
"Momy... momy..." racau David dalam tidurnya. Millie terbangun dan terkejut kala menyadari suhu tubuh David sangat tinggi.
"Ya ampun, kamu demam nak" gumam Millie panik. Sebelumnya David hanya demam biasa tak pernah setinggi ini.
"39,7" gumamnya membaca hasil pengukuran suhu pada thermometer digitalnya.
Millie segera membuka seluruh pakaian David lantas mengambil kantung kompres lalu diisi dengan es batu.
Millie berlari kesana kemari dengan terburu buru.
Keringat bermunculan di kepalanya turun ke pelipis.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Millie segera meletakkan kantung kompres ke ketiak dan ************ sang anak, mencegahnya untuk tak kejang kejang karena tingginya suhu tubuh.
"Ayolah Arsen.. angkat telfonnya.." gumamnya sambil bersiap berganti pakaian yang lebih pantas untuk ya dipakai ke rumah sakit karena sebelumnya dia mengenakan gaun malam panjang berbahan satin.
"Persetan denganmu. Aku akan membawanya sendiri" kesal Millie karena Arsen tak kunjung mengangkatnya telfonnya.
"Bertahanlah, sayang. Jangan tinggalin momy" ucap Millie menitikan air mata, mengecup wajah dan mengangkat tubuh lemah itu setelah dibungkus selimut dengan kompres es batu masih ia letakkan di lipatan tubuh sang anak.
"Momy.. dady.. aku mau dady, mom.." racau David lagi di jok belakang.
__ADS_1
Millie menolehnya sekilas lalu kembali fokus ke jalanan yang lengang.
Air mata sudah tak terbendung lagi.
Millie menangis tersedu sepanjang perjalanan. Memikirkan apa anak itu juga melihat sosok yang ia sangkakan hingga menjadi seperti ini. Apa benar di dunia ini ada orang yang terlahir begitu mirip selain saudara kembar.
Atau itu memanglah dia.
Pikiran pikiran itu berkecamuk sepanjang jalan, menemaninya hingga ke pelataran rumah sakit.
"Dokter gumy? kenapa, ada apa?" tanya petugas UGD kala melihat Millie turun dengan tergesa dan panik lantas membuka pintu belakang mobil lalu membopong tubuh lemah sang anak.
"Dia demam tinggi" jawab singkat Millie sambil berlari membopong sang anak kearah UGD. Paramedis yang bertugas segera menyiapkan segala sesuatunya.
Dengan berat hati Millie menyerahkannya dan mempercayakannya pada mereka.
David pastilah harus diinfus, dan dia tak tega melakukannya pada anaknya sendiri.
Dengan gusar dan tangan yang bergetar, Millie berjalan mondar mandir di depan ruangan.
Sesekali menggigit kepalan tangannya dan mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Ya tuhan, tolong selamatkan dia. Jangan ambil dia juga dariku" ucapnya nya lirih dalam do'a.
30 menit berlalu, petugas pun keluar dan memberikan keterangan.
"Sudah tenang, dok. Putra anda hanya kelelahan" ucap petugas yang mana adalah dokter junior di rumah sakit itu.
"Anda sudah bisa memindahkannya ke ruang rawat anak" lanjutnya setelah melihat kelegaan di wajah Millie.
"Terimakasih.. terimakasih..." ucapnya yang lantas tergugu.
Tak bisa ia bayangkan jika harus kehilangan satu satunya alasan dia hidup.
Petugas itu lantas menepuk nepuk punggungnya untuk menenangkannya.
"Sst.. jangan modus kamu" bisik rekannya pada dokter junior yang mana adalah seorang laki laki muda dan masih lajang.
Dia memang terkenal tertarik pada Millie. Namun tentu saja hal itu hanya menjadi rahasia diantara para pegawai.
"Berisik, lo" isyarat yang ia tunjukkan dengan bahasa bibirnya.
"Dia udah tenang, gak pa pa, aku bisa sendiri... Kamu juga besok harus kerja. Iya.. bye.." ucap Millie pada sambungan telfonnya.
__ADS_1
Arsen menelfonnya balik karena tadi tak sempat mengangkat alasannya adalah sedang di kamar mandi dan tak mendengar suara notifikasi sebab ponselnya ia setel dalam mode senyap.