
"Bos" sapa Anton sedikit membungkukkan tubuh dan kepalanya tanda hormat kala Ardy kembali menempati singgasananya, diikuti Amir dan Millie yang celingukan menatap satu per satu pria bertubuh kekar yang sebagian besar memenuhi koridor luar ruangan dan hanya beberapa orang saja yang tinggal di dalam ruangan.
"Buset.. genderuwo nya banyak banget, Pit" celetuk Millie takjub pada barisan pagar hidup nan gagah kekar.
"Bagaimana keadaan gedung seberang?" tanya Ardy tak menghiraukan keterkaguman Millie pada anak buahnya.
"Beres bos. Sudah diambil alih anggota kita" jawab Anton mantap.
"Bagus" ucap Ardy merasa puas dengan kinerja tangan kanannya ini. Dia lantas merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah amplop coklat nan tebal. Dan Millie sangat mengenal benda itu yang kemudian Ardy serahkan pada Anton.
"Ini untuk..."
"Eits, apa ini? mau nyelingkuhin penghasilan dibelakang istri?" sergah Millie memotong ucapan Ardy lalu merebut amplop coklat nan tebal itu. Membuat tangan Anton yang hendak meraihnya melayang di udara.
Ardy menunduk dan memijit pangkal hidungnya.
"Omegaaat... kamu hambur hamburin duit ga diskusi dulu sama aku?" Millie tertegun kala melihat isi amplop yang jumlahnya sebanyak 6 bulan gaji Millie sebagai tenaga medis.
"Kita belom bayar cicilan mobil, cicilan rumah, cicilan panci sama teflon, belom bayar listrik, bayar ledeng, bayar sampah, belom iuran er te, arisan daster juga belom dapet, lah ini.. ternyata penghasilan kamu, kamu pake buat lelaki lain" ucap Millie menggebu layaknya seorang istri yang teraniaya membuat Anton yang belum mengenal Millie merasa bersalah dan terjebak dalam prahara rumah tangga sang bos besar.
Wait...
__ADS_1
Rumah tangga?
Sejak kapan?
Seketika jiwa kepo Anton meronta ronta.
Sejak kapan bos aneh nya itu dekat dengan wanita?
Apa memang selama ini keanehan sang bos disebabkan karena bos nya ini memanglah sudah berumah tangga sehingga menolak mentah mentah ikan yang disuguhkan para pencari perhatian.
"Stop it, Millie. We're not married, yet" (hentikan, Millie. Kita belum menikah) cetus Ardy menghela nafas kasar.
"Siyalan.. kupikir bakal ada tsunami gara gara amplop" rutuk Anton dalam hati tentunya.
"Siniin amplopnya. Dasar mata duitan" ketus Ardy mengambil kembali amplop yang Millie sita.
Bukannya marah, Millie malah tersenyum karena sobatnya kembali lagi seperti dulu.
"Pit.. Pit.. gue dapet jatah gak? uang denger gitu? gaji gue yang ketahan kemaren dah abis dipake bayar tunggakan kontrakan ples bunga nya. Gue belom sempet bayar de pe apartemen mewah nih. Kan malu. Masa temenan sama lo tinggalnya di kontrakan kumuh" celoteh Millie sembari menggaruk telapak tangannya, memberikan kode jika tangan yang jauh dari kata mulus itu minta diisi lembaran lembaran berwarna merah.
"Pit?" lirih Anton yang lantas otomatis menatap papan nama diatas meja tersebut. Mencoba menarik benang penghubung nama panggilan gadis itu dengan nama yang terpampang diatas meja. Dia sendiri sempat bertanya tanya, kenapa nama samarannya seperti itu. Ternyata oh ternyata...
__ADS_1
Ardy mendengar ucapan lirih Anton, lantas memberikan amplop itu lalu memerintahkan untuk pergi bersama anggota lain.
Berabe memang jika harus membeberkan alasan maupun asal usul gadis ini pada anak buahnya.
Bagaimanapun hal itu merupakan ranah pribadinya.
"Apa kamu sedang bebas tugas?" tanya Ardy saat teringat sedang berada dimana mereka sekarang.
"Gampang masalah itu mah. Anak anak gak keberatan kok kalo aku tinggal. Lagian aku kan punya koneksi kuat sama presdir rumah sakit ini" celetuk Millie menaik turunkan alis.
SEUPRIT DULU🙆🏻♀️
MASIH SUASANA IDUL FITRI YA MAK
UP NYA BELOM MAKSIMAL
🙏🏻🙏🏻
YUK TONGOLIN JEMPOLNYA
JANGAN MALU MALU KASIH HADIAH YAK😉🤭
__ADS_1