
"Pingsan kan" tukas Millie menatap iba pada kedua petugas yang tergeletak di lantai lorong yang sepi.
"Udah, nanti juga bangun lagi. Cepetan nanti keburu balik lagi" timpal Ardy menarik tangan Millie menjauh dari area mengerikan.
Jika saja bukan bersama Millie, mana mau Ardy menginjakkan kaki pada area tersebut.
Brukk
Saat berbelok dari lorong, tubuh Ardy yang berlari di depan Millie sembari menggandeng tangannya menabrak seseorang.
"Auhhh..." Ardy dan orang yang bertabrakan dengannya bersama sama mengaduh mengusap kening masing masing.
"Kakak.. ngapain ada disini?" tanya Ardy masih berusaha meredakan rasa sakit pada kening karena bertabrakan dengan Arsen, sang kakak.
"Huhuu... ya nyari kalian lah.. uhh.. kalian kemana aja sih, di panggil panggil malah lari.." tukas Arsen membuat Ardy dan Millie saling melirik.
"Bos.. darimana saja? kami mencari kalian dari tadi" sela Amir yang baru datang dengan nafas tersengal. Tampaknya Amir mencari mereka ke seluruh penjuru rumah sakit.
"Jadi kalian yang nyariin?" tanya Millie yang lantas diangguki Arsen dan Amir.
"Tau kalian yang nyariin, ngapain tadi kita sembunyi di kamar mayat" keluh Millie.
tring
tring
__ADS_1
Suara ponsel Amir menginterupsi mereka.
"Gawat, bos.. tuan Jordan dan anak buahnya memaksa masuk rumah sakit. Ayah anda sepertinya murka dengan anda" Amir melapor sesuai apa yang disampaikan anak buahnya.
"Kalo gitu, kita sambut mereka" ucap Ardy dengan tekad membara untuk memulai perang dengan sang ayah.
"Enak aja perang disini. Rumah sakit ini nantinya bakalan jadi milik gue. Mana boleh ada perang disini" sergah Millie menahan langkah Ardy lantas menyeretnya kembali ke lorong menuju kamar jenazah.
"Mill.. mo kemana? kok balik arah?" tanya Ardy namun langkahnya mengikuti langkah Millie.
Arsen dan Amir pun mengikuti mereka karena belum punya rencana harus bagaimana menghadapi Jordan.
"Eee... bos.. apa gak salah?" tanya Amir setelah melewati kedua petugas yang pingsan lantas melihat Ardy dan Millie masuk ke kamar jenazah.
Amir dan Arsen menghentikan langkah mereka lalu saling bersitatap.
"Ga ada salahnya mencoba. Sambil nyusun strategi" imbuh Arsen yang lantas ikut masuk.
"Ya tapi gak di tempat kek gini juga kali" gumam Amir bergidik.
"Kalian.." Arsen tertegun kala melihat Ardy dan Millie berbaring di brankar yang sama di sebelah kantong jenazah yang tertutup.
"Berisik, cepetan ikutin aja sih" pungkas Ardy.
"Trus gue dimana?" tanya Arsen bingung sambil bergidik menatap kantong jenazah yang pastinya terisi.
__ADS_1
"Tuh banyak brankar" tunjuk Ardy lantas menutup dirinya dan Millie dengan kain putih dengan posisi yang sama sebelumnya.
Millie menyambutnya dengan senang karena bisa berpelukan dengan Ardy lagi.
"Napa kalian berdua?" lanjut Arsen terheran.
"Ssstt.. cosplay jadi mayat mesum" tukas Millie yang membuka kain lalu kembali menutupnya.
"Cosplay.. I can't believe it" gumam Arsen menganga tak percaya.
"Tuan.. mereka datang" seru Amir berjalan dari pintu dengan panik.
Tanpa banyak bicara Amir langsung menempatkan diri di brankar sebelah kanan kantong jenazah lalu menutup diri.
Arsen bingung lantas panik kala mendengar derap langkah yang mendekat.
"Tuan muda, kenapa anda disini?" bisik Amir terkejut sekaligus bingung kala Arsen menyibak lalu naik ke brankar yang ditempati Amir.
"Ssstt.. cosplay jadi mayat mesum" timpal Arsen datar lantas kembali menutup kain. Tak percaya dia melakukan hal konyol seperti adik dan calon iparnya.
Amir yang ingin protes mengurungkan niatnya karena orang orang keburu berdatangan.
"Jangan mengada ada kamu. Masa mayat bangun... ee.. tadi ada berapa mayat, Nang?" tukas petugas yang pertama kali membawa mayat mesum kedalam kamar jenazah dan bingung karena kini dia melihat ada 3 brankar dengan isi yang kira kira sama dengan yang pertama.
"Gawat, penggandaan mayaat..." gumam Danang dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Ampuun, yat.. saya tobaat gakan gandain uang lagii" mohon Danang menangis.