My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Terpesona


__ADS_3

"Pit..."


"Burung pipit kesayangan..."


"Punyaku belum tumbuh..."


"Kamu harus janji untuk menikahiku kalo aku gak laku laku ya, pit"


"Pit.."


"Depit.."


Kilatan kilatan ingatan itu muncul seiring dengan suara seorang wanita dengan paras manis dan tomboy, hal itu memberikan reaksi pada tubuh Ardy yang tengah terbaring selama 2 tahun ini.


"Dokter.. dokter tolong anak saya.." teriak Maggie panik kala melihat tubuh Ardy bergetar namun matanya masih menutup.


Paramedis segera menghampiri lalu memeriksa organ vital dari tubuh Ardy.


"Selamat, nyonya. Anak anda sudah siuman" ucap sang dokter yang bertanggung jawab akan Ardy selama dirawat di rumah sakit di Amerika.


"Apa? dia sadar?" tanya Maggie tak percaya. Tapi dia bingung karena pasien itu pasti tak mengenalinya sedangkan dia dan sang suami sudah menyatakan diri jika mereka adalah orang tuanya.


"Tuan, apa anda mendengar saya?" tanya sang dokter yang membuka kelopak mata Ardy lalu menyorotkan senter kecil agar bisa melihat reaksi pupil matanya.


Ardy mengedip lemah sebagai jawaban.


"Bagus. Nyonya, putra anda masih lemah. Saya sarankan biarkan dia beristirahat dan terbiasa dengan kesadarannya. Nanti saya akan datang lagi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

__ADS_1


Dan sekali lagi saya ucapkan selamat, nyonya" pamit sang dokter tersenyum lega.


Maggie segera menghubungi sang suami yang tengah melakukan pekerjaan di luar kota.


"Bagaimana?" tanya Michael yang terengah karena tergesa gesa kembali untuk melihat kondisi Ardy yang baru siuman.


Ardy sedang diperiksa kembali oleh dokter. Tubuhnya belum pulih seutuhnya karena terlentang selama 2 tahun lamanya membuat otot ototnya lemah, jadi dia hanya bisa duduk setengah berbaring ditopang brankar yang dinaikkan pada bagian atasnya.


"Putra anda mengalami amnesia. Tapi dia hanya ingat namanya saja. Selebihnya dia tak ingat apapun. Untuk itu saya harap kalian lebih bersabar lagi dan memberikan dukungan secara mental padanya.


Kalau bisa, pancing ingatannya dengan sesuatu yang menjadi penyebab amnesia. Entah itu yang disukainya, maupun yang dibencinya.


Tapi saya sarankan, pelan pelan saja agar tak melukai syaraf otaknya" saran sang dokter yang lantas pamit.


Michael melangkah mendekat secara perlahan.


"Apa.. apa kamu mengenal kami, nak?" tanya Michael yang seharusnya tak ia tanyakan.


Betapa bodohnya dia.


Bahkan istrinya tampak merutuki kebodohan sang suami yang jelas terlihat gugup.


Ardy kembali menoleh padanya lantas menggeleng.


"Lalu namamu.. apa kau ingat namamu?" lanjut Michael.


Ardy mengangguk.

__ADS_1


"Depit" jawab lirih Ardy lalu kembali memalingkan wajah menatap jendela.


Ada rasa sesak kala menyebutkan namanya sendiri.


Michael dan Maggie yang baru mendengar nama itu, terutama cara menyebutkan nama itu mengernyitkan dahi.


"Oo David.." lirih mereka bersamaan seraya mengangguk anggukkan kepala.


"Kami.. kami adalah orang tuamu nak. Apa kau tak ingat?" lanjut Michael bertanya.


"Tentu saja dia tak ingat, dasar bodoh" rutuk sang istri dalam hati yang kesal dengan pertanyaan sang suami.


Ardy menggeleng. Namun matanya terus menatap jendela.


Cuaca sedang hujan, titik titik air di jendela membuat embun.


Ardy ingin mengukir sesuatu pada embun itu, namun tangannya masih lemah.


Hanya bayangan seorang wanita yang menari nari di pikirannya.


"Bibi Maggie, aku datang.." sapa seorang wanita masuk kedalam ruangan VIP itu.


Ketiga orang itu reflek menoleh padanya.


"Ou my god..." gumam keponakan Maggie terperangah melihat Ardy yang sudah siuman itu.


"Bibi.. dia.. dia sangat tampan.." ucapnya tanpa sadar karena terpesona oleh paras Ardy yang sudah sadar.

__ADS_1


__ADS_2