My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Possesif


__ADS_3

"Bos.."


"Pastikan informasi yang kamu punya tidak meleset lagi" hardik Jordan dengan kesal memotong seruan ajudannya yang akan memberikan laporan tentang informasi yang dia dapat dari informan nya.


"Tentu saja tidak kali ini bos. Kami mendapatkan informasi akurat dari informan yang menyusup pada kelompok itu" timpal sang ajudan dengan antusias. Kali ini dia yakin akan mendapat imbalan yang cukup besar.


Jordan manggut manggut. Berharap kali ini dewi fortuner memihak padanya.


"Lanjutkan" titah Jordan kemudian, membuat sang ajudan dengan semangat menjelaskan informasi yang dia dapat secara akurat.


"Hmm.. ternyata seperti itu rencana mereka. Menarik. Lalu bagaimana dengan Ardy, anakku. Apa dia masih mengelola perusahaan tambang nikel ku?"


"Tentu saja, bos. Tuan muda ke dua masih menjalankan perusahaan tambang anda dengan sangat kompeten. Salah saya mengenalinya sebagai pembeli saham rumah sakit itu. Ternyata perawakan dan gestur tubuhnya sangat mirip. Maafkan kesalahan saya, tuan" sang ajudan menundukkan kepala. Tak masalah baginya sedikit mengalah demi imbalan yang berlipat ganda karena kinerjanya yang sangat memuaskan sang bos.


"Lalu bagaimana dengan Arsen. Apa kalian belum bisa menemukannya?" lanjut Jordan membuat sang ajudan kembali berkeringat.


Baru saja ia akan ber euphoria karena berhasil menyenangkan sang bos, namun rupanya butuh tenaga ekstra untuk bisa melakukannya.


"Emm.. kami.. menemukan.. motornya di semak semak, bos... tak jauh dari rumah kontrakannya" ujarnya ragu ragu.


Jordan terlihat tenang mendengarkan informasi itu.


prang


Namun seketika sebuah asbak yang terbuat dari kaca tebal melayang mengenai kepala sang ajudan hingga hancur.


werr

__ADS_1


Darah segar mengucur dari pelipisnya, sebisa mungkin dia tahan agar tak mendapat murka lebih dari yang dia dapat sekarang ini.


"Heh, kamu pikir kamu sehebat itu?" cibir Jordan yang lantas menuangkan minuman berwarna keemasan dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.


"Lalu gadis itu?" lanjut Jordan sembari menyesap cairan memabukkan itu.


"Gadis itu.. tak pernah terlihat pulang ke rumah kontrakannya. Menurut sekuriti dan karyawan rumah sakit yang mengenalnya, tampaknya dia menginap di rumah sakit karena tak pernah terlihat keluar dari rumah sakit selain istirahat makan siang. Selain itu, dia selalu pulang paling belakang dan selalu datang lebih pagi dari yang lain" ungkap sang ajudan yang menahan rasa pening karena darah yang terus keluar mengalir. Pandangannya bahkan terasa berkunang kunang. Jangan sampai dia pingsan dan berakhir didalam peti mati.


"Lalu bagaimana dengan yang bagian shift malam, apa mereka tak melihatnya pulang atau berkeliaran di sekitar rumah sakit saat malam? apa mereka menemukan tempat yang digunakan gadis itu untuk tidur?" cecar Jordan yang merasa gemas ingin mengunyah ajudannya ini. Jika saja dia tak disindir dirut rumah sakit siang tadi sudah dipastikan akan langsung membungkus ajudannya ini lalu melemparnya ke kandang kudanil.


"Mereka pernah menemukannya tidur di mushola, bos" jawab cepat sang ajudan, lebih tepatnya mengarang alasan karena tak mau mendapat hukuman lebih mengenaskan dari ini.


"Hmm.. benarkah? apa kamu yakin kalau itu dia, bukan OB yang tunawisma?" lanjut Jordan merasa tak yakin dan terus mendesak ajudannya, mencari kesalahan untuk bisa meluapkan emosinya.


"Saya akan membuktikannya sendiri, bos. Malam ini.. malam ini saya akan membuktikannya" ucap sang ajudan meyakinkan Jordan agar dia bisa sekalian minta ditangani mengenai luka nya.


Sedangkan dia dan orang orangnya selalu kesulitan mendapat perawatan kala terluka selain saling mengurusi satu sama lain.


"Ide bagus. Aku mau foto jelasnya, dimana dia tidur, dan apakah dia setiap hari tidur di rumah sakit" ucap Jordan akhirnya mengizinkan sang ajudan untuk mencari tahu lebih jauh tentang Millie.


Jordan mengibaskan tangannya agar sang ajudan segera pergi dari ruangannya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi sang ajudan segera keluar dengan sebelah tangan menutupi pelipisnya yang sobek.


"Bos, ada yang mencari non dokter di IGD. Katanya pasien mengenal non dokter di jalan saat pernah ditolongnya" lapor Amir setelah menerima telfon dari salah satu anak buahnya yang ditempatkan di ruangan tersebut.


Ardy melirik kearah Millie yang tengah sibuk menguliti kulit apel.

__ADS_1


"Apa liat liat? aku gak sebaik itu nolong orang gak jelas di jalanan. Lagian beberapa hari ini bukannya aku tinggal sama kalian, hah?" sergah Millie mendahului pertanyaan yang belum terlontar dari mulut Ardy.


"Jangan makan buah gue" gemas Millie pada Arsen yang mencuri potongan buah apel yang sudah Millie potong dan kupas.


"Sama calon kakak ipar jangan pelit pelit, nanti kuburannya sempit" tukas Arsen yang kembali mencomot potongan buah.


"Kalopun lega, gak mungkin aku selobang sama adekmu itu, gak bisa kayang juga kan" timpal Millie yang lantas mengambil buah yang lain lalu membawa wadahnya menjauh agar tak Arsen comot lagi.


"Kak, bisa gak jangan ganggu Millie?" ketus Ardy yang merasa kesal dengan kedekatan sang kakak dengan Millie.


"Ya elah, posesif amat jadi cowok. Minjem bentar napa" tukas Arsen menambah rasa kesal Ardy.


"Dipikir mainan dipinjem pinjemin" gerutu Ardy lantas mendekat pada Millie.


"Gak kakaknya gak adeknya, somplak semua. Motong sendiri bisa gak sih?" pekik Millie yang kesal karena kini Ardy yang mencomot potongan buah yang baru Millie potong sembari terkekeh.


"Bos, ini gimana?" tanya Amir menyela kegaduhan dan merasa terasingkan.


"Kamu beneran gak pernah nolongin orang di jalan sebelum kita ketemu lagi?" tanya Ardy akhirnya.


Millie yang menjejalkan 3 potong buah dari negeri paman sam pada mulutnya itu menjawab dengan menggeleng cepat.


"Dawokawokawok..." kira kira begitulah suara Millie saat berbicara dengan mulut penuh buah.


Ardy menarik satu potong lalu menyuap pada mulutnya sendiri. "Kalo mo ngomong tuh kunyah dulu yang bener, terus telen" lanjut Ardy sembari tersenyum. Merasa lucu dengan tingkah Millie yang tak mau makanannya direbut.


"Jiaah... kacang kuaci ale-ale mijon.." sindir Arsen melihat keuwuan adiknya yang tak pernah dia sangka bisa semanis itu pada seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2