My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Kembaran


__ADS_3

"Udah sana.. cek dulu pasien nya. Disemprot pak manajer ketar ketir lo entar" titah Millie mengambil alih thinwall yang berisi berbagai jenis buah buahan lalu menyiramkan bumbu gula asem nya dan memakannya sambil melangkah pergi.


Satu atau dua gigitan mana kerasa bagi Millie.


"E eh.. dokter Millie main rampas aja.. dok.. dok.." para perawat ditinggal begitu saja oleh Millie setelah mendapat hasil rampasan perangnya.


Millie terkekeh sambil terus memasukkan sepotong demi sepotong mangga muda berbalut gula asem.


"Makanya waspada kalo punya cemilan" pekik Millie sambil mengunyah potongan buah.


dugg


Tanpa sengaja Millie menabrak seseorang karena jalan sambil menoleh kebelakang.


Sayang seribu sayang, rujak sayang terbuang.


"Rujak gue.." lirih Millie menatap nanar pada buah buahan yang sudah berceceran beserta bumbu lengketnya yang mengenai sepatu kulit berwarna hitam milik..



Ardy...


Millie tertegun saat melihat sosok itu.



Ardy sibuk menyeka jas nya dengan tissue yang disodorkan sang ajudan karena terkena bumbu lengket rujak hasil rampasan Millie.


"Seorang tenaga medis berlarian sambil makan di rumah sakit, apa itu standar pegawai rumah sakit ini?" ketus Ardy seraya menyorot tajam pada Millie.


"Tentu saja bukan, sebelum rumah sakit ini bangkrut" balas Millie dengan nada datar.


Matanya masih lekat menatap sosok yang sangat dia rindukan.


"Depit.." lirih Millie tak percaya dengan penglihatannya.


"Ambilkan stelan yang lain" titah Ardy dengan suara datar pada sang ajudan lalu melangkah pergi meninggalkan Millie yang tertegun dan bingung.


"Depiit.." Millie tersadar lalu menoleh dan memanggil nama panggilan untuk Ardy.


Namun yang dipanggil tak menoleh.


Dahi Millie mengernyit "Apa dia punya kembaran?"


Ardy segera masuk ke toilet yang ada di ruang pribadinya. Menyandar dibalik pintu sambil menekan dadanya.


"Sialan.. dia cantik banget.." Ardy menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menenangkan debaran jantungnya. Tangannya bahkan mendadak bergetar. Ardy menertawakan tingkahnya sendiri dikamar mandi itu.


"Aku harus gimana kalo ketemu dia" ucapnya sedikit frustasi. Ardy tak mau Millie mengetahui jika dia adalah Ardy.. Depit nya Millie, si burung pipit cengeng.


Setelah berganti pakaian, Ardy membaca satu per satu lembaran tentang laporan keuangan rumah sakit dalam satu tahun terakhir.


"Gila.. gimana mereka bisa bertahan dengan segala kekurangan setahun ini" Ardy memijat pelipis yang berdenyut.

__ADS_1


Banyak yang harus dia benahi dalam mengelola bisnis rumah sakit ini.


Bisnis..


Ya, bukan lagi segi kemanusiaan orang orang mendirikan rumah sakit, namun bagaimana cara meraup keuntungan sebanyak banyaknya dari penjualan obat dan cara menggelembungkan tagihan rumah sakit pada perusahaan penjamin kesehatan pasien.


"Dimana hati nurani manusia sekarang ini. Yang mereka pikirkan hanyalah uang dan uang" gumamnya sambil meraup wajah tampannya dengan kasar.


tok


tok


Suara ketukan di pintu tak membuyarkan fokusnya dalam mempelajari laporan keuangan.


"Masuk" titahnya tanpa mengalihkan perhatian pada lembaran kertas itu.


"Permisi, bos. Ini data para tenaga medis, mulai dari perawat hingga Manajer" Amir membawa setumpukan lagi dokumen berisi biodata seluruh pegawai mulai dari yang posisi biasa hingga yang 1 level dibawahnya.


"Hhh.. taruh di meja" Ardy menunjuk meja tamu yang berada di depan sofa sambil menghela nafas.


"Banyak banget pe er nya" gumamnya mengeluh.


"Apa perlu saya bantu, bos?" Amir menawarkan diri.


"Kamu pesankan dulu makan siang, setelah itu kamu bantu periksa" Ardy merasa terbantu dengan penawaran inisiatif Amir. Tak dia sangka orang yang dia tarik secara random di jalanan mempunyai kemampuan menganalisa juga bela diri yang mumpuni. Bisa dibilang bahwa Amir sangat potensial menjadi seorang direktur. Namun dia selalu menolak ditempatkan sebagai direktur suatu divisi dan memilih menjadi sekertaris pribadinya.


Alasan dia adalah balas budi.


Mereka makan siang sambil memeriksa dokumen. Diskusi selalu mereka lakukan kala menemukan hal yang rumit.


tok


tok


Suara ketukan di pintu membuat Ardy dan Amir saling melempar tatap.


"Apa ada sekertaris di luar?" tanya Ardy.


Amir menggeleng "Hanya saya sekertaris anda saat ini"


Amir lantas bangkit untuk membuka pintu.


"Maaf, apakah.. pak direktur ada?" tanya seorang petugas medis wanita yang tampaknya Amir pernah melihatnya.


"Apa ada masalah, dokter... Gumy?" Amir membaca name tag petugas medis itu.


"Ya, saya ada sedikit pesan dari rekan rekan yang perlu saya tanyakan langsung pada beliau"


"Anda bisa menyampaikannya kepada saya terlebih dahulu. Mari-"


"Saya ingin menyampaikannya secara langsung, karena ini sedikit bersifat.. prubadi"


"...." Amir tercenung dengan pernyataan petugas medis ini.

__ADS_1


'Pasti mau menggoda bos lagi, heeeh.. nasiib.. nasib.. enak bener jadi orang ganteng' Amir membatin.


"Maaf, jika anda ingin membuat pernyataan cinta, maka.."


"Anda pasti sudah gila. Untuk apa saya melakukan hal rendah seperti itu. Denger ya, tuan.. tidak semua wanita berfikiran sama. Saya gak perduli atasan anda seganteng apa, saya hanya ingin memastikan sesuatu" tegas wanita itu sedikit kesal.


Ardy yang berada di dalam mengernyitkan dahi.


"Kek yang kenal suara itu" gumamnya. Ardy lantas bangkit dan mendekati pintu lantas sedikit mengintip dari celah pintu di sisi letak engselnya terpasang.


Mata Ardy membola kala mengetahui orang yang sedang beradu argumen dengan sang ajudan diiringi debaran jantung yang tetiba melompat lompat.


"Ngapain dia kesini?" gumamnya panik lantas berlari kearah kursi kebesaran.


Ardy bingung, tangannya mendadak tremor, gelisah gundah gulali mencari keberadaan cermin.


"Kenapa gak ada cermin sih?" gerutunya bergumam lantas menghidupkan layar ponsel dan menyetelnya pada kamera depan untuk selfie.


Tentu saja Ardy melakukannya untuk bercermin.


"Keringet oooh keringet.. kenapa bermunculan sekaraaang..." gumamnya masih panik seraya meraih tissue untuk menyeka keringat yang tiba tiba bermunculan di wajahnya.


"Bos.." seruan Amir menggantung kala tak mendapati sang atasan di kursi sofa.


Amir lantas menoleh kearah meja kerja sang bos dan mendapati hal yang tak pernah dia saksikan sebelumnya.


"Apa bos berdandan?" batin Amir dengan dahi mengernyit.


"Ekhem.. bos.." Amir mencoba memanggil Ardy kembali. Namun tanpa dia duga, Ardy tampak kehilangan kendali dengan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Entah terkejut atau.. gugup..


"I.. iya kenapa?" tanya Ardy mencoba bersikap sewajar mungkin, tapi ucapannya yang terbata tak bisa menyembunyikannya.


"Huhhh..." Ardy menghela nafas frustasi, tampak ingin menangis.


Menangis?


"Apa.. bos baik baik saja?" tanya Amir mendekati meja Ardy.


"Kamu naenya.." jawab Ardy dengan gusar.


"Itu ada.."


"Lama amat, kaki saya kan pegel" keluh Millie tiba tiba nyelonong masuk.


Ardy yang tak siap berhadapan dengan Millie dalam situasi seperti ini segera mengangkat map dokumen menutupi wajahnya, seolah tengah membacanya.


"Hei.. anda gak boleh sembarangan masuk tanpa izin.." sergahan Amir dipotong Millie dengan santainya.


"Udah diem aja deh. Ini masalah urgent, antara hidup dan mati. Anda mau bertanggung jawab?" potong Millie tanpa gentar.


"...." Amir tak bisa berkata kata. Mulutnya yang menganga tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Pit.. itu elo kan?"

__ADS_1


__ADS_2