
"Kamu tidak adil, Jordan. Bagaimana dengan kedua kakak Ardy? mereka lebih matang usianya" sanggah mantan adik ipar Jordan yang haus akan kekuasaan.
"Lagi pula Ardy terlahir dari wanita yang tidak sah secara negara sebagai istrimu" lanjutnya berusaha menjatuhkan nama Ardy sembari mendelik kearah Ardina. Dan hal itu di angguki hampir seluruh anggota yang duduk hadir dalam makan malam tersebut. Ardina menunduk karena kata kata sarkas yang memojokkannya.
"Hendrik? aku bahkan tak tahu dia ada dimana. Apa kalian menyembunyikannya dariku?" balas Jordan bertanya balik dengan senyum miring tersungging membuat Herman sang adik ipar gelagapan.
"Jika saja Hendrik dan Arsen mau belajar mengelola perusahaan, mungkin mereka saat ini menduduki jabatan kalian, bukan?"
*FYI : dari awal othor udah kasih tau kalo Ardy punya 2 kakak ya mak👌
Sementara keluarga besar tengah sibuk membahas tentang posisi di perusahaan, Ardy dengan entengnya turun tak mau ikut bergelut dengan para penjilat. Biarlah sang ayah yang mengurusnya.
"Mir, Millie mana?" tanya Ardy yang turun dengan hanya mengenakan kaus singlet dan celana piyama panjang dengan rambut acak acakan dan garis bantal di pipinya.
"Eee.. nyonya Millie ke dapur, bos" jawab Amir yang tertegun dengan kondisi bos nya yang tampaknya terbangun karena tak menemukan induk semang di sampingnya.
Ardy dengan wajah kesal dan mengantuk pun melangkahkan kakinya kearah dapur.
"Hahahaha..... ****** eh ******.." tawa Millie terpotong karena rasa terkejutnya yang dipeluk tiba tiba dari belakang oleh Ardy dan menumpu kan dagu nya pada bahu sang istri.
Millie tengah bercanda dengan para kru yang menunggu makan malam sekaligus rapat keluarga selesai.
Para kru itu senyam senyum kala melihat tingkah manja Ardy.
"Lagi ngomongin apaan, yang?" tanya Ardy dengan serak.
"Kenapa bangun?" Millie bertanya balik sambil mengusap sebelah pipi Ardy.
Para kru tak mau menjadi nyamuk maka mereka memilih pamit pergi ke taman belakang dapur.
"Kamunya gak ada. Dingin, gak ada yang ngelonin" jawab Ardy sambil mendusel hidungnya pada ceruk leher Millie membuatnya mengedikkan bahu karena desiran yang timbul kala Ardy melakukan itu.
__ADS_1
Millie membalikan tubuhnya menghadap Ardy lalu mengalungkan kedua lengannya pada leher sang suami. Sesekali merapikan anak rambut Ardy yang berantakan Millie tersenyum seraya menatap lekat mata sayu itu.
"Aku haus sayang, kamu kenyotin mulu jadi harus diisi ulang" ucapnya genit lantas mengecup singkat bibirnya.
"Ya udah, yuk. aku mo mimi lagi" timpal Ardy lantas menarik tangan Millie sembari tersenyum nakal.
klontrang..
"Maaf, kalengnya licin" ucap Amir yang tiba tiba entah sengaja atau tidak menjatuhkan kaleng untuk diisi dengan kacang.
"Elo bener bener minta di mutilasi ya" geram Millie yang terkejut dengan aksi tiba tiba Amir. Millie lantas meraih kaleng itu lalu melemparkan pada Amir seraya merebut bungkusan kacang.
"Lagian ni kacang punya gue, makan nih kaleng" gemasnya dengan ketus membuat Ardy terkekeh dengan tingkah ajudan dan istrinya yang bagaikan tom en jeri.
Millie lantas melompat ke pelukan Ardy agar bisa dibopong ke kamar untuk memprovokasi Amir.
"Ningsiiih..." pekik Millie memanggil kru yang tadi diajaknya bersenda gurau.
"Kelonin nih bujang lapuk. Bawaannya ngiri mulu" pinta Millie dengan ketus sembari mengejek Amir dengan memeletkan lidah padanya.
"Ayooo ke kamaaar.. gentian ngempeng nyaa..." pinta Millie dengan manja pada Ardy.
🙄🙄🙄
"Eeehh... akang.. mau dikelonin? hayu atuuh..." Ningsih menawarkan dengan wajah memerah.
Amir meliriknya sekilas lantas mendelik dan memalingkan wajah sembari menghela nafas kasar.
"Udah ikhlasin aja, Kang. Udah jadi milik orang lain. Mending mup on nyari yang lebih seger" lanjut Ningsih sedikit berteriak.
Tanpa Ningsih duga, Amir menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Iya saya tau dari mata akang" ujar Ningsih seolah menjawab pertanyaan yang akan dilayangkan Amir.
"Ah, itu mereka. Ardy.. kemari sebentar" seru Jordan kala melihat Ardy tengah membopong Millie keluar dari dapur menuju tangga.
Ardy dan Millie kompak mengernyit. Lantas melangkahkan kakinya mendekat pada meja konfrensi tanpa menurunkan Millie.
Jordan tersenyum dengan tingkah anak bungsunya.
"Kualat kamu, Ardy" batin Jordan yang mengejek sang anak yang kini tengah bucin setengah hidup tak mau lepas dari sang betina.
"Ada perlu apa, Yah? maaf kita lelah" ucap Ardy meminta maaf pada anggota keluarga yang duduk mengelilingi meja besar dengan berbagai hidangan mewah memenuhinya.
"Lihatlah pemandangan pengantin yang saling mencintai ini, sangat berbeda dengan kita kita dulu saat dijodohkan bukan?" ucap Jordan menyindir anggota keluarga besarnya sembari tertawa menepuk pundak sang anak.
Ardy hanya bergeming tak menunjukkan ekspresi apapun sedangkan Millie tengah menyembunyikan wajahnya, merasa malu karena tingkah kekanakannya yang bermanja pada sang suami dilihat semua keluarga besar yang sedari awal menatap sinis padanya.
"Ayah hanya menyampaikan, mulai minggu depan, tentunya setelah kepulangan kalian dari bulan madu, ayah akan menyerahkan perusahaan dibawah kepemimpinanmu, lalu sebaiknya rumah sakit biar istrimu yang mengurus. Bukankah itu sesuai dengan profesinya?" jelas Jordan sekaligus memberi pengumuman pada keluarga besarnya atas pencapaian anak yang mereka benci selama ini.
"Tak masalah. Aku bisa mengatasinya sekaligus. Lagi pula jika istriku juga sibuk mengurusi perusahaan, lalu siapa yang mengurusi rumah tangga kami? Ayah sedang tidak merencanakan sesuatu yang licik bukan?" tembak Ardy yang sebenarnya menohok para keluarga dari ayah dan ibu Sheryl.
Ardy melihat gelagat itu dari para gadis yang duduk di sebelah masing masing dari mereka yang menatap lapar padanya.
"Haha... tentu saja tidak, nak. Ayah sudah bertobat. Kini ayah punya ibumu sebagai pawang. Baiklah jika itu keputusanmu, maka rapat dewan direksi akan kita lakukan seminggu lagi. Sana, beristirahatlah" Jordan menepuk bahu Ardy sekali lagi dan mempersilahkan pasangan kasmaran itu untuk menikmati malam mereka.
Ardy sedikit menunduk sebagai tanda pamit pada anggota keluarga besar yang sedari dulu tak pernah menganggapnya ada.
"Serem ya, banyak wewe gombel" bisik Millie setengah menggoda Ardy untuk memanasi para mahluk jadi jadian yang tengah mengincar suaminya itu.
"Tenang aja. Aku punya jimat penangkal mahluk tak halus" balas Ardy berbisik dilanjut menggigit daun telinga Millie membuatnya memekik.
"Aaw.. geli tau.." protesnya manja dan sengaja sedikit lebih kencang agar para mahluk jadi jadian itu panas, se-panas panasnya melebihi panas yang ada.
__ADS_1