
"Sekarang rencananya apa?" tanya Millie di dalam mobil saat mereka kembali dari kontrakan Arsen.
Ada rasa khawatir pada calon kakak iparnya.
"Entahlah. Semuanya jadi runyam gini" jawab Ardy seraya menghela nafas.
Diapun bingung dengan rencana semula yang ingin menghancurkan sang ayah.
Namun kenyataan yang dia hadapi sekarang seolah mementahkan rencana awalnya.
"Hhh... bakalan ketunda lama nih nikahnya. Keburu karatan apa bedanya sama jomblo" keluh Millie menggumam.
"Yang sabar ya. Kita cari waktu yang tepat buat bahas ini bareng. Kan aku juga baru ketemu sama ibu kandung aku" bujuk Ardy lantas mencubit lembut pipi Millie.
......................
Waktu berlalu, Jordan membeli rumah baru untuk Ardina dan dirinya tinggal.
Rumah 1 lantai yang hanya terdiri dari 4 kamar dengan halaman yang luas.
Mereka kini tinggal berdua di rumah itu dengan sesekali Ardy dan Millie mengunjungi mereka.
__ADS_1
Ardy dan Jordan sudah berdamai dan Ardy berusaha menerima dan memaafkan sang ayah yang kini tak mau berjauhan dari sang ibu.
"Kamu jauhan sana, kita lagi masak ini, ngahalangin tau" kesal Ardina pada Jordan yang tak mau berjauhan sejengkalpun dari cinta pertamanya itu.
"Enggak mau. Aku udah jadi tumor di tubuh kamu" tolak Jordan langsung.
Millie yang jengah melihat kebucinan calon ayah mertuanya itu selalu menyediakan kacang untuknya melampiaskan rasa gundahnya.
"Udah bu, temenin ayah aja. Biar Millie yang terusin" tukas Millie memberi solusi. Lebih baik dia memasak sendirian dari pada harus mendengar rayuan membagongkan yang bisa mengacak acak otak semi perawannya.
Pasalnya, Jordan benar benar tak tahu tempat dalam menggoda dan merayu sang istri.
Seandainya mereka bukanlah calon mertua, mungkin sudah Millie kerjai.
"Ya gak akan lecet lah, sayang. Kan aku jilatin dulu, baru celup, puternya belakangan" sambar Jordan menimpali gerutuan Ardina.
Sedangkan kulit kacang sudah berserakan di tempat Millie duduk.
"Kamu kalo ngomong kontrol dikit lah. Ada anak perawan nih" protes Ardina menampar lengan Jordan.
"Gak pa pa kan, *** education sebelum sah itu penting loh. Oh iya Mil, kapan rencana pernikahan kalian? Ayah mau pesankan tiket honey moon buat kalian" tukas Jordan. Alih alih merasa senang, Millie menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dilamar juga belum, yah. Gimana mau ngomongin pernikahan" keluh Millie.
"O ya? masa Ardy belum ngelamar?" tanya Ardina terheran. Merasa tak mungkin jika Ardy tak kunjung melamar Millie. Pasalnya mereka telah membicarakan tentang persiapan pernikahan yang tampaknya memang baru wacana karena Ardina maupun Jordan belum mendengar jika Ardy tengah mempersiapkan sesuatu untuk pesta pernikahannya.
"Mungkin dia nunggu waktu yang pas. Tunggu saja. Ah, aku hampir lupa. Malam ini ada undangan pernikahan anak relasi bisnis. Kamu siap siap ya, ajak Millie sekalian biar ada yang nemenin. Aku drop kalian di butik langganan, tapi kalian berangkat ke gedungnya diantar supir, soalnya aku harus meeting dulu" tukas Jordan kala teringat dengan jadwalnya hari ini.
"Males ah, Millie gak ikut ya bu" tolak Millie sendu. Dia tak mau menyakiti hatinya karena merasa miris tak kunjung dilamar Ardy secara resmi.
"Yaah, kalo Millie gak ikut, ibu juga enggak ah" timpal Ardina membuat Millie tak enak hati.
"Ayolah sayang. Pesta ini penting untuk perusahaan" bujuk Jordan merajuk.
"Kamu tahu kalau aku gak bisa lama jauh dari kamu, dan pesta ini butuh beberapa jam. Nanti kalo aku diculik gimana?" lanjut Jordan memeluk Ardina dari belakang dan bermanja padanya.
Millie merasa jengah dengan keintiman calon mertuanya. Dia lantas memilih menyelamatkan diri dengan menonton tv.
"Millie.. makan dulu, sayang" seru Ardina menjeda cumbuan Jordan yang mulai mengganas di dapur.
"Udah kenyang" teriak Millie sambil berlalu.
"Kenyang makan apa?" tanya Ardina dengan dilema. Dilema karena khawatir sang calon menantunya kelaparan, namun tak bisa menolak ajakan sang suami yang kini sudah mengeluarkan senjata pamungkasnya dan bersiap untuk menembus pertahanannya.
__ADS_1
"Ahhh.." lanjut Ardina reflek memekik karena serangan Jordan.
"Makan kulit kacang.." jawab Millie menjauh dengan tergesa seraya menutup telinga.