My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Mengulur Waktu


__ADS_3

Brakk


Ajudan Jordan membuka pintu ruangan dengan kasar membuat penghuninya terkesiap.


Dengan langkah pasti dan sikap angkuh Jordan memasuki ruangan. Namun langkahnya terhenti sebelum sampai di depan meja kebesaran.


"Panggil atasanmu" titah Jordan pada orang yang duduk di kursi kebesaran dengan papan nama bertuliskan 'David Michael / Presiden Direktur' bertengger diatas meja.


"Maksud anda siapa?" tanya sekertaris ber gender pria.


"Heh.. kalian jangan sok berpura pura. Kami tahu kalau kalian menyembunyikan atasan kalian" sergah ajudan Jordan.


"Maaf, jika yang kalian maksud adalah presdir rumah sakit ini, maka kalian sedang berhadapan dengannya. Namun jika bukan beliau yang kalian maksud, sebaiknya kalian mencarinya ditempat lain" tegas sang sekertaris yang lantas memanggil beberapa body guard melalui intercom "Keamanan, tolong di ruang presdir".


Selang beberapa menit, datanglah beberapa orang berperawakan tinggi nan kekar memenuhi ruangan dan bersiap mengamankan.


Jordan cukup takjub dengan persiapan yang Ardy lakukan.


"Heh.. hentikan sandiwara kalian. Apa kalian tidak tahu tentang geng Red Fox? jangan main main karena kalian sedang berurusan dengan ketuanya" ancam ajudan Jordan dengan pongahnya.


Lelaki yang duduk di kursi kebesaran itu mengerutkan dahi lantas menautkan kesepuluh jarinya seraya berkata "Kalau begitu anda masuk sarang lawan. Kebetulan sekali kami mengincar ketua geng kalian dan kalian dengan baik hati menyerahkan diri".


Trek


Lelaki itu menjentikkan jari lalu para anggota lain berdatangan lebih banyak memenuhi ruangan. Bahkan di luar ruangan pun penuh dengan anggota lain yang bersiap dengan senjata.


Ardy menyeringai dibalik celah pintu melihat rencananya berhasil membuat sang ayah berpikir seribu kali untuk mengintainya di rumah sakit ini.


"Cemen lu" ejek Millie berbisik. Membuat seringaian itu surut.


Jangan tanya dengan reaksi Amir yang mati matian menahan tawa agar tak bersuara. Bisa mati betulan dia jikalau hal itu terjadi.


Jordan tertegun, wajahnya berubah pucat kala mengetahui kenyataan jika mereka kecolongan informasi.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan selama ini. Kenapa hal ini tak kalian selidiki?" tanya Jordan pada ajudan mendesis. Dia bersumpah akan mengeksekusi sang ajudan jika bisa keluar dari tempat itu hidup hidup.


"M.. maaf bos.. mereka.. mereka tak pernah terlihat berkeliaran disekitar rumah sakit ini.." ucap sang ajudan terbata. Dia tahu nyawanya terancam, entah itu oleh musuhbebuyutan sang bos, maupun oleh bos nya sekalipun jika mereka berhasil keluar dengan selamat.


"Hehehe.. tuan.. Jordan.. bukan? kemampuanmu mengintai seseorang menurun ternyata" cibir Anton yang mana adalah bayangan Ardy dalam menjalankan geng bawah tanah Black Hawk, musuh bebuyutan Red Fox- nya Jordan.


Ardy diam diam membentuk organisasi saingan sang ayah. Beberapa diantaranya merupakan mantan pengikut sang ayah yang selamat dari eksekusi hukuman mati.


Bermodalkan dendam para mantan pengikutnya, Ardy mempunyai informasi vital dari organisasi sang ayah yang tidak diketahuinya.


"Apa yang kamu lakukan dengan rumah sakit ini?" tanya Jordan berbasa basi. Dia mencari celah untuk bisa melarikan diri.


"Kamu pikir anggota kami yang terluka bisa dirawat dimana kalau tak punya rumah sakit sendiri, hah? hehehehe... kamu pasti tak berfikiran sampai sejauh itu karena kamu tak perduli dengan para anggotamu" sindir Anton sembari menatap ajudan Jordan yang tengah berkeringat hebat dan menatap kearah Jordan.


Seraya mengetatkan rahang, Jordan mengepalkan kedua tangannya. Dia memang terlalu bersantai sehingga tak terfikir akan mempertahankan bahkan menambah jumlah anggotanya.


Jordan tak menyangka lawannya berkembang pesat.


Tapi dimana Ardy? pikir Jordan.


"Tak perlu buru buru. Kita bisa minum kopi bersama. Kebetulan anggota anggota kami sudah lama tak berlatih" sergah Anton membuat Jordan dan para anggotanya yang hanya berjumlah 5 orang itu menelan ludah karena panik.


Apalagi saat Anton bangkit dari singgasana dan melangkah mendekat. Diiringi sikap waspada para anak buahnya jikalau Jordan dan anak buahnya melakukan pergerakan tiba tiba.


Benar saja.


Anak buah Jordan salah satunya tiba tiba bereaksi terlebih dahulu dengan menendang.


Sayang dia hanya menendang angin karena sasarannya dengan sigap mengelak.


"Dasar bodoh" desis Jordan memukul kepala anak buahnya itu.


Nahas, anak buahnya pun berhasil mengelak sehingga Jordan memukul angin juga.

__ADS_1


Dan kini mereka terlihat seperti sekumpulan orang orang bodoh.


"Hahaha... tenanglah kalian. Kami tak akan menyakiti kalian selama kalian jinak" ejek Anton menertawakan tingkah mereka.


Anton berdiri tepat didepan Jordan. Barulah dia yakin jika wajahnya memang mirip dengan bos besarnya. Hanya warna rambut dan kerutan kulit yang membedakan mereka. Mungkin juga bibir yang tampaknya mirip dengan ibu sang bos.


"Katakan padaku. Untuk apa anda mencariku. Bukankah sangat tak beradab membawa rokok yang menyala memasuki kawasan rumah sakit?" sindir Anton melirik cerutu yang masih setia terselip diantara jari jemari Jordan.


Jordan tampak kikuk mendapat sindiran. Dia lantas mematikan cerutunya pada telapak tangan anak buahnya.


"Ekhem.. saya mencari.. eenng.. kekasih anak saya. Ya.. dia.. dia bekerja di rumah sakit ini sebagai.." Jordan melirik ajudannya menanyakan informasi yang tengah dimaksudkan.


"Dokter" bisik sang ajudan yang mengerti dengan maksud sang bos.


"Ah ya, dokter. Dia seorang dokter di rumah sakit ini" lanjut Jordan.


Anton manggut manggut seraya berjalan mengitari Jordan.


"Hmmm... dokter ya.. siapa namanya? apa dia spesialis, atau dokter umum?" lanjut Anton bertanya.


Jordan kembali melirik pada sang ajudan. Sungguh dia memang tak mengetahui apapun mengenai gadis itu.


"Namanya Millie, bos" bisik sang ajudan.


"Dokter..Millie.." Jordan meneruskan informasi dari sang ajudan.


"Dokter Millie? hmm.. Millie.. Millie.. Mill.. saya belum pernah mendengar ada yang bernama seperti itu di rumah sakit ini. Apa itu memang namanya? atau anda hanya mencari alasan agar bisa mengobrak abrik data base kami?" ucap Anton dengan nada waspada. Dia sangat ingat untuk bermain main dengan ayah sang bos besarnya. Tentu saja atas perintah Ardy, sang bos besar.


Jordan menoleh dan menatap sang ajudan dengan tajam. Bisa bisanya dia salah informasi lagi.


"Baiklah, mungkin saya salah alamat. Sepertinya dia tak bekerja disini. Kalau begitu.."


"Meskipun ada yang bernama itu disini, kenapa anda mencari kekasih anak anda. Bukankah itu sedikit.. aneh?" Anton terus mengulur waktu mempermainkan emosi Jordan. Sebab anggota lain yang mana merupakan tim IT tengah menyergap markas Red Fox dan menanamkan virus komputer untuk menyadap dan menyalin data base.

__ADS_1


Jordan tak tahu harus berkata apa. Emosinya mulai memuncak namun dia tak bisa berbuat apapun. Belum saatnya dia mati konyol hari ini.


"Siapapun mengenal reputasimu tentang wanita.. jangan bilang kalau kamu akan mengambil kekasih anakmu itu seperti yang pernah kamu lakukan dahulu. Bukankah kamu menghancurkan rumah tangga anak sulungmu dengan merampas wanitanya?" lanjut Anton membuat Ardy yang mendengarkan lewat sambungan bluetooth menitikan air mata.


__ADS_2