My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
"Menikahlah Denganku"


__ADS_3

Millie melangkah masuk ke tempat dinasnya dengan wajah merengut. Pasalnya dia diturunkan paksa oleh Ardy di halte bus yang sebenarnya dekat dengan rumah sakit. Hanya berjalan kaki dari halte tersebut Millie sampai di rumah sakit.


Hanya saja rasa rindunya beraktifitas bersama, bersama Ardy sangat membuncah. Setiap detik nya Millie selalu ingin melihat ekspresi Ardy, terutama saat wajahnya memerah karena digoda olehnya.


"Buset dateng dateng dah ditekuk aja itu muka. Kesurupan neng, masi kepagian buat kesurupan" tukas Marisa kala baru bertemu dengan Millie di pagi yang mendung menurut Millie.


"Berisik. Gak mood buat ngelawak nih" timpal Millie cemberut.


"Dok, ada pasien infark miokard (serangan jantung)" sela seorang perawat berekspresi serius.


Millie segera mamakai jas snelli dan menggulung stetoskop lalu menyimpannya di saku jas.


Hanya pada keadaan gawat seperti ini Millie bersikap serius dan profesional.


"Bagaimana denyutnya?" tanya Millie langsung memeriksa ulang dengan stetoskop miliknya.


Millie tak mendengar denyutnya.


"Resuscitator (Pompa oksigen)" pinta Millie pada perawat yang kemudian memasangkannya pada mulut dan hidung pasien.


Millie naik ke brankar dan memposisikan berlutut di samping tubuh pasien lalu kedua tangannya memompa dada pasien.


"Satu.. dua.. tiga.. pompa.. satu.. dua.. tiga.. pompa.." Millie berulang kali melakukan CPR manual hingga akhirnya denyut itu kembali muncul.


"Stabil dok.." seru perawat yang memonitor layar.


Millie menghela nafas lega. Dia lantas turun dari brankar dan menyeka keringatnya.


Sungguh memicu adrenalinnya kala harus menyelamatkan nyawa pasien. Ada rasa puas kala dia bisa menyelamatkannya, ada rasa sesal jika tak bisa menyelamatkan, terkadang ada rasa heran saat pasien menyalahkannya karena diselamatkan.


"Selesaikan" titah Millie pada para perawat yang langsung melakukan tugasnya masing masing.


grepp


Tangan Millie tiba tiba dicekal saat hendak meninggalkan pasien.


Millie memutar bola matanya 'hhh.. pasti mo nyalahin lagi' keluh Millie dalam hati.


Millie menoleh pada pasien yang sedikit membuka matanya.


"Menikahlah denganku.." ucap lemah pasien yang ber gender pria berusia 40an dengan tiba tiba.

__ADS_1


"Mana keluarga pasien?" Millie bertanya pada perawat sebelum merespon pasien. Dia pasti berhalusinasi.


"Kami membawanya dari pinggir jalan sesuai panggilan seseorang yang mendapatinya tiba tiba terjatuh, dok" jawab perawat.


"Lalu kemana orang itu?" lanjut Millie.


"Tidak ada yang ikut saat kami membawanya karena mereka tidak saling mengenal. Kami hanya menemukan identitasnya saja dalam dompet, dok" imbuh perawat.


"Menikahlah denganku.. menikahlah.." sang pasien kembali mengigau. Millie merasa iba. Apa jangan jangan pasien ini ditolak saat melamar lalu terkena serangan jantung? pikir Millie.


"Tuan, bersabarlah. Anda akan segera pulih" bujuk Millie menenangkan pasien sembari melepas cengkraman lemah sang pasien. Dia lantas melangkah pergi karena kembali mendapat panggilan darurat.


......................


Millie meneguk sebotol air mineral yang ada manis manisnya hingga tandas.


"Haaahh.... capee.." Millie menghela lega setelah melakukan beberapa tindakan darurat yang menguras tenaga dan emosinya.


"Lapeerr.. Ris.. makan yuk.. " ajak Millie pada Marisa yang tengah merogoh tas tottebag nya. Namun kemudian dia mengeluarkan kotak bekalnya seraya menampilkan barisan gigi putihnya.


"Hehe.. gue dibekelin nasi kebuli sama ayang" tukas Marisa seraya membuka kotak bekalnya lalu menghidu aroma khas menu itu.


Dia lantas merangsek mendekat karena sudah tak tahan dengan rasa lapar yang mendera nya.


"Et.. et.. et.. enak aja main sosor. Minta ama ayang sana. Lu gak mau kan punya ponakan ileran" sergah Marisa menghadang Millie.


"Hah.. ponakan?


ELU HAMIL?" pekik Millie kala menyadari pernyataan Marisa.


Dengan senyum mengembang Marisa menjawab Millie dengan anggukan anggun.


"Waaaa... selamaaaat..." Millie sontak memeluk sahabatnya erat.


"Anak siapa?" lanjut Millie yang kemudian dijawab tamparan di lengan.


"Lapeeer... mana lupa nanya nomer hape Depit lagi. Aduuuh... maag ku kambuuh... " Millie berjalan gontai dan sedikit sempoyongan. Menekan perutnya yang terasa perih sambil menggigit bibirnya.


Menyusuri tembok lorong rumah sakit yang kini terasa paaaaaannjaaaaang dan laaaaaamaaaaaaa...


"Dokter Gumy.. disini rupanya. Maaf anda diminta datang ke kamar VVIP" ucap salah seorang perawat dengan nafas tersengal.

__ADS_1


Millie mengibaskan tangannya kearah sang perawat dengan ekspresi meringis "Saya gak ada kepentingan sama pasien kamar VVIP" ucapnya lantas.


"Dokter baik baik aja?" tanya sang perawat kala menyadari jika orang yang dicarinya tampak kesakitan.


"Menurutmu?" Millie bertanya balik. Dia semakin menekan perutnya.


"Ya ampun. Maag nya kumat lagi ya. Sini saya bantu" sang perawat menawarkan diri untuk memapahnya.


"Kamu.. kamu bantu saya beliin nasi padang aja. Saya belum makan nasi dari semalem" pinta Millie memberikan solusi bantuan yang bisa diterimanya.


"Ya elah, dokter Gumy. Kebiasaan deh suka nge modus" tukas sang perawat merubah ekspresi khawatirnya menjadi datar.


"Mo bantuin gak? kalo enggak, saya mati disini loh, mumpung jauh dari kamar mayat biar kamu kesusahan seret saya" ancam Millie.


Sang perawat tak bisa berkata apa apa jika Millie sudah berkehendak. Dari pada tambah ngaco dan berakhir dia ikut disemprot manajer, apa boleh buat.


"Ya udah. Saya bantu beliin deh. Uangnya mana, ples ongkir ya" ucap sang perawat seraya menengadahkan tangan.


"Aduuuuh..." pekik Millie seolah merasakan sakit yang teramat sangat.


"Ya Tuhan, kenapa harus saya yang nyariin dokter abal abal ini, ya lord" keluh sang perawat yang langsung melesat pergi karena Millie mengacungkan sepatu pantofel nya.


Millie menjatuhkan bokongnya di titian tangga dengan tangan terus menekan perutnya.


"Maaf, apa anda dokter Gumy?" tanya salah seorang dari dua pria ber jas hitam.


Millie mendongak, namun tak menjawab. Name tag nya yang membuat para pria ber jas itu yakin lantas masing masing dari mereka mengapit lengan Millie dan mengangkatnya lalu membawanya ke suatu tempat di rumah sakit itu.


"Hei... siap kalian.. lepaskan saya.. kalian gak bisa seenaknya seperti ini, siapa yang bilang kalau saya orang yang kalian cari.." pekik Millie meronta dari cekalan kedua orang itu.


Hingga mereka berhenti didepan sebuah pintu bertuliskan 'VVIP', barulah Millie mengerti.


"Bos, kami sudah menemukannya" ucap salah satunya memberi laporan pada orang yang tengah setengah berbaring diatas brankar dengan beberapa alat penunjang kehidupan menempel pada tubuhnya.


Mereka lantas menurunkan Millie dan menarik kursi agar Millie duduk disamping brankar.


Orang yang dipanggil bos itu melambaikan tangan tanda mereka harus keluar.


"Jadi anda yang memanggil saya dengan cara seperti itu. Bagaimana keadaan anda?" ucap Millie lantas memeriksa bagian vital.


"Menikahlah denganku"

__ADS_1


__ADS_2