bandi diakhiri perkataan ketus karena ulah Ardy yang melenceng dari praktek.
Ardy berbaring di lantai, lalu Millie memposisikan diri berlutut disebelah bahu dan dada Ardy. Menyatukan kedua tangan dengan sebelah tangan berada diatas tangan satunya lagi, memposisikan siku lurus dengan bahu berada diatas tangan.
Millie mulai menekan dada Ardy perlahan, takut menyakitinya.
"Tekananmu kurang, Millie. Jika perlahan seperti itu pasien akan cepat mati karena jantungnya tak terpompa dengan benar. Tapi kalau terlalu kuat, kamu bisa meremukkan rusuknya. Gunakan tubuh bagian atasmu untuk memberi tanaga pada kedua tanganmu" instruksi pak Bandi diangguki Millie.
Millie mencoba sekali lagi, namun dia rasa tenaganya masih kurang kuat. Sehingga dia memutuskan memompanya lebih relax dengan merubah posisi berlututnya menjadi mengangkangi perut Ardy, lalu mencoba kembali memompa dada Ardy.
"Ahh.." terdengar ******* lembut dari Ardy membuat pak Bandi yang tengah memijat pelipisnya berkomentar.
"Jika seperti itu, kamu malah membangkitkan yang lain" celetuk pak Bandi membuat Ardy mendorong tubuh Millie ke samping, dan dia berguling lalu bangkit melepaskan diri dari situasi awkward.
__ADS_1
"Apa terasa?" tanya pak Bandi langsung kedepan wajah Ardy untuk mengejeknya.
Kepala Ardy semakin dalam menunduk karena seisi kelas tampak tak bisa menahan tawanya sambil memegangi perut mereka masing masing menertawakan sikap Ardy yang malu malu.
Suatu hal yang mungkin biasa bagi mereka, namun aneh jika Ardy yang melakukannya karena Ardy dikenal dengan anti5eks nya.
Terbukti dengan merah padamnya wajah Ardy saat ini.
tok
tok
Suara ketukan di pintu disusul kemunculan seseorang membawa sebuah boneka berukuran manusia normal.
"Maaf, pak. Saya baru menemukannya. Deby sedang dipinjam beberapa mahasiswa untuk praktik" seru orang yang membawa boneka itu dengan nafas tersengal.
"Hhh... para pemuda sekarang yang ada di otaknya cuma pelampiasan" keluh pak Bandi sambil memijat pelipis kala melihat mulut boneka itu penuh dengan cairan lengket.
"Buang boneka itu. Dipikir gampang mengajukan anggaran buat beli lagi" titah pak Bandi diakhiri gerutuan.
Sesi mata kuliah pak Bandi tidak sesuai dengan target saat berakhir.
Dan akhir sari sesi itu adalah tugas yang diberikan Bandi yang mengharuskan mereka terjun ke masyarakat untuk melakukan survey tentang gangguan pernafasan yang diderita masyarakat umumnya pada saat ini.
"Gak mau. Gue gak mau sekelompok sama dia. Mending ngerjain sendiri" tolak Ardy dengan ketus saat penentuan anggota kelompok yang mana adalah sebagian anggotanya adalah mahasiswi yang pernah beberapa kali mencoba menggodanya. Bahkan ada yang pernah menyelinap masuk ke kamar asramanya dan merayu dengan tanpa sehelai benangpun dibalik jubah tidurnya.
Kali ini Bandi memutuskan untuk memisahkan Ardy dari Millie. Bukannya dia tak tahu jika rumor mengenai pasangan Ardy dan Millie menyebar ke seluruh kampus. Hanya saja mereka membiarkannya karena tak pernah terdengar hal negatif tentang mereka. Bahkan nilai mereka dalam mata kuliah secara teori maupun praktik saling bersusulan. Bandi pikir mereka tak bisa mandiri jika terus bersama. Namun pikirnya salah ketika melihat interaksi Ardy dengan mahasiswi lain dimana keberadaan Ardy tak bisa membuat para mahasiswi menahan diri untuk tak menggodanya.
Hanya Millie yang tampak cuek dan sefrekuansi dengan Ardy. Ardy bahkan tak sungkan atau canggung kala hanya berduaan dalam satu ruangan dengan Millie. Terbukti selama hampir 1 tahun mereka sekamar tak pernah sekalipun ada hal yang disebut kesempatan dalam kesempitan.
"Setan aja kek nya males jadi yang ke tiga diantara mereka" cibir salah satu mahasiswi yang Ardy tolak.
__ADS_1
"Elu salah. Justru si Millie setannya" timpal yang lain yang senasib.
"Bener banget tuh. Tadi aja dikerjain si Millie di depan kelas, Ardy gak ngamuk tuh" ucap yang lain membenarkan.