
Millie segera membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang sebelum David kembali menelpon untuk mengingatkannya.
Bocah tampan itu menelponnya setiap satu jam sekali.
"Momy, apa ini sudah jam empat?" tanya David pada pukul 11. Tepat saat Millie tengah mengadakan rapat untuk menunjuk perwakilan rumah sakitnya untuk menghadiri acara launching produk baru perusahaan yang Arsen kembangkan.
"Momy, David udah makan. Apa ini sudah jam empat?" telfonnya lagi pada pukul 12 siang.
"Hoaaeem... momy, David udah bobo ciang. Apa ini sudah jam empat?" pada pukul satu siang. Entah berapa menit anak itu tidur. Tampaknya tertidur jika hanya sebentar. Karena biasanya bocah tampan itu menghabiskan waktu 2 jam untuk tidur siang.
"Sayang, kalau papa Arsen datang menjemput, berarti sudah jam empat" jawaban Millie sama dengan jawaban sebelumnya.
"Tapi papa beyum dateng dateng. Hape papa juga gak bisa ditelpon" rengek David untuk pertama kalinya setelah insiden histerisnya Millie.
"Maafin David, momy" lanjutnya yang sepertinya sadar telah melakukan kesalahan.
"It's okay, honey. Tunggu papa Arsen datang aja ya" bujuk Millie seraya tersenyum dengan pengertian sang anak yang seharusnya belum bisa ia lakukan di usia dini. Dimana anak seusianya sedang dalam masa mengekspresikan keinginannya.
"Momy momy momy... help me momy... hahaha...." pekik David berlari masuk ke ruangan Millie kala Millie masih membereskan berkas berkas.
__ADS_1
"Sayang kamu sudah datang. Kenapa?" tanya Millie tertawa karena tertular keriangan David yang langsung bersembunyi dibalik tubuhnya.
"Tatut ada monter gendud hahaha..."
"Haaaaa... sini kamu anak ganteng, aku akan memakanmu dan menyimpannu di perutku.." seru Marisa, sahabat Millie dengan suara dibuat seseram mungkin.
Marisa kerap menggoda David karena gemas akan paras dan tingkah lucunya.
"Nda mauuu..." pekik David menutup wajahnya.
"Nnn..nanti tante tambah gendud terus peyutnya meledak gimana" lanjut David mencoba bernegosiasi.
"Geyi momy hihihi..." David terkikik kala kecupan Millie mendarat di hampir seluruh wajahnya.
"Momy aja yang makan David yaa.. ammm..." goda Millie meraup pipi chuby David dengan mulutnya.
"Aww.. momyy joyook iih basah nii..." protes David membuat Millie dan Marisa tergelak.
"Pangeran ke dua tuh, nunggu di luar" goda Marisa menaik turunkan alis tebalnya.
__ADS_1
"Pangeran ke dua dari hongkong" timpal Millie acuh.
"Momy.. boleh nanya nda?" David meminta izin.
"Boleh dong sayang. Mau nanya apa?" perhatian kedua sahabat itu teralihkan oleh pertanyaan David.
"Tante gen.. emm.. maksud David.. Tante Marisa ko gendud, pasti abis makan anak anaknya ya?" celetuk polos David membuat Marisa membolakan mata dan mulutnya, sedangkan Millie terkekeh dengan pertanyaan tak terduga anak semata wayangnya.
"Hai jagoan papa, udah ketemu momy nya?" sapa Arsen yang merentangkan kedua tangannya. Ia tengah duduk di sofa lobby menunggu Millie berganti pakaian di toilet.
"Udah pa. Kata momy tunggu di mobiy aja. Tapi David nda mau tinggalin momy. Nanti.. nanti.. emm kalo momy dicuyik om om kan David sendilian" celoteh David membuat Arsen terkekeh.
Anak ini, persis ayahnya. Possesif terhadap Millie. Kira kira jika dia yang menculik Millie apakah bocah ini akan marah? pikir Arsen yang tak kunjung mengungkapkan perasaannya.
"Liat deh pa, David tuh nda suka kalo momy dandan cantik" tunjuk David pada Millie yang baru keluar dari toilet dan sudah berganti pakaian dengan gaun casual dan sedikit polesan make up natural.
Arsen mengangakan mulutnya dan tak sengaja menjatuhkan kunci mobil kala melihat sosok idamannya 4 tahun terakhir.
Semakin matang usianya, Millie menampakkan aura kecantikan yang begitu kuat bagai magnet yang mampu menarik perhatian kaum adam.
__ADS_1