
Tok tok
..........
Tok tok
..........
Suara ketukan pada pintu tak mendapat respon dari penghuni.
Amir yang mengerutkan dahi merasa dilema.
"Kalo masuk, takut mergokin si bos lagi.. ah.. emang si bos sebejat itu? kalo gak masuk, ini informasi penting, si bos pasti ngamuk kalo gak segera disampaikan" monolog Amir bimbang.
Akhirnya dia memutuskan kembali mencoba mengetuk.
Tok tok
"Tuan, bolehkah saya masuk?" seru Amir.
Nihil
Tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Amir memutuskan untuk masuk. Sabodo dengan amukan sang bos, karena apa yang akan dia sampaikan lebih penting dari amarah bos nya itu.
klek
"Bos, maaf..."
degg
Seketika Amir merasa menyesal memaksakan diri untuk masuk. Pasalnya dia harus melihat pemandangan tragis dari seorang bos yang selama ini menjadi panutannya.
Bagaimana tidak, Ardy tengah tersenyum aneh sendiri di kursi kebesarannya, kursi yang ia goyangkan ke kiri dan ke kanan dengan tangan saling bertaut dan sesekali menyandarkan kepalanya.
"Dari mana senyum itu muncul.. eh.. apa itu beneran senyum? kok ngeri ya.." monolog Amir dalam hati dengan sikap waspada. Jangan sampai dia kecolongan karena ekspresi tak biasa dari sang bos.
"Hahahaha....." Amir berjenggit terkejut kala Ardy tiba tiba tertawa nyaring.
"Bos.. kesurupan siapa bos?" tanya Amir dengan penuh kehati hatian.
"Eh, ada kamu, Mir. Kenapa? apa ada hal penting?" Ardy tak menggubris pertanyaan Amir dan tetap mempertahankan senyumnya.
"Bos.. i.. iya.. apa.. apa bisa bos gak.. senyum?" pinta Amir sembari bergidik ngeri. Sungguh sikap Ardy saat ini membuat bulu kuduk nya berdiri.
"Ah.. kamu bisa aja. Kemarilah, ada hal penting apa?" lanjut Ardy dengan ramah.
Bolehkah Amir kabur saat ini juga?
Sebelum mahluk yang menguasai tubuh sang bos menerkamnya hidup hidup.
__ADS_1
"Apa kamu sudah bosan hidup?" senyum aneh itu kini menjadi seringai mematikan.
"Nah ini baru bos.
Jadi begini, orang orangku membuntuti Fredi. Dan ternyata ayah anda tak main main kala orang orang nya tak berhasil menjalankan perintahnya. Beruntung kita bergerak cepat tempo hari dengan menyelamatkan anak dan istrinya. Dan sekarang mereka telah berkumpul kembali, tuan. Berkat intuisi anda, Fredi bersedia mendedikasikan hidupnya untuk mendukung anda. Tapi.." kalimatnya dijeda.
"Kenapa?" tanya Ardy yang tak suka dengan kebiasaan ajudannya ini.
"Saat ini Fredi lumpuh. Dia ditemukan bergelantungan di jurang saat ayah anda membuangnya. Dia berhasil bertahan, namun kakinya remuk" lanjut Amir sendu. Tak bisa ia bayangkan jika dia berada dalam kondisi seperti itu. Akankah dia mampu bertahan?
"Hmm.. kita buat dia berjalan kembali. Setidaknya dia harus membalas dendam, bukan" tukas Ardy dengan tatapan menyorot tajam.
Amir bergeming. Inilah sosok kejam yang dia kagumi.
"Apa kamu tau, berapa lama wanita hamil sampai melahirkan?" tanya Ardy dengan tatapan menerawang.
"Mmm.. bukankah 9 bulan 2 minggu, kurang lebih"
"Tepat sekali.. dasar idiot.. dia tak menyadari kalo Millie-ku sedang mengerjainya hahhaa..." Ardy kembali pada mode mengerikannya.
Sedangkan Amir kembali pada mode shock nya, dan dia memutuskan untuk perlahan mundur sebelum sesuatu yang lebih mengerikan terjadi padanya.
"Hahahahahhaha......" tawa nyaring yang menggema di seluruh ruangan membuat langkah Amir dipercepat.
"Gawat... ternyata rumah sakit ini cukup angker" gumam Amir dibalik pintu dengan punggung bersandar.
Dia lantas kembali ke meja nya dengan rasa was was.
Peluh bercucuran mengiringi pekerjaannya. Tak lupa mantra pengusir roh jahat agar tak menghampirinya dengan kepala selalu menoleh ke segala arah untuk selalu memastikan keadaan aman terkendali.
"Aaaaa....."
pekik Amir histeris kala mendapati sosok wanita dengan gaun putih dengan rambut panjang tergerai berdiri dihadapan meja dengan ekspresi sama terkejutnya.
"Ekhem.. apa pak dirut ada? tolong sampaikan, Milea, putri Handoko ingin bertemu. Dan ini bersifat 'Urgent'" tekan Milea dengan sikap angkuh. Milea adalah anak dari dirut yang sebelumnya.
"Ah, b.. baik.. tunggu sebentar" tukas Amir sedikit terbata karena efek terkejutnya.
"Tuan.. ada nona Milea ingin bertemu" seru Amir dari balik pintu. Dia tak berani mengetuk dan masuk karena trauma akan pemandangan yang baru ditampilkan bos nya.
"Suruh masuk" titah Ardy berseru dari dalam ruangan.
"Silahkan, nona" Amir membuka kan pintu dan kembali menutupnya namun tak ia rapatkan. Dia selalu ingat pesan sang bos agar selalu waspada terhadap tamu wanita yang selalu berpura pura meng atas namakan bisnis, padahal ada udang dibalik ramen.
"Tunggu.. namanya.. bukankah si bos sempat meyebut nama itu?" Amir menggumam bertanya pada diri sendiri. Menduga duga apakah ingatannya tak menipunya.
"Mil.. Mil.. Milea kah yang bos maksud?
__ADS_1
Apa bos memang ada hubungan spesial dengan nona muda tadi?
Tapi sejak kapan?" Amir terus bertanya pada diri sendiri sembari melangkah kembali ke mejanya.
"Aaaaaa...."
Amir kembali memekik terkejut dengan sosok lain dihadapannya.
"Segitu amat senengnya liat saya" tukas Millie santai sambil menggenggam stik loli.
"N.. non dokter.. hhh... non ampir bikin saya masuk IGDðŸ˜" keluh Amir hampir menangis.
"Baru IGD bang, belom kamar jenazah" timpal Millie dengan acuh. Millie lantas mengulum permen loli sembari melangkah kearah ruangan Ardy.
"E eh.. non, mau kemana?" sergah Amir sembari melangkah kearah pintu, menghadangnya agar tak sembarangan masuk.
"Ya ketemu bos kamu, lah. Emang mau main engklek" tukas Millie ketus. Dia tak suka jika seseorang mencegahnya menemui Ardy. Siapapun orangnya.
"Tapi anda belum bikin janji. Selain itu pak presdir sedang ada tamu. Tidak sopan bukan kalau anda langsung masuk" timpal Amir kembali mencegah Millie agar tak bertingkah seenaknya.
"Kamu bener. Tumben pinter"
"............"
"Emang siapa tamunya?" Millie lanjut bertanya. Kini segala sesuatu tentang Ardy membuatnya penasaran.
"Itu.. sepertinya kekasih bos" jawab Amir ragu, membuat Millie seketika tersadar jika Ardy sudah tak sendiri.
Bahkan manisnya permen loli kini berasa pahit.
"Aahhh.. sakiit..." pekik seorang wanita dari arah ruangan membuat kedua kepala menoleh bersamaan dengan pikiran yang.. mungkin sama.
glek
"Gilak, si bos mainnya garang. Gak kebayang lagi diapain tuh cewek dah lama gak ketemu" batin Amir menerka.
"Depit main gila sama cewek? apa dia udah berubah?" keluh Millie dalam hati. Ada perasaan kecewa.
Tentu saja kecewa
Dia pikir Ardy orang yang berbeda dengan lelaki lain yang pada umumnya selalu mendewakan kenikmatan dunia yang sesaat.
Untuk itulah Millie menjaga mahkotanya untuk dia hadiahkan padanya saat Millie berhasil membuat Ardy menikahinya.
Dengan kompak perlahan mereka mendekat kearah pintu. Tak bisa menahan ke kepo annya.
"Bisakah kamu membiarkanku bekerja dengan tenang?" suara Ardy terdengar tegas.
__ADS_1
"Tapi.. ahhh..." wanita itu kembali merintih.
Air mata menggenang di pelupuk Millie. Tak rela jika sang sahabat berubah bejat.