
MON MAAP NI MAK EMAK, OTHOR LAGI NEMENIN IBU DIRAWAT MO OPRASI, JADI UP NYA BOLONG BOLONG.
MOGA KALIAN SEHAT SELALU YA
❤️❤️❤️🤧
"Serius, itu elo?" tanya Millie semringah.
Ardy mengangguk sambil tersenyum. Namun senyumnya tiba tiba surut dan wajahnya memerah karena Millie tiba tiba memeluknya.
"Waaa... gua gak nyangka bisa ketemu elo lagi, Pit" seru Millie ber-euphoria menepuk sebelah pundak Ardy.
"Pit?" tanya Ardy terheran. Apa dia salah orang dengan pengalaman serupa, pikirnya.
"He em, Depit" Millie mengangguk antusias.
"Gua gak tau nama lo siapa waktu itu,dan gua namain lo Depit, karena burung lo kek burung pipit. Imut" ucap Millie melingkarkan telunjuk dan jempolnyamenampakkan barisan gigi putihnya.
Wajah Ardy berubah merah padam, lengkungan bibirnya yang keatas berubah posisi menjadi melengkung kebawah.
"Seenaknya ngatain burung orang" ketus Ardy yang tak rela barang pribadinya dinilai seenaknya. Masa iya, burung perkasanya dibilang kek burung pipit. Tinggian dikit levelnya kan bisa, biar gak jauh jauh amat perbandingannya. Pikir Ardy.
"Trus, emang udah jadi rajawali?" ledek Millie mempertahankan senyum jahilnya sembari menaik turunkan alisnya.
Ardy hanya membalasnya dengan gerutuan tak jelas.
🦅
🦅
🦅
Ardy dan Millie semakin dekat setelah hari itu.
Mereka bahkan tampak seperti pasangan tak terpisahkan, karena dimanapun Millie berada, selalu ada Ardy.
Ardy bahkan ikut kerja paruh waktu di beberapa cafe tempat Millie bekerja.
Entahlah. Ardy merasa nyaman bergaul hanya dengannya.
"Maaf, tuan muda. Tuan besar menunggu anda" seorang pria berotot tiba tiba menghampiri Ardy yang tengah membersihkan meja cafe yang berada di luar.
Ardy memutar bola matanya malas. Lantas membuka apron dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
Millie yang berada dibalik kaca cafe terheran dengan Ardy yang melangkah menjauhi cafe menanggalkan apron cafe tersebut lalu melangkah keluar untuk mencari tahu tujuan Ardy pergi tanpa pamit padanya terlebih dahulu.
"Kenapa ayah kesini? bukankah Ardy sudah minta ayah untuk gak ngeganggu kehidupan Ardy?" ketus Ardy menyapa sang ayah didalam mobil maybach nya.
"Ayah hanya merindukanmu, nak. Apa itu salah?" jawab Jordan sang ayah tertawa ringan sembari menggoyangkan gelas berisi cairan berwarna merah dengan elegan.
"Tidak salah. Hanya aneh. Apa yang ayah inginkan?" timpal Ardy dengan ekspresi jengah. Dia meyakini sang ayah menginginkan sesuatu darinya.
"Hehe.. kamu sangat mengenal ayahmu ini. Kembalilah, dan jalankan perusahaan yang ayah bangun untukmu. Profesimu nanti mungkin tak akan bisa membuatmu bahagia" ucap tenang Jordan sambil menyesap sedikit demi sedikit cairan merah itu.
"Maksud ayah, ayah bahagia meninggalkan ibu?" cibir Ardy. Matanya beralih memandang ke luar jendela dimana Millie tengah memandangi mobil hitam yang ia tumpangi dengan dahi berkerut dan kedua tangan dipinggang rampingnya.
Jordan mengikuti arah tatapan Ardy lalu terkekeh.
"Gadis yang menarik. Mungkin dia cocok menjadi ibu sambungmu" tukas Jordan membuat kepala Ardy sontak menoleh padanya dengan ekspresi marah.
"Sudah kubilang jangan ganggu kehidupanku. Bukankah aku tak pernah meminta apapun padamu, bukan mauku jika aku terlahir sebagai anakmu. Bahkan kalau kamu menginginkan nyawaku, akan ku berikan karena menyesal terlahir dari benihmu" geram Ardy berkata dengan penuh penekanan.
Namun Jordan lagi lagi menanggapi ucapannya dengan tawa.
"Sudah kuduga dia berarti untukmu. Matamu yang ibumu wariskan kepadamu tak bisa menyembunyikan perasaanmu. Baiklah, ayah tak akan mengganggumu kalau itu yang kamu inginkan" ucap Jordan akhirnya. Namun seringai licik ia sembunyikan saat kembali menyesap cairan haram tersebut.
Ardy mendelik lalu membuka pintu dengan ragu ragu.
Ardy berharap sang ayah pergi dan tak kembali muncul di kehidupannya.
Ardy melangkah keluar dari mobil dan kembali ke cafe. Mendekati Millie yang sedari tadi menatap mobil yang ia masuki dengan penuh tanya.
"Cari tahu tentang wanita itu" titah Jordan pada ajudannya dengan mata terus menatap Millie yang tengah berinteraksi dengan sang anak.
"Kita lihat, apa kamu tetap keras kepala" lanjut Jordan bermonolog.
"Siapa?" tanya Millie mengedikkan dagu menunjuk pada mobil mewah itu dengan dagunya.
"Orang gak penting. Udah, lanjut kerja. Tar dipotong honornya gak bisa setor lo" ajak Ardy sembari menarik sebelah tangan Millie masuk ke cafe.
"Tuan, ini data gadis itu" ajudan Jordan menyodorkan tablet melalui jendela mobil yang belum beranjak.
Senyum miring tersungging di wajahnya.
"Hmm.. menarik. Bawa aku ke tempat itu" titah Jordan seraya menyerahkan kembali tablet pada sang ajudan.
"Baik, tuan" sang ajudan menunduk hormat.
__ADS_1
"Pit, gawat" seru Millie menatap ponselnya.
"Kenapa?" timpal Ardy menaikkan sebelah alisnya.
"Mo ada sidak asrama. Lo kudu balik ke tempat semula dulu keknya" panik Millie.
"Hah.. serius?" Ardy turut panik. Dia tak mau kembali sekamar dengan Edo, si maniak 5eks. Pun dengan Millie yang tak nyaman dengan aktivitas Linda yang super jorok dan bebas bergaul dengan para maniak.
"Gawat" ucap keduanya bersamaan. Lalu saling melirik dan berfikir mencari solusi agar mereka tak kembali pada mantan rekan sekamar mereka.
"Hah.. kepala asrama sialan. Kepaksa gue sekamar lagi ma si jalu" gerutu Linda saat tiba di kamar Millie membawa tas berisi perlengkapan perangnya.
Millie hanya menatapnya sinis lalu memilih membuang muka. Dia tak mau meladeni manusia tak bermoral sepertinya.
Buang buang tenaga saja, pikir Millie yang memilih membuka buku dan mempelajari bab berikutnya dari mata kuliah yang akan dibahas besok.
"Sayang, kamu dimana?" suara manja Linda membuat perut Millie mual.
Linda tengah melakukan panggilan telfon dengan seseorang yang pastinya lawan bertarungnya kali ini.
"Udah, kamu tenang aja, anggap dia gak ada. Dateng jam 12 ya, aku kangen" bisik Linda mempertahankan manjanya. Jari telunjuknya memainkan helaian rambut seolah lawan bicaranya bisa melihat dari sebrang telfon.
Millie jengah dengan kelakuan Linda. Bisa gak tidur nih semaleman. Keluh Millie membatin.
Sidak dilakukan pukul 9 hingga pukul 11 malam. Tak ada yang kedapatan sekamar dengan lawan jenis karena informasi sidak kali ini telah dibocorkan seseorang melalui grup asrama.
Tok
tok
Suara pintu diketuk, membuat lengkungan bibir Linda meninggi. Dengan antusias Linda membuka pintu lalu memeluk sosok yang muncul didepan pintunya.
Millie yang tengah bersiap merebahkan diri itu menahan gerakannya untuk berbaring karena Linda langsung memulai aksinya tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Sialan, gue dianggap setan" gerutunya lantas membawa bantal dan ponselnya keluar kamar.
"Gue ikut tidur di kamar lo ya Pit" pesan yang Millie kirimkan pada Ardy.
"Gue tidur di luar" balas Ardy membuat Millie menghela nafas kasar. Menyesali kesamaan nasib mereka saat ini. Tapi setidaknya mereka tak sendiri.
Millie melirik pada sesuatu yang memunculkan ide, lalu tersenyum licik.
"Kita liat, siapa yang bakalan tidur diluar" monolognya.
__ADS_1