
"Papa.. sini makan.." seru David memanggil Arsen yang berjalan mendekati meja mereka.
"Papa sudah makan, sayang. Aku masih lama sepertinya. Apa kalian baik baik saja?" Arsen memberikan informasi sekaligus khawatir mereka akan bosan. Padahal dia bisa saja menelfon mereka, tapi tentu saja Arsen ingin melihat Millie.
"Ya.. it's okay. Take your time" (gak pa pa, tenang saja)
"Papa papa, David punya temen bayu, namanya sama" antusias David mengenalkan teman barunya.
"Aah.. punya temen baru ya.. halo.. saya Arsen" sapa Arsen mengenalkan diri pada Mia yang menatap lekat padanya.
"Eh.. i.. iya.. salam kenal. Saya Mia" balas Mia tampak gugup.
Wanita mana yang tak gugup jika disapa seorang pria tampan, gagah, berusia matang dengan tubuh proporsional.
"Baiklah, aku balik lagi ya. Kalian ke area pameran saja kalau sudah selesai" pamit Arsen lantas mengecup pucuk kepala David.
"Istrinya gak di cium nih?" goda Mia saat Arsen tak melakukan hal yang sama pada Millie seperti yang ia lakukan pada David.
"Dia.."
"Aku kebawah ya" potong Arsen yang keberatan Millie menjelaskan status pasti antara mereka sedangkan dia masih berada disana.
__ADS_1
"Suami kamu.."
"Tante, Davidnya layi keluay" seru David memberitahu tentang teman barunya yang tiba tiba melompat dari kursi lalu berlari ke luar area restoran.
"Ya ampun, anak itu.." Mia panik lantas pergi begitu saja mengejar sang anak yang tak tahu lari kearah mana.
Millie berempati dengan kesulitan Mia dalam mendidik sang anak yang tampaknya hiperaktif.
"Momy, David sudah selesai makannya. Apa boleh main lagi?" tanya David meminta izin.
Sungguh berbeda memang sifat dan karakter anaknya dengan anak Mia. Bukan ingin membandingkan, hanya saja dia merasa bangga bisa mendidik anak sepengertian ini dengan kondisinya yang single parent.
"Perhatian perhatian. Ditemukan seorang anak laki laki berusia kurang lebih 3 tahun mengenakan pakaian berwarna hijau dengan celana krem, bagi orang tua yang merasa kehilangan harap menghubungi bagian informasi" terdengar suara pengumuman anak hilang melalui speaker yang dipasang di seluruh penjuru mall menggema.
Millie menghela nafas lega. Setidaknya anak itu sudah berada di tangan yang tepat.
Millie melanjutkan jalan jalannya mencari berbagai asesoris untuknya dan juga David.
Kelakar mereka berdua tak henti hentinya bersahutan kala memasangkan berbagai asesoris pada kepala masing masing. Sampai sampai mereka ditegur pegawai toko karena memainkan barang jualan mereka.
"Momy, David ngantuk. Ayo puyang" pinta David seraya mengucek matanya dalam gendongan Millie.
__ADS_1
"Iya ayo. Kita temuin papa Arsen dulu ya. Kalo masih lama kita pulang pake taxi aja ya" bujuk Millie.
"Halo jagoan papa. Ngantuk ya. Tunggu sebentar lagi ya. Ini udah beres kok acaranya" sapa lembut Arsen mengecup kepala David yang terkulai di pundak Millie.
Arsen tak tahan jika tak menggoda sang ponakan. Terlebih posisi David menguntungkannya untuk salah sasaran mengecup.
"Papaa.. David cape.. janan cium cium iihh.. sanaa..." rengek David mendorong wajah Arsen yang kembali mendekat.
Millie kesal dengan tingkah jahil kakak iparnya itu. Dia lantas menampar lengan atas Arsen membuatnya terkekeh.
Pemandangan manis dari gambaran keharmonisan keluarga kecil itu membuat seseorang disebrang sana merasa kesal.
"Disini kamu rupanya. Ya ampun Daviiid.. mama cari cari kamu makanya uangan kabur kaburan" ucap Mia yang merasa lega karena anaknya telah ditemukan.
"Kamu tetap manggilnya seperti itu? ayolah Mia, kenapa kamu keras kepala. Panggil nama aslinya biar dia terbiasa dengan namanya sendiri saat sekolah" protes lelaki berpakaian kemeja putih dengan celana bahan itu sambil menggendong anak Mia yang sudah kelelahan.
"Suka suka aku dong" timpal Mia seraya memeletkan lidahnya lantas mengambil alih gendongan anaknya.
"Momy... aku mau dady-ku" ucap David tiba tiba pada Millie.
Suaranya terdengar seperti menahan tangis.
__ADS_1