My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Menyerah Dengan Keputusan


__ADS_3

"Millie.. Millie.. Millie.." racau Ardy membuat perawat yang tengah mengecek perkembangannya mengerutkan kening.


Ya, Ardy selamat.


flash back


"Millie.. say my name.. just this once.. and for the last.." mohon Ardy seraya menitikan air mata.


Satu hal yang ia ingin dengar dari mulut sang istri yang sangat ia cintai, adalah menyebut namanya. Nama aslinya.


Namun bibir itu tampak enggan untuk menyebut namanya, sedangkan tangannya tak kuat lagi untuk menahan bobot tubuhnya yang dibebani tubuh Hendrik.


Tak ada cara lain selain menyelamatkan sang istri dari terjatuh.


Akhirnya Ardy memutuskan untuk mengorbankan diri.


Setidaknya janjinya pada Millie sudah dia penuhi.


Yaitu menikahinya.


"I love you.." kata terakhir yang dia ucapkan sebelum cekalan tangannya ia lepas.

__ADS_1


"NOOO... ARDIIII...." teriak Millie kala tubuh Ardy jatuh.


"Akhirnya.. kamu menyebut namaku.. kita akan selalu bersama, sayang. Aku janji, di kehidupan selanjutnya kita akan kembali bersama.." janji Ardy dalam do'a nya sebelum tubuhnya menghantam air secara vertikal.


shassss...


Cekalan Hendrik terlepas karena hantaman itu. Selain itu, tubuhnya sudah banyak kehilangan darah, dan dia pun akhirnya meregang nyawa.


Kesadaran Ardy sedikit demi sedikit menurun.


Oksigen dalam paru parunya menipis, hingga tanpa ia duga sebuah arus deras menariknya masuk kedalam celah tebing yang berada dibawah air.


"Ada mayaat.. ada mayaaat... " teriak salah seorang wisatawan yang tengah menikmati alam dengan menaiki perahu.


Tubuh Ardy yang telungkup itu diraih salah satu wisatawan dan menariknya naik keatas perahunya.


"Dia masih hidup" ucap wisatawan itu kala merasakan denyut lemah di pergelangan tangan Ardy.


Dia lantas melakukan pertolongan pertama pada korban tenggelam hingga air berhasil keluar dari tubuh Ardy. Namun kesadarannya tetap belum kembali.


Mereka lantas membawanya ke rumah sakit terdekat dan memutuskan untuk menungguinya.

__ADS_1


"Keluarga korban" seru seorang perawat memanggil kerabat yang mengantar Ardy.


"Iya, sus. Kami orang tuanya" ucap lelaki paruh baya yang menyelamatkan Ardy.


Sang istri menahan pundaknya, ingin protes namun sang suami menenangkannya. Yang penting orang itu selamat terlebih dahulu.


Entahlah, hatinya tergerak untuk menyelamatkannya dan merawatnya kala melihat tubuh itu mengambang.


"Silahkan anda selesaikan administrasinya, karena pasien dalam keadaan koma jadi harus dipindahkan ke rumah sakit besar agar perawatan dan peralatannya menunjang keselamatannya" sang perawat memberikan beberapa helai kertas sambil menjelaskan kondisi Ardy.


"Baik. Akan kami lakukan" putus si pria.


"Pah, apa yang papa lakukan? dia orang lain, cukup kita membawanya kesini, selebihnya bukan tanggung jawab kita" protes sang istri berbisik.


"Sudah lah, ma. Anggap saja kita mendapatkan seorang anak. Berdo'a saja dia cepat pulih, dan bisa meneruskan bisnis papa" ucap sang suami yang bernama Michael. Seorang keturunan amerika yang tengah merayakan ulang tahun pernikahan perak mereka di pulau indah itu.


Dia dan sang istri belum juga dikaruniai seorang anak, padahal tak ada masalah pada keduanya.


"Tapi gimana kalo ternyata orang ini jahat, dan.. dan kalo nanti keluarganya mencarinya gimana pah?" lanjut sang istri yang masih belum menerima keputusan sepihak sang suami.


"Papa yakin dia orang baik, ma. Kalaupun keluarganya mencarinya, pasti akan tersiar kabar, bukan? sampai saat itu terjadi, kita yang akan merawatnya" Michael terus berusaha menenangkan sang istri yang akhirnya menyerah dengan keputusan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2