
"Dok.. dokter Gumy.." seorang perawat membangunkan Millie dari tidurnya dengan lembut.
Dia sebenarnya tak mau membangunkannya, namun mereka butuh bantuannya.
"Enghh... jam berapa ini?" gumam Millie sedikit menggeliat lantas melihat jam tangannya.
"Jam 5 pagi. Apa yang terjadi?" tanya Millie masih lemas. Dia lantas mengecek suhu tubuh David dan membetulkan infus nya.
"Dokter gumy, maaf mengganggu. Tapi kami butuh bantuan anda. UGD kebanjiran pasien, dan.." perawat itu tak melanjutkan perkataannya karena Millie pasti mengerti maksudnya.
"Baiklah. Beri aku waktu 5 menit" pinta Millie yang lantas duduk, kepalanya menunduk lalu menoleh pada tubuh mungil yang tengah terlelap itu.
Semalaman Millie tak bisa tidur karena David terus menangis dan mengoceh tentang dadynya.
Millie turun dari brankar lalu mengecup kening David dan berlalu ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Perawat itu lantas menaruh snelli, stetoskop, dan senter kecil milik Millie di sofa lalu keluar ruangan.
Millie keluar ruangan itu sambil memakai jas snellinya, lalu menutup perlahan pintu kamar sang anak agar tak membangunkannya.
Ardy yang merasa bosan dan tak bisa tidur karena bau rumah sakit membuat perutnya mual, memilih berjalan jalan keluar kamar.
degg
Ardy menghentikan langkahnya dan menyembunyikan tubuhnya kala berbelok dan mendapati Millie keluar dari sebuah ruangan.
Tampak Millie menghela nafas sembari membelai pintu berwarna putih dengan sedikit kaca berbentuk persegi panjang di satu sisinya.
Ardy mendekat setelah Millie pergi dengan tergesa.
Ardy merasa tak asing dengan penampilan wanita itu yang mengenakan pakaian putih khas seorang dokter.
Berhenti di depan pintu itu untuk mengintip penghuninya melalui jendela pintu.
"Anak itu.." gumam Ardy tertegun melihat David yang tengah tertidur pulas.
Tangan Ardy diangkat sejajar dengan kenop pintu, namun dia urungkan untuk membukanya.
Akhirnya dia memilih pergi.
"Ngng... momyyy.. " langkah Ardy terhenti kala mendengar racauan bocah itu.
"Momyyy....huuuu... momy momy momyy..." David kembali menangis kala menyadari momy nya tak bersamanya.
Ardy yang hendak pergi pun mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lantas memantapkan diri untuk masuk karena David menangis semakin kencang.
"Gimana sih? anak sakit kok gak ada yang nunggu" gumamnya kesal.
"Halo adik manis. Kenapa nangis?" sapa Ardy perlahan mendekat. Dia tak mau tangis sang bocah semakin kencang dan dia dituduh sebagai penculik.
Namun tanpa dia duga, David justru menghentikan tangisnya menyisakan senggukan saat menoleh pada asal suara.
"Dady?.." cicitnya membuat kening Ardy mengkerut.
"Gawat. Ni anak hilang ingatan apa ya?"
"Eeh.. bu bukan.. om cuma.."
"Dady dady dadyy..." David kembali menangis sambil merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
"Gawat" Ardy segera mendekat dan memeluknya. Selama si anak tenang, biarlah dia dengan pikirannya.
Ada perasaan hangat kala Ardy memeluk David.
Pun dengan David yang merasakan nyaman dalam pelukannya.
David menghidu aroma Ardy dengan dalam. Persis seperti yang selalu Millie lakukan.
"Dady.. dady udah pulang, gak akan pergi lagi kan? kesian momy nanis teyus. David gak mau liat momy nanis" ungkap David mencicit.
"David? namamu.."
"hn.. namaku David, momy ngasih nama itu karena nama panggilan sayang momy buat dady" jawab David antusias.
David berceloteh dan sesekali dibalas Ardy. Mereka bahkan tertawa bersama.
30 menit berlalu tak terasa. Ardy harus segera kembali ke kamar sebelum Millie datang.
"Oke, om balik lagi ke kamar om ya. Nanti dimarahin perawat galak" kelakar Ardy.
"No dady. Janan peygi yagi. Tunggu momy dateng nanti kita puyang bayeng" sergah David yang menahan tangan Ardy.
Ardy bingung, dia tak mau ayah anak ini salah paham karena melihat kehadirannya disini.
"Tapi om juga pasien disini" akhirnya Ardy punya alasan dengan menunjukkan tiang infusnya yang ia bawa sampai kekamar David.
"Hihihi... dady nakal... tapi nanti dady janji ya kesini yagi" mohon David membuat Ardy tak tega. Dia tak bisa berjanji karena mungkin dia akan segera pulang.
Ardy menuliskan sesuatu pada secarik kertas.
__ADS_1
"Apa kamu punya ponsel" tanya Ardy dan dijawab gelengan kepala.
"Momy biyang ponsel bisa bikin David bodoh. Tapi David bisa pinjem punya eyang uti" jawaban David membuat Ardy tersenyum. Sangat berbeda dengan keponakannya yang selalu disodori ponsel agar sang ibu bebas melakukan apapun.
Terbukti dengan kepintaran David dalam berkomunikasi. Selain sopan, bocah ini lumayan menguasai banyak kosakata.
"Baiklah. Telfon om kalau kamu pingin ngobrol sama om" Ardy menyerahkan secarik kertas itu.
"Dady.. bukan om.." ralat David sendu.
"Dady benelan mau peygi? nda mau bikin momy seneng?" tanyanya parau.
Ardy menangkap kesedihan mendalam. Dia tak tahu mengenai masalah keluarganya namun dia merasa prihatin.
"Om.. dady banyak kerjaan" Ardy merasa aneh dengan panggilannya sendiri.
"Nanti kalau kerjaan dady sudah selesai, kita ketemu lagi. Makanya David jangan lupa telfon dady biar dady tau kemana harus ngehubungin David, okay?" bujuk Ardy. Biarlah dia menjadi temannya dahulu. Ardy merasa benar benar tak tega.
"Janji? dady bakalan bayeng momy yagi?" pinta David antusias.
Ardy mengangguk ragu.
Akhirnya Ardy sukses bernegosiasi dengan bocah itu. Ada rasa enggan berpisah, namun dia tak ingin memperumit masalah orang lain.
Saat baru menutup pintu, Ardy mendengar langkah mendekat. Buru buru dia melangkah pergi dan bersembunyi dibalik tembok untuk mengintip.
Ternyata Millie yang datang.
Ardy menekan dadanya. Debaran itu tiba tiba terasa terasa kencang.
Ardy terus menatap Millie yang tengah membuka snelli lalu mencuci tangan dengan cairan desinfektan yang tersedia, menggerai rambutnya dengan melepas ikatannya secara asal.
"Cantik.." lirih Ardy terpesona.
Millie menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar, lalu masuk.
"Millie..." seru Ardy lirih. Entah kenapa dia ingin memanggil nama itu.
srett
Ardy terkejut karena Millie tiba tiba menyembulkan kepalanya keluar pintu. Menoleh ke kiri dan ke kanan.
Ardy yang langsung kembali bersembunyi mengusap dadanya karena rasa terkejut itu.
"Sialan, ampir ketauan" gumam Ardy yang merasa bodoh.
__ADS_1