My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Bos Tega


__ADS_3

Ardy membungkus tubuh Millie dengan selimut dan membopongnya ke mobil ambulance lalu memasang infus pada punggung tangan kanan Millie.


Ardy meraih tangan kiri Millie dan mengecupnya lembut.


"Syukurlah aku belum terlambat" gumam Ardy sedikit menitikan air mata.


Tak bisa ia bayangkan jika ia terlambat sedikit saja. Melihat kegiatan mereka saat mendobrak pintu membuat hatinya nyeri.


......................


Pada saat Ardy dan Amir berganti kendaraan dengan ambulance milik rumah sakit Ardy, mobil anak buahnya bermunculan satu per satu mengawal mereka.


"Non dokter dibawa ke kediaman ayah anda, bos" lapor Amir membuat kepala Ardy menoleh.


"Lumpuhkan mereka" titah Ardy geram.


Bisa bisanya sang ayah bertindak diluar kesepakatan mereka.


Namun Ardy teringat jika Jordan tetaplah Jordan dengan segala tipu muslihatnya.


Mulai hari ini, dia bersumpah akan mengibarkan bendera perang dengan sang ayah.


Tak lama Millie dibawa masuk kedalam mansion milik Jordan dalam keadaan tak sadarkan diri, 3 orang wanita tanpa busana tampak berlarian panik keluar dari pintu mansion melewati para penjaga yang tak asing dengan kehadiran wanita tanpa busana dikediaman milik Jordan.


Mobil anak buah Ardy yang tiba lebih dulu di depan gerbang mansion memberikan selimut tipis pada ketiganya dan menyuruh mereka pergi sejauh jauhnya.


"Amankan parimeter" titah Ardy saat sudah dekat dengan mansion Jordan.


Anak buah yang berjumlah puluhan itu menyebar menyusuri halaman mansion dan mulai melumpuhkan satu per satu penjaga dan anak buah Jordan.


Ardy segera membawa kakinya kearah lantai 2 dimana kamar Jordan berada diikuti Amir dan beberapa anak buah yang siap menyingkirkan anak buah Jordan yang hendak menghadang Ardy.


Dalam sekali tendangan Ardy berhasil mendobrak pintu kokoh itu.


Brakk


"Mill.. " seruan Ardy terpotong kala melihat pemandangan menyakitkan itu.


Bagaimana tidak, meski Ardy yakin jika Millie sudah terpengaruh obat perang sang, namun melihatnya bercumbu dengan sang ayah yang bejat membuat hatinya sakit.


Apalagi mereka hampir melakukan hubungan terlarang karena Jordan yang sudah siap dengan rudalnya dan Millie yang hanya tinggal menyisakan dalaman tengah dikungkung Jordan.

__ADS_1


jleb


Ardy segera menembakkan suntikan bius pada lengan Jordan.


"Singkirkan tangan kotormu darinya"


buggh


Sentak Ardy lantas memberikan bogeman mentah pada wajah Jordan dengan emosi yang memuncak.


Membuat tubuh Jordan limbung dan tumbang ke lantai.


Dalam nafas terengah karena emosi sambil menatap tajam pada sang ayah yang tersungkur, tiba tiba tubuh Ardy ditarik Millie kemudian bibirnya diserang Millie dengan membabi buta.


"Mill.. hmmpp.." penolakan Ardy berkali kali dilumpuhkan Millie dengan ciumannya.


Millie bahkan berhasil mengoyak kemeja Ardy dengan tenaganya bak kesetanan.


Sekuat tenaga Ardy mencoba mendorong dan menolak hasrat Millie yang ditimbulkan oleh efek obat jahanam itu tak bisa ditandingi tenaga Ardy yang tak mau berbuat kasar pada Millie.


Akhirnya dengan penuh perasaan dan pasrah, Ardy menyambut hasrat Millie dan mengikuti iramanya.


Amir yang berhasil melumpuhkan penjaga terakhir segera memasuki kamar dengan pintu yang telah rusak karena didobrak itu.


Glek


Amir menelan ludah saat masuk. Bukannya melihat sang bos bertarung dengan Jordan, namun dia malah melihat sang bos tengah bertarung dengan Millie.


Meski celana panjang Ardy masih terpasang, namun sabuk dan sletingnya sudah terbuka.


Juga Millie yang hanya mengenakan sepasang bi kini meyakinkan Amir jika sebentar lagi Ardy akan menjebol Millie.


"Yang bener aja. Masa harus di tempat ini?" gumam Amir yang tak rela matanya terkontaminasi.


Sambil menelan ludah, Amir mengarahkan tembakan suntikan berisi obat bius pada Millie.


Enak saja dia harus menyaksikan pemandangan memilukan. Tau gitu tiga cewek tadi diringkus aja tadi buat dijadiin pelampiasan.


Batin Amir berteriak sambil melepaskan tembakan. Sabodo jika dia harus diamuk Ardy, yang penting juniornya selamat.


......................

__ADS_1


Ambulan melaju kembali ke markasnya membawa Millie yang tengah di rawat oleh Ardy dengan telaten.


Tangan yang Ardy genggam itu bergerak, menandakan kesadaran Millie perlahan kembali.


"Hai.. kamu sudah sadar?" tanya Ardy lembut sembari mengelus puncak kepala Millie. Menatapnya dengan penuh kasih sayang.


"Pit.." seru Millie lirih. Ada kesan lega pada suaranya.


"Apa aku sudah.." tanya Millie terjeda isakannya sendiri.


"Apa.."


"Aku berhasil menyelamatkanmu. Tenanglah, kamu tidak kehilangan mahkotamu" potong Ardy menyela pertanyaan Millie.


Namun Millie malah tergugu. Ardy memeluknya untuk menenangkan.


"Ssshh.. tenanglah.. aku sudah berjanji akan melindungimu.." bujuk Ardy.


Ardy membiarkan Millie meluapkan perasaannya yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.


"Kenapa kamu gak ngelakuin hal itu?" tanya Millie saat sudah tenang dan mendengar penuturan Ardy yang hampir merenggut mahkota Millie karena paksaan Millie yang tengah terpengaruh obat.


Dia ingin menghalalkan Millie dengan pantas, namun perasaan takut mengalahkan keinginannya.


Takut Millie menjadi sasaran utama sang ayah seperti kakak iparnya tempo hari.


"Bagaimana mungkin aku merusakmu. Aku.. aku ingin menghalalkanmu dengan pantas. Bukan dengan cara seperti itu" imbuh Ardy sambil menunduk.


"Terus kenapa gak kamu halalin aku aja sekarang?" lanjut Millie membuat kepala Ardy mendongak.


Mata mereka saling mengunci, mencoba mencari arti dari tatapan masing masing.


"Aku.. aku nunggu kamu gak laku.." jawab Ardy tanpa memutus tatapannya.


"Apa kamu akan menungguku hingga aku tua?" tanya Millie lagi lantas tanpa mereka sadari jarak mereka semakin dekat, bagaikan magnet, bibir mereka kembali bertemu. Saling meresapi rasa yang tak biasa bagi mereka.


Dengan lembut bibir mereka bergerak bersama, tanpa menuntut hal lain.


jeglek


"Bener bener tega ya punya bos" keluh Amir kala membuka pintu belakang ambulance saat mereka telah sampai di basement, namun Ardy belum juga keluar.

__ADS_1


__ADS_2