
"Pabrik lama?" tanya Ardy kala Arsen memerintahkan Amir untuk mengarahkan mobil yang tengah dikemudikannya ke pabrik yang pertama kali dirintis kakek buyutnya namun kini telah dipindahkan ke pelosok karena peraturan pemerintah kota untuk memindahkan seluruh pabrik yang berada di kota ke pelosok.
Arsen tersenyum misterius dengan kebingungan sang adik. "Nanti juga kamu tau"
Saat memasuki pagar tinggi yang terbuat dari besi berwarna abu abu, tampak anak buahnya sudah mengamankan penjaga.
"Pabrik terbengkalai tapi dijaga? apa mereka menjaga sesuatu?" tanya Millie yang sepemikiran dengan Ardy.
"Mungkin mereka menjaga rongsokan yang tersisa. Lumayan kan besi besi nya bisa di kilo, bisa buat beli rumah masa depan" celetuk Amir membuat ketiga orang itu menoleh padanya.
"Kamu maksudnya?" lanjut Millie mengomentari celetukan Amir.
"Ehe.. iya kalo saya pasti gitu. Tapi kalo tuan Jordan gak mungkin mikirin recehan seperti saya. Pasti beliau menyimpan barang yang sangat berharga" imbuh Amir.
"Terus ngapain kamu curhat kalo mikir kek gitu" cebik Millie gemas mencubit lengan Amir.
Ardy lantas meraih tangan Millie dengan lembut, namun ekspresinya tampak tak suka.
"Jangan pegang orang sembarangan" tukas Ardy membuat Arsen memutar bola matanya. Merasa melihat cerminan dirinya sendiri yang possesif pada mendiang istrinya.
Ternyata dulu dia semenyebalkan ini. Pikirnya.
__ADS_1
"Kamu dulu waktu ikut ayah, apa tau mengenai tempat ini?" lanjut Ardy bertanya pada Amir, masih penasaran.
Mereka sudah turun dari mobil dan melangkah masuk. Jajaran anak buah yang menyambut mereka setengah membungkuk untuk memberi hormat.
"Seperti mereka, tuan. Hanya berjaga di luar. Karena tak ada yang boleh masuk selain.." ucapan Amir terpotong karena tercengang dengan tampilan di dalam hanggar pabrik yang mirip seperti ruang tengah sebuah mansion.
Mewah
"Selamat datang, tuan Arsen" sambut seorang wanita tua berusia 50an dengan senyum ramah.
Wanita itu tampak tengah menyuapi seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan tatapan yang kosong.
"Halo, mbok. Bagaimana kabarnya?" balas Arsen lantas memeluk wanita tua itu dengan erat, seperti meluapkan rasa rindu.
Ardy yang memperhatikan sedikit bingung. Selama ini apakah Arsen tinggal disini bersama wanita wanita ini? tapi siapa mereka, karena Arsen tampaknya sangat dekat dengan wanita tua itu, lalu disebelahnya..
Ardy semakin tertegun. Matanya mengunci pada wanita paruh baya yang tadi tengah disuapi wanita tua itu.
"Nyonya.. tuan muda sudah datang" ucap wanita itu perlahan di dekat telinga wanita berkursi roda.
Sontak wanita berkursi roda itu menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari keberadaan seseorang. Tatapan matanya tak lagi kosong, namun berkaca kaca.
__ADS_1
"Ardy.. beri salam pada ibu mu. Ibu kandungmu" ucap Arsen menepuk pundak Ardy.
Sontak Ardy, Millie dan Amir membelalakkan mata mereka.
"Ibu.." lirih Ardy menatap tak percaya pada wanita berkursi roda yang kini menatapnya balik.
"Ardy.. benarkah itu kamu? tapi.. " tanya lirih wanita itu seraya mencoba berdiri.
"Nyonya, apa yang anda lakukan. Anda belum bisa ber.." sergah wanita tua itu, namun terpotong kala melihat kenyataan jika wanita yang sedari tadi duduk di kursi roda itu bisa berdiri dengan kakinya tanpa kesulitan, lalu melangkah perlahan meski tertatih.
"Ya Tuhan... anda bisa berjalan, nyonya.." ucap wanita itu terharu diiringi deraian air mata.
"Ardy.. Ardy.. Ardy.." panggil ibu kandung Ardy berulang kali sambil melangkah mendekat, merentangkan tangannya kedepan seolah ingin menggapai Ardy yang jaraknya cukup jauh bagi seseorang yang tidak bisa berjalan.
Ardy masih mematung dengan air menggenang di pelupuk.
"Pergilah dan sambut ibumu" titah Arsen.
"Ibu.." lirih Ardy lantas bergegas mendekat karena ibunya tampak akan tersungkur.
brukk
__ADS_1
Ardy berhasil menangkap tubuh ringkih sang ibu.
"Ardy.. ini beneran kamu, nak.. kamu benar benar anakku Ardy.." tanya sang ibu yang bernama Ardina tergugu sambil mengapit wajah Ardy.