
Amir duduk bersimpuh dengan air liur bercucuran. Mulutnya tak bisa berhenti mengunyah atau nyawanya melayang.
"Bos.." Amir mengangakan mulut sembari mengedipkan sebelah mata secara reflek karena rasa masam yang tengah menguasai mulutnya.
"Apa lagi" ketus Ardy dengan tatapan menyorot tajam, duduk di sofa sambil melipat kedua tangan di dada.
"Gak ada niat buat cuci mulut lagi, bos? kuman di mulut saya ganas ganas loh"
peletak
Ardy melempar tempat tissue ke kepala Amir, namun dia mendekat juga dan ikut memakan potongan buah kedondong untuk mencuci mulutnya yang sudah terkontaminasi.
Jika saja alkohol bukanlah cairan haram untuk diminum, sudah dipastikan akan dia gunakan seluruh stok alkohol dengan kadar 70% yang ada di rumah sakit ini untuk berkumur kumur.
Flash back on
"Kepada nona Millie.. diberitahukan kepada yang bernama nona Millie agar segera merapat ke bagian informasi" suara orang bagian informasi menggema di seluruh rumah sakit melalui pengeras suara.
"Nama lengkapnya siapa pak?" tanya petugas bagian informasi.
"Ya mana saya tau. Pokoknya kata bos presdir harus cari orang yang bernama Millie atau semua pegawai di rumah sakit ini dipecat" ancam Amir membuat sang petugas mendelik sebal. Kenapa harus selalu pemecatan sebagai ancaman. Bahkan dia yang tak tahu menahu tentang masalah presdir baru nya pun kenapa harus ikut terseret ancaman.
"Boleh, pak. Pecat aja semua. Biar bapak sama bos bapak yang ngurusin semua pasien yang ada" timpal petugas informasi membuat Amir tak bisa berkata kata.
Bagaimana cara si bos mengancam orang orang hingga mereka tunduk? pikir Amir.
"Kamu.. " rahang Amir mengeras lantas melakukan hal yang tak terduga.
__ADS_1
"Kamu tolonglah saya.. nyawa saya terancam kalo gak bisa nemuin orang itu. Saya belum menikah dan ingin merasakan indahnya berkeluarga.. saya mohon bantu saya.." Amir berlutut dengan sebelah kakinya seraya menggenggam tangan sang petugas sambil memohon meminta belas kasihan.
"Ekhem.. buru buru disuruh dateng kesini cuma buat jadi saksi lamaran? ceka ceka cekaaa..." entah sejak kapan Millie menyaksikan drama Amir. Yang pasti dia merasa sangat terhinakan karena belum ada yang bersikap romantis padanya.
Ada apa dengan para pria di dunia ini.
Ya sebenarnya Millie yang memilih tak meladeni dan menolak untuk didekati para lelaki penggombal.
Termasuk Hansel yang terakhir kali mencoba merayunya untuk menikahinya.
Oh tidak semudah itu Ferguso. Baru ketemu langsung main nikah aja. Bagaimana kalau lelaki itu ternyata biang kerak. No no.. Millie tak mudah percaya dengan pria.
Hanya Ardy yang dia percaya untuk menyentuhnya suatu saat dan dia jadikan teman hidup selamanya.
Namun mengingat status Ardy kini, entahlah. Masih adakah sisa lelaki baik dan polos untuknya.
"Nona Gumy, untunglah anda datang" Amir berpindah posisi menghadap Millie dan hendak meraih tangannya.
Baru memohon pada wanita lain kini memohon padanya, pikir Millie.
"Non Gumy, anda harus menolong saya. Ini masalah hidup dan mati. Tuan presdir.."
"Ada apa dengan dia?" potong Millie dengan datar.
"Beliau meminta saya mencari orang yang bernama Millie. Atau saya akan digantung kalo gak nemu orangnya" imbuh Amir memelas.
Millie menahan tawanya.
__ADS_1
"Sudah kamu cari di bagian laundry?" tanya Millie mempertahankan ekspresi dinginnya.
Millie yakin Ardy menginginkan berkas asli dari salinan yang dia berikan tadi.
Enak saja dapet gampangnya. Kalo butuh ya harus berusaha keras. Batin Millie yang kesal karena melihat pemandangan menyakitkan di ruangan Ardy.
"Laundry? apa beliau ada affair dengan petugas laundry?" gumam Amir terkejut. Lebih tepatnya merasa shock jika memang seperti itu kenyataannya.
Plakk
"Berenti mikir yang enggak enggak. Tanya kesana aja, napa. Udah sukur dikasih petunjuk" sarkas Millie sambil menampar lengan Amir.
"Oh, i.. iya.. makasih petunjuknya, non" ucap Amir terbata. Masih shock sebelum mengetahui fakta.
Amir berlalu kearah lantai basement 2. Lantai paling dasar dari bangunan rumah sakit ini yang mana adalah tempat ruang laundry berada.
Mobilitas petugas laundry sangatlah cepat. Amir merasa bingung harus bertanya pada siapa karena semua pekerja berpakaian putih dengan penutup kepala dan masker berlalu lalang dengan gesitnya.
"Per.. permi.." Amir berusaha menyapa orang yang melewatinya bergantian. Namun tampaknya mereka tengah serius mengerjakan tugas mereka bak robot.
"Permisi, tuan. Anda menghalangi aktifitas kami" tegur salah satu petugas dari arah belakang Amir sembari menahan box besar berisi kain berwarna putih.
Amir berjenggit kaget namun merasa mendapat kesempatan.
"Ah, maaf. Bisa saya minta bantuan anda?" tanya Amir pada wanita paruh baya yang hendak mendorong kembali box itu kearah dalam. Namun Amir dengan sigap membantunya mendorong sembari mencari informasi.
"Bantuan apa? apa anda minta di laundry kan pakaian anda yang terkena permen karet?" tebak si petugas yang seketika dijawab gelengan kepala dan kibasan tangan.
__ADS_1
"Bu.. bukan.. saya kesini cari orang. Barangkali anda kenal dengan Millie, bisakah saya bertemu dengannya?" tanya Amir to the point.
"Millie?"