
"Dok.. maaf ni ya. Emm.. kemaren..aduh gimana ngomongnya ya" gusar seorang perawat saat mereka tengah berada di nurse station untuk mengecek status pasien.
"Apaan sih. Kalo ngomong tuh yang jelas" tukas Millie tanpa mengalihkan perhatian dari deretan kertas yang tersusun rapi.
"Kemaren, saya kebagian dines di ruang VIP. Tapi.."
"Kenapa? kamu dilecehin?" potong Millie bersiap untuk bertempur.
"Eh eng.. enggak.. aduh.. coba kalo iya kan lumayan" gumamnya.
"Apa?"
"Aduh dok. Gausah pake mode perang gitu dong, serem kan jadinya" cebik perawat yang lantas pergi.
"Yee.. baperan amat ni orang" ketus Millie.
"Hahaha.. dady yucu..." terdengar suara tawa nyaring sang anak dari dalam kamar.
"Sayang, kamu lagi apa?" sapa Millie tiba tiba mengejutkan David yang tengah melakukan video call dengan Ardy.
David seketika menyembunyikan ponsel milik Millie yang dipinjamnya dengan alasan ingin bermain game untuk mengusir rasa bosan.
"Nda napa napin, momy" jawab bocah itu ceria.
"Hmm sepertinya jagoan momy udah sembuh ya. Berarti bakal cepet pulang" ucap Millie memeriksa keningnya.
"Uhuk uhuk.. David maci cakit momy.." jelas David pura pura batuk.
Millie menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang aneh dengan bocah ini.
"Masih sakit ya.." goda Millie menggerakkan kesepuluh jarinya diudara hendak menggelitik David.
"No momy stop geyi hahaha..." David tergelak karena ulah nakal tangan Millie.
"Okay, momy ambil makan dulu, abis itu kamu siap siap ya. Papa Arsen mau jemput" titah Millie membuat wajah David mendadak murung. Sambungan telfon masih menyala dan tentu saja Ardy mendengarkannya.
"David nda mau sama papa Arsen. David.. david... mau temenin momy keyja cini" keluh David memajukan bibir mungilnya.
"Sayang.. kamu kan udah sembuh, udah sehat. Rumah sakit itu tempat orang sakit" bujuk Millie.
"Momy juga sehat kan?" balas David membuat Ardy menahan senyum.
__ADS_1
"Momy kerja disini, sayang"
"David juga mau keyja. Keyjanya jagain momy bial nda digangguin doteng genit" timpal David membuat Millie mengangakan mulut, namun membuat Ardy terkekeh.
"Okay. Sehari lagi kamu boleh disini"
"Nda mau. David mau tiap hari kesini sama momy. David janji mau belajar" potong David membuat Millie terheran.
Sejak kapan anaknya ini pintar bernegosiasi.
"Eyang uti nanti.."
"Eyang uti mainan ikan mulu, David belenang cama ikan nda boleh katanya nanti jadi ikan sapu sapu. Eyang kakung mainan buyung mulu" tolak David. Namun hal itu membuat Millie menahan semburan tawanya.
"Ppft.. mainan burung.. coba kalo burung pipit kesayangan masih ada.." gumamnya sendu, namun terdengar oleh Ardy.
"Burung pipit.." lirih Ardy.
"Oke oke. Sekarang kita makan dulu ya. David jangan kemana mana. I love you" pamit Millie sambil melirik jam tangannya. Dia harus segera kembali bekerja.
"I love you more" jawab Ardy. Dia merasa tak asing dengan pernyataan tersebut dan dengan reflek mengucapkannya.
Millie mengernyit. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Merasa ada yang berbicara dengan suara baritone.
"Dady nakal.." protes David kala Millie sudah pergi. Ardy terkekeh.
Mereka kembali mengobrol sampai David menghabiskan makannya.
Ardy salut dengan kemandirian bocah itu yang tampak sudah biasa makan sendiri.
Waktu berlalu. David benar benar ikut ke rumah sakit dan diam di ruangan Millie dengan patuh.
Millie hanya menyediakan mainan dan peralatan menggambar sekaligus ponsel, dan David sangat penurut.
Millie teringat obrolannya dengan ibu mertuanya kala itu.
"Anak kamu aneh deh sejak pulang dari rumah sakit. Masa sekarang mintanya ponsel. Terus sering ketawa ketawa sendiri gitu di gazebo. Ibu pernah cek ponselnya, tapi gak ada yang mencurigakan" keluh Ardina. Dan Millie memang menyadari hal itu.
Pernah suatu saat dia memeriksa histori panggilan, namun tak ada apapun yang bisa dijadikan penjelasan.
Bagaimana mungkin seorang anak bisa seapik itu, pikir Millie. Karena dia sangat yakin kalau David sering tampak melakukan panggilan.
__ADS_1
Tak ada game online yang terpasang, ataupun aplikasi lain yang baru terpasang.
"Hahaha... dady payah. Tinggal biyang aja sama momy kan beyes" ucap David yang tengkurap di karpet sofa ruangan Millie tengah mewarnai gambar.
Millie mengambil kesempatan itu untuk mengendap karena tampaknya sang anak tak menyadari akan kehadirannya.
"David, dady harus meeting dulu ya" ucap suara baritone dari seberang telfon.
Millie mengernyit karena sedikitnya menghafal suara itu.
"Tapi dady janan tutup telfonnya. David mau liat dady keyja" pinta David yang disetujui Ardy.
"Dady?" heran Millie.
Sepengetahuan dia selama ini, tak ada sanak saudara yang dipanggil 'dady' oleh sang anak, kecuali..
"Ardy.." lirih Millie kala melihat layar datar itu menampilkan wajah yang dirindukannya 5 tahun ini.
Meskipun wajahnya ditumbuhi jambang dan janggut, namun Millie mengenali mata dan bibir itu.
Tak heran jika sang anak yang tak pernah bertemu pun mengenalinya, karena Millie memajang foto pernikahan mereka dengan ukuran sangat besar di ruang tamu.
Ardy tengah memperhatikan rekan bisnisnya mempresentasikan ide, jadi dia tak menatap ponsel yang disandarkan pada sesuatu sehingga tetap menampilkan dirinya yang tengah menautkan kesepuluh jarinya berekspresi serius.
Millie mengernyitkan dahi kala menilik logo perusahaan yang terpampang di tembok belakang Ardy.
Millie meraih ponsel itu agar bisa melihatnya lebih dekat.
"Momy.." cicit David yang terkejut karena ketahuan Millie.
Hal itu sukses mengalihkan perhatian Ardy.
Degg
Tatapan mereka beradu dan saling mengunci kala Ardy memalingkan wajahnya pada ponsel.
"Millie.." lirih Ardy.
"Diam ditempat kamu" desis Millie dengan mata berkaca kaca namun ekspresi amarah yang ditampilkan.
Ardy seketika gugup kala Millie mengintimidasinya.
__ADS_1
Dia seolah kedapatan berselingkuh, bingung harus menjelaskan apa.
"Mampus"