
"Ada apa lagi, dokter Gumy?" tanya Ardy seakan mengabaikan keluhan Millie.
Amir tak bisa melewatkan moment ini. Diam diam dia melirik pada sang bos yang selama ini antipati terhadap wanita dan sering digosipkan menjalin hubungan dengannya karena keanehan bis nya ini yang tak mempan digoda wanita seperti apapun. Dia bahkan mampu menahan efek dari obat laknat yang dibubuhkan rekan bisnisnya pada minuman di pesta jamuan makan malam khusus pemilik perusahaan, dimana para puteri pemilik perusahaan bonafide berlomba lomba untuk bisa naik ke ranjangnya.
Millie kesal dengan reaksi Ardy yang cuek, akhirnya dia memilih menyerah. Memang bukanlah sifatnya untuk merengek, dia hanya mencari perhatian Ardy, berharap Ardy maju untuk menantang balik orang yang dengan sengaja berniat mencelakainya.
"Hhh.. apa itu benar?" tanya Millie penasaran.
"Maksud anda?" Ardy balik bertanya.
"Mmm... tentang pasangan kamu dan.. kalo kalian mau nikah" Millie menjelaskan maksud pertanyaannya dengan suara sendu.
"Tentu saja itu benar" jawab mantap Ardy.
Millie terhenyak. Baru saja dia senang dengan kemunculan Ardy yang tiba tiba berada dekat dengannya. Namun harus kembali jauh karena status Ardy yang sudah memiliki calon istri.
Millie cukup tahu diri untuk tak dekat dekat dengan calon milik orang lain. Jika Ardy sudah memilih seseorang untuk dijadikan teman seumur hidupnya, itu berarti Ardy sudah serius dengan hatinya.
"Bisakah.. bisakah kamu menungguku?" lanjut Millie dengan menundukkan kepala. Tangannya sibuk memilin ujung sneli.
Ardy menghentikan kegiatannya, lalu menoleh padanya.
__ADS_1
"Maksud anda?" Ardy kembali bertanya.
"Maksudku.. bisakah kamu menikah setelah aku mendapatkan pasangan untuk menikah?" detail Millie.
Ardy menahan senyumnya.
"Tentu saja" jawab Ardy sembari melanjutkan kegiatannya dan menyerahkan berkas berkas itu pada Amir untuk dibawakan oleh sang ajudan. Ardy lantas melangkah pergi.
Millie terhenyak lalu mengejar Ardy.
"Benarkah, kamu mau menungguku?" tanya Millie meyakinkan diri.
"Ya itu benar. Aku memberimu waktu 2 bulan. Jika masih belum ada calonnya..." Ardy menggantungkan perkataannya seraya menghentikan langkahnya. Berdiri menghadap Millie dan menatapnya lekat.
"Kamu bisa menikah dengannya" imbuh Ardy mengedikkan kepala kearah Amir tanda menunjuk sang asisten.
"What.." pekik Amir dan Millie bersamaan.
Ardy lantas melangkah pergi meninggalkan Millie dan Amir yang tengah tertegun.
Seulas senyum terbit di wajah Ardy. Merasa menang karena bisa membalas Millie.
__ADS_1
Amir segera mengejar Ardy kala tersadar jika langkahnya tertinggal gara gara kelakuan bos nya.
"Bos.." seru Amir mensejajarkan langkahnya dengan Ardy.
"Hm" jawab Ardy singkat.
"Benarkah saya boleh menikahinya?" tanya Amir antusias. Siapa yang tak mau dengan wanita cantik seperti Millie. Abaikan sifat nyelenehnya. Bukankah hanya tubuhnya yang dinikmati. Batin Amir yang tiba tiba jiwa jomblonya meronta ronta.
Ardy sontak menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Amir dengan tatapan tajam.
"Berani berfikir seperti itu?" ada nada ancaman dalam pertanyaannya. Ditambah dengan rahang Ardy yang mengetat.
"Eeeee..." Amir tercekat. Tak menyangka jika dia ikut kena prank sang bos.
Hhh.. seharusnya dia tak merasa baper dengan ucapan bos nya. Seharusnya dia benar benar menutup telinganya agar tak mendengarkan percakapan mereka. Keluh Amir dalam hati.
puk
puk
Ardy menepuk sebelah pipi Amir "Bagus kalau kamu mengerti" ucapnya lantas kembali melangkah.
__ADS_1
Nasiiib nasib. Batin Amir meringis.