My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Janitor Room


__ADS_3

Taqabbalallahu minna waminkum


Taqabbal ya kariim


Selamat hari raya Idul Fitri 1444 hijriah bagi yang merayakan.


Semoga amal ibadah kita diterima Allah Subhanahuwwata'ala.


Aamiin yaa robbal 'aalamiin.


......................


"Lapor bos. Direktur baru rumah sakit itu bernama 'David Michael', mobil dan apartemen yang ditempati juga atas nama itu. Sesuai dugaan anda, sepertinya tuan muda Ardy menggunakan nama itu sebagai samaran" lapor anak buah Jordan di pagi hari ini sesuai permintaan Jordan.


"Apa dia bodoh? untuk apa sejelas itu menyamar?" gumam Jordan sembari menyesap cairan berwarna kuning sambil berendam dalam jaccuzi.


Jordan tengah mencoba menikmati harinya bersama dayang dayang muda yang didapatnya dari rampasan perusahaan yang bangkrut dengan menawarkan suntikan dana sehingga perusahaan mereka bisa kembali beroperasi.


Sebagai gantinya, tentu saja anak gadis mereka jaminannya.


"Ahh.. menyingkirlah.. kalian dan status kalian itu tak ada gunanya" keluh Jordan menyingkirkan gadis yang tengah menari dipangkuannya memberikan kenikmatan dunia, namun tak membuat Jordan merasa puas karena kenyataannya para gadis sitaannya ini sudah tak ada lagi yang perawan.


Pantas saja mereka tak berontak kala Jordan membawa mereka sebagai jaminan perusahaan ayah mereka.


Rugi bandar tuh Jordan😌


"Apa yang kamu rencanakan, anak busuk" gumamnya lagi.


"Bagaimana dengan gadis itu" tanya Jordan yang tiba tiba teringat dengan Millie, kelemahan sang anak.


"Wanita itu terlihat terus mengejar tuan muda, bos. Tapi tuan muda tampak selalu menghindarinya. Ah keponakan anda saat ini sedang dirawat di rumah sakit itu, barangkali anda ingin menyapanya, mungkin.."


"Tentu saja aku harus menyapa keponakanku" potong Jordan dengan seringai licik terbit di bibir tipisnya.


Di rumah sakit


Jordan berjalan dengan angkuh diikuti beberapa body guard di belakangnya.


Para petugas kesehatan saling melirik karena apa yang tengah ditenteng Jordan sangatlah menentang adab memasuki rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf pak. Sebaiknya rokoknya dimatikan terlebih dahulu" tegur salah seorang sekuriti yang berlari dari arah luar. Dia melihat Jordan turun di area drop off dengan menenteng cerutu, dan berfikir akan mematikan benda coklat panjang itu saat memasuki lobby.


Dengan entengnya Jordan hanya mengibaskan tangan tanpa menghentikan langkahnya. Dan kibasan tangannya merupakan perintahnya pada anak buah yang langsung menghadang sang sekuriti.


"Silahkan anda kembali ke pos anda. Beliau adalah ayah presdir baru kalian" sergah salah satu body guard yang menghadang sekuriti.


"Tapi.." sekuriti merasa dilema. Jika saja tubuhnya lebih kekar dari para body guard itu pastilah dia akan bersikap lebih tegas. Namun akal sehatnya memilih mengalah demi anak istri. Dari pada mati konyol atau minimal cacat dan menjadi beban keluarga.


Jordan dengan santainya berjalan menuju lift dipandu oleh ajudannya hingga langkahnya tiba tiba berhenti kala melihat sosok yang diincarnya tengah melihat status beberapa pasien di nurse station.


Ingin rasanya dia melangkah menghampirinya dan sedikit bermain main dengannya, namun tujuannya kali ini ingin menancapkan bendera peringatan pada sang anak agar tak melenceng dari program organisasinya.


"Dok, liat tuh ada yang bawa rokok ke dalem sini" bisik seorang perawat yang terlihat ketakutan melihat rombongan Jordan.


Millie mendongak dan mencari sosok yang disebutkan sang perawat.


Seketika mata Millie membelalak kala melihat Jordan.


"Ngapain.. gawat.." pertanyaan Millie pada diri sendiri terpotong kala menyadari sesuatu.


"Ayang pipit gue mesti diselametin inimah" panik Millie lantas bergegas berlari kearah lift lain.


Dia tak berniat menghadang dan menegur Jordan karena merokok di dalam rumah sakit, karena sangat mengenal sisi gelap dari ayah Ardy. Bisa bisa mahkotanya jadi taruhannya.


"C'mon.. c'mon.. c'mon.." gumam Millie seraya mengetuk ngetukkan sepatunya pada lantai lift.


Disaat darurat seperti ini kenapa semua hal seolah mengejek ketergesaannya.


tring


Pintu lift terbuka tanda sudah sampai di lantai tujuan.


Millie sedikit waswas kala hendak melangkah keluar. Apakah akan bertemu dengan para body guard Jordan, atau bisa menjadi tak kasat mata.


Millie menyembulkan kepalanya untuk memindai kondisi sekitar.


"Aman deh kek nya" gumamnya meyakinkan diri.


Millie lantas melangkah keluar dari lift dengan waspada.

__ADS_1


grepp


"Hemmmpp..."


Seseorang membekap mulutnya dan membawanya masuk ke ruang janitor, yaitu ruangan kecil yang biasanya digunakan untuk menyimpan berbagai alat kebersihan.


Bagai dejavu, Millie memutar bola matanya. Dia hafal dengan wangi tubuh orang yang membekapnya dengan memeluknya dari belakang. Pun dengan tangan yang bertengger pada sebelah dadanya yang terasa pas menggenggam bukit landai miliknya.


plak


Millie menampar tangan itu agar melepaskan cekalannya, namun tangan itu tampak enggan lepas.


Millie lantas mengulangi triknya lagi dengan meremas tangan yang menangkup bukitnya.


"Eengghh..." desah Millie kala meremas bukitnya sendiri.


"Ah.. eeh.. maaf.." gugup Ardy yang langsung melepas tangannya yang nakal.


Kenapa harus nyasar kesitu lagi. Cebik Ardy pada tangan laknat nya.


"Ngapain disini?" tanya Millie berbisik. Dia ingin membalikkan tubuhnya menghadap Ardy, namun ruangan berukuran 1m² itu membatasi ruang geraknya.


"Ssstt.. diamlah, nanti aku ceritakan" peringat Ardy sambil mengintip celah yang sedikit terbuka.


Ruang janitor itu berada di ujung lorong. Dan ruangan Ardy bisa terpantau jelas dari pintu ruang sempit ini.


"Dia mencarimu. Apa kamu sengaja bersembunyi untuk menghindarinya?" tanya Millie berbisik. Jiwa kepo nya tak bisa ia tahan jika tak mendengar informasi sedikitpun.


"Sudah kubilang diam. Nanti aku ceritakan padamu" jawab Ardy membuat Millie sedikit kesal. Kenapa sobatnya ini menjadi pelit sekali, batinnya.


"Tapi kenapa harus bawa dia. Bukankah dia seharusnya pasang badan untuk melindungimu?" tanya Millie lagi sembari mengedikkan kepala menunjuk pada Amir yang tengah berada dibalik tongkat sapu dan pel.


Ardy menoleh pada Amir yang bersembunyi dibalik tongkat sapu dan pel lalu mengedikkan bahunya dan kembali mengintai ruangannya.


"Anggap saya gak ada, non. Silahkan teruskan" celetuk Amir ambigu.


Senen nih


Vote dulu ya mak emak biar semangat up lagi

__ADS_1


Tambah kopi tambah semangat nih


Yok jangan malu malu buat ninggalin jejak jempol ya mak😉😚


__ADS_2