
Millie melangkah lesu ke IGD. Kenyataan jika Ardy telah memiliki tambatan hati menamparnya. Dia merasa sendirian.
Jika sebelum ini Millie memiliki harapan akan bertemu Ardy dengan kondisi masih sama sama single, dia bertekad akan terus memepetnya. Tak akan pernah melepasnya. Dia bahkan pernah berfikiran kotor untuk menjebak Ardy seperti para wanita kebanyakan agar Ardy tak lagi pergi darinya.
Millie bahkan tak perduli jika kembali didatangi ayah Ardy dan mengancamnya kembali. Sekuat tenaga akan dia lawan dan mempertahankan hubungannya dengan Ardy.
Namun kini, entahlah..
Millie merasa hampa.
"Ekhem.. yang abis godain pak presdir abis abisan, lemes amat. Kenapa, kecewa ya" ledek Marisa di meja kerja ruang karyawan yang berada di belakang nurse station.
"Berisik deh. Gatau apa kalo lagi patah hati. Bukannya di upahin pake nasi padang kek, ini malah diledekin" cebik Millie mengeluh.
"Ya elah, patah hati berjamaah kali kita. Trus siapa yang mau traktirin nasi padang se rumah sakit" timpal Marisa yang juga mengeluh.
"Hhhh..." mereka menghela nafas kasar dengan kompak.
"Kenapa cowok super cakep kek presdir gak ketemu gue duluan yak" imbuh Marisa mempertahankan keluhannya.
"Nyebut neng. Elu dah punya pawang. Gak bersyukur amat. Lagian lakik elu lumayan ganteng juga" timpal Millie menumpukan kepalanya pada sebelah tangan.
"Buat elo aja deh. Gua males. Baru tau kalo suami gue pelitnya minta ampun" tukas Marisa.
"Gila lu. Masa gua dikasih bekas lepehan elu. Jiji banget. Emang pelit gimana? gak ngasih resiko dapur? gak ngasih duit jajan? make up? baju? perasaan muka lo kinclong mulu, baju juga seminggu sekali beli baru" protes Millie.
"Iya sih. Tapi sekarang gue lagi pengen tas Gentong keluaran terbaru. Nih liat, cakep bener kan?" Marisa memperlihatkan tas branded yang baru dirilis di ponselnya.
"50 juta? sarap lu, emang lakik elu pemilik rumah sakit, bisa belanja tas yang cuma muat roti kadet. Gak ngotak ya ni orang" pekik Millie kesal dengan keinginan rekannya.
"Ya makanya gue pengen sama pemilik rumah sakit ini biar bisa beliin apapun yang gue mau" imbuh Marisa menampilkan wajah memelasnya.
"Dih.. dasar gak tau malu ya. Gue aja malu punya rekan kek elo. Hiiii..." Millie bergidik dan pergi meninggalkan Marisa yang tergelak karena senang telah menggoda rekan bar bar nya ini.
Di ruangan Presdir
__ADS_1
Ardy tengah memandangi ponselnya dengan ekspresi kesal.
Ponsel itu dicengkeram Ardy hingga layarnya retak.
"Bos.. bos.. apa yang terjadi?" tanya Amir panik. Dia lantas mengambil alih ponsel Ardy yang untungnya belum terlalu parah kerusakannya sehingga Amir pun bisa dengan jelas melihat apa yang membuat sang bos memendam amarah.
"Apa.. bagaimana bisa.." gumam Amir terkejut.
"Laki laki tua itu..." geram Ardy bergumam.
"Rupanya dia terus me-mata matai ku. Apa masih belum cukup?" lanjut Ardy gusar. Rambut yang tadinya disisir rapi kini berantakan karena ulah tangannya.
"Bos, tenanglah. Jangan sampai salah mengambil langkah. Ingat tujuan utama bos. Saran saya, jangan tunjukkan sikap bos yang seolah terintimidasi dengan ancamannya" bujuk Amir dengan bijak.
Ardy mengusap wajahnya kasar lalu mengangguk.
"Kamu benar. Aku harus tenang. Melihat dari sudut pengambilan gambar dan kualitasnya, mereka mengambil gambarnya dari gedung seberang.
JANGAN LIHAT!" sentak Ardy mengingatkan pada kalimat terakhirnya.
"Bos.. kalo mau mengingatkan pake ancang ancang dulu, bos. Kaget saya" tukas Amir masih membolakan matanya menatap Ardy. Dia tak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Takut si pengintai tengah memperhatikan mereka.
Ardy mendelik, lantas meraih ponselnya kembali dari genggaman Amir.
"Duduklah. Kalo kek gitu terus justru kamu yang narik perhatian" cetus Ardy lantas kembali membereskan meja untuk bersiap pulang.
Amir sontak berbalik dan mengucek matanya yang terasa perih karena terlalu lama melotot. Merasa lega lepas dari intaian.
"Apa perlu umpan, bos?" tanya Amir mencoba memberikan solusi.
Ardy yang tengah memijat pelipisnya menoleh dan menaikan sebelah alisnya.
"Jangan aneh aneh deh. Saya tahu maksud kamu apa" ketus Ardy.
"Ya, namanya juga saran, bos" Amir mengusap tengkuknya dengan senyum dipaksakan. Merasa merinding kala memberikan saran yang tidak tepat dan akan menerima sanksi dari sang bos yang cukup kejam dan membuatnya sengsara selama sehari penuh.
__ADS_1
Pernah suatu saat Amir memberikan saran yang tidak berkenan dihati Ardy, akibatnya rekening Amir diblokir dengan kekuasaan Ardy, lalu harus menyaksikan sang bos makan menu favorit Amir dengan lahapnya. Dan dia hanya diberi roti tawar plus teh tawar.
Cukup menyengsarakan bukan.
Ardy melangkah keluar dari lift diikuti Amir yang selalu setia menjadi bayangannya. Meski tak setampan bayangannya, Amir cukup bangga karena selalu bersanding dengan pria incaran wanita seksi.
Setidaknya jika dia menyingkirkan para wanita nekat, sedikitnya dia melakukan kontak fisik dengan mereka. Lumayan buat memperlancar peredaran darah.
Millie yang muncul dari arah belakang tiba tiba mengejarnya.
"Pak Depit.." seru Millie namun tak membuat langkah Ardy terhenti. Dia cukup menolehkan kepalanya sekilas.
"Tunggu.." Millie meraih lengan Ardy. Sontak Ardy menghentikan langkahnya dengan tiba tiba. Membuat Millie menabrak punggung Ardy.
Bukannya segera menjauh, Millie langsung melingkarkan kedua tangannya pada perut berotot Ardy. Menghidu aroma tubuh Ardy yang Millie rindukan. Meski tersamar oleh wangi parfum mahal, namun wangi tubuh khasnya sangat Millie hafal.
Ardy panik dan menoleh sekitar. Tak mau si pengintai memergoki keintiman mereka saat ini. Meski Ardy akui, hangatnya pelukan Millie hampir membuatnya gila dan menginginkan lebih dari sekedar pelukan dari belakang.
"Apa yang anda lakukan" hardik Ardy melepas paksa tangan Millie.
"Nona, tolong jaga sikap anda" sergah Amir sebelum sang bos bertindak lebih jauh seperti pada wanita lain yang lancang pada bos nya itu.
Millie merasa canggung seketika.
"Maaf, kelepasan" ucap Millie yang seketika merasa tolol.
Kenapa tangannya gak bisa mengontrol diri. Gak tau malu emang itu tangan, main peluk peluk segala. Kecanduan nyaman tau rasa kan.
"Engg.. itu.. anu.. pak Depit mau pulang yah.. emm... mau.. mau saya anter? eh.." Millie lantas menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Kebalik neng
Harusnya cowok yang nganter cewek
Hadeeeh gereget deh
__ADS_1