
"Gak pa pa kali sandiwaranya diterusin di rumah" goda Arsen mencomot perkedel jagung kesukaan David.
"Idih.. ogah. Urusin tuh nenek lampir, gada kerjaan apa dia tiap hari neror ke rumah sakit mulu" ketus Millie mendorong jauh tubuh Arsen yang sengaja berpura pura mengambil piring bagiannya melewati tubuh Millie. Padahal dia bisa berjalan mengitari meja makan untuk duduk di tempat yang seharusnya.
"Kamu kasih suntik mati aja. Kan beres" jawab enteng Arsen sambil mengunyah perkedel jagung.
Terhitung sudah 5 tahun sejak kepergian Ardy untuk selamanya, Millie membesarkan anak yang dikandungnya dari benih Ardy seorang diri.
Dia bahkan menolak ditemani ibu Ardina karena ingin puas merawat sang anak, buah cintanya dengan sang suami.
Bukan karena apa, dia ingin membiasakan mengurus segala sesuatunya seorang diri. Selain itu, bujukan sang mantan mertua untuk membuka diri pada pria lain membuatnya jengah.
Tentu saja Ardina membujuknya untuk membuka hati pada Arsen yang kini dipercaya Jordan untuk mengurus perusahaan menggantikan posisi Ardy.
Dan tentu saja rumah sakit, Millie, yang menanganinya karena itu adalah satu satunya usaha peninggalan Ardy tanpa ada campur tangan Jordan.
"Ish.. papaa.. janan nomong mati matian.." pekik David memprotes ucapan Arsen.
David memang tak suka jika seseorang membicarakan tentang kematian. Mengingatkannya akan penderitaan sang ibu yang selalu bermimpi buruk saat malam. Yaitu saat genggaman tangan mereka terlepas tanpa sengaja kala tidur.
__ADS_1
"Maaf maaf, jagoan.. papa lupa" ujar Arsen meminta maaf atas kekhilafannya dalam berucap.
"Ah iya, nanti sore papa jemput ya. Kita main ke mall" bujuk Arsen pada David.
"Asiiiik... momy jemput juga ya pa ya" girang David memekik dan bertepuk tangan dengan antusias.
"Launching produknya hari ini?" tanya Millie.
"He em. Kan waktu minggu kemaren aku udah bilang. Dan kamu juga harus hadir sebagai perwakilan salah satu rumah sakit yang menandatangani perjanjian produk kesehatan kulit untuk dipakai sebagai produk rekomendasi rumah sakit. Jangan lupa dandan yang cantik" bisiknya pada akhir kalimat.
"Ogah ah. Lagian kalo aku dateng sebagai perwakilan salah satu rumah sakit, siapa yang jagain David? kamu kan sibuk ngurusin acara. Gak mungkin juga minta tolong sama ibu. Bisa bisa encoknya kumat.
Jangan sebut Ningsih. Dia udah kerepotan sama anak kembar 3 nya. Gatau deh gimana caranya si Amir bikin jackpot gitu" oceh Millie membuat Arsen yang sudah membuka mulut untuk menyampaikan pemikirannya kembali mengatupkan mulutnya.
Bocah itu mendambakan berjalan jalan dengan kedua orang tuanya.
Setidaknya salah satunya karena David sudah mengerti jika ayah kandungnya sudah pergi untuk selamanya.
Millie menatap iba pada sang anak yang tengah menunduk.
__ADS_1
David tahu kalau momy nya tak pernah mau mengajaknya jalan jalan ke luar rumah.
Pernah suatu saat Millie histeris mengejar seorang lelaki yang berperawakan seperti dady nya yang berada dalam lukisan.
David tak mau melihat kesedihan di mata sang momy lagi, jadi dia memutuskan tak pernah merengek padanya dan memilih menuruti sang momy untuk menghabiskan waktu liburnya berdua di rumah saja.
"Hhhh... baiklah, kita jalan jalan" akhirnya Millie memutuskan untuk mengatasi traumanya.
Rasa bersalahnya yang teramat besar membuatnya terpuruk. Dan itu mengorbankan kebahagiaan sang anak. Jadi dia memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri.
"Benelan, momy? Momy mau ajak David jalan jalan?" tanya David tak percaya. Matanya berkaca kaca menatap sang momy yang kini berlutut di depannya seraya menggenggam kedua tangannya.
"Maafin momy ya sayang. Kamu menderita karena momy egois" ucap lembut Millie mengusap sebelah pipi chubby David.
Kepala David menggeleng cepat seraya memajukan bibir bawahnya karena menahan tangis.
"Momy ga salah. David ga mau bikin momy sedih" ucap bocah super pengertian itu seraya menitikan air mata yang langsung diusapnya agar Millie tak melihatnya sedih.
Millie langsung memeluk tubuh mungil itu.
__ADS_1
"Ay yav yu (I love you), momy" ungkap David mencicit.
"I love you more" balas Millie.