
Ardy melongokan kepalanya dari balik tembok. Mengintai kemunculan Millie yang kemungkinannya lari berbelok kearah nya, karena jika dia lurus menyebrang, tidak ada keramaian kearah sana, juga merupakan lahan kosong yang justru semakin berbahaya jika dilalui seorang pejalan kaki.
Benar saja, sosok yang panik itu muncul tengah berlari sekencang mungkin sambil sesekali menoleh kebelakang.
Saat sudah mendekat, Ardy bersiap dan langsung menangkapnya, membawanya masuk ke celah gedung dan membekap mulutnya.
"Aaak..."
Millie memekik karena terkejut. Berusaha meronta namun sekuat tenaga Ardy mengunci tubuhnya.
Millie berhenti meronta kala melihat bayangan seseorang mendekat.
"Diamlah atau kita akan tertangkap" bisik Ardy membuat Millie lebih tenang.
Namun ketegangan itu teralihkan kala Millie merasa ada sesuatu yang tak pada tempatnya.
Posisi mereka saat ini bukanlah Ardy yang memepet Millie di tembok saling berhadapan dengan mulut dibekap, namun Millie dibekap dari belakang tubuhnya sehingga seolah Ardy memeluknya dari belakang dengan punggung Ardy menyandar pada tembok.
Sampai situ tak ada yang salah, namun sebelah tangan Ardy yang mendekap tubuh Millie dari belakang mendarat pada salah satu bukit landai Millie.
glek
puk puk
Millie menepuk tangan Ardy yang bertengger di mulutnya.
"Ku bilang diamlah, atau kamu ingin ketahuan" bisik Ardy dengan kepala terus memantau pergerakan di luar, berjaga jaga jika tempat mereka bersembunyi diketahui.
Millie memutar bola matanya. Untung saja sobatnya yang menjamah tubuhnya. Jika itu orang lain, sudah dipastikan orang itu akan pulang tanpa nyawa.
Ardy menyandarkan kepalanya pada tembok. Dia bahkan menahan nafasnya kala sang bayangan mendekat. Memejamkan matanya berharap si pemilik bayangan tak menemukan tempat persembunyian mereka.
"Aaah.. Fred.. tolong aku.." ucap lemah lelaki yang berjalan gontai dibelakang lelaki yang hampir menemukan tempat persembunyian mereka.
"Aaah.. sial, dasar gadis brengsek" umpat lelaki yang bernama Fredi itu lantas memapah rekannya yang hampir kehabisan darah. Mereka tampak mengutak atik ponsel lalu berdiri menunggu jemputan.
Hingga mobil yang mereka tunggu datang dan membawa pria yang terluka saja. Sedangkan Fredi melanjutkan pencariannya.
Karena jika tak mendapatkan gadis itu malam ini, nyawa mereka taruhannya.
__ADS_1
"Bang, lihat seorang gadis berpakaian putih lari kearah sini?" tanya Fredi pada kedua sekuriti pub itu.
"Gadis? maksudmu.."
"Iya wanita muda, pake baju putih. Ada lewat gak?" tanya Fresi lantas menyodorkan sejumlah uang pada mereka yang lantas saling beradu pandang.
Ardy yang melihat transaksi itu sedikitnya kesal.
"Dasar mata duitan. Dari mana mana diambil. Dapet banyak tuh. Awas aja kalo sampe..." gerutu Ardy yang bisa didengar oleh Millie.
"Masuklah" ucap mereka memberi akses yang di sambut antusias Fredi.
"Makasih, bang"
puk puk
Millie kembali menepuk tangan Ardy, namun kini tangan yang menangkup sebelah bukitnya yang ia tepuk.
"Bentar dulu" sergah Ardy yang merasa belum cukup aman untuk melepaskan Millie.
Namun bukan Millie namanya kalau tidak jahil.
"Engh.." reflek suara itu keluar membuat Ardy tersadar dan segera melepaskan Millie.
"K.. kamu.. m.. maaf.." ucap Ardy lantas memandangi tangannya yang kehilangan kehangatan.
"Lagi enak juga" tukas Millie lantas merapikan rambut dan bajunya.
Ardy yang tengah tercenung lantas kembali pada kesadaran dan langsung menarik tangan Millie berlari kearah mobilnya yang terparkir didepan pintu masuk pub.
"Beres bos" ucap salah seorang sekuriti itu.
"Mana bagianku?" tanya Ardy menengadahkan tangannya menyindir para manusia serakah.
"Ya ampun, si bos, jeli juga" salah satu sekuriti itu lantas mengeluarkan uang yang tadi diberikan Fredi.
"Kalian bisa dibeli dengan duit segini?" Millie merebut uang pecahan berwarna biru sebanyak 2 lembar itu.
Ardy mengernyit.
__ADS_1
"Milan? ngapain lo disini?" sergah sekuriti yang Millie kenal dengan nama Semen itu.
"Kalian..." Ardy dan Semen menunjuk bersamaan.
Jika Ardy menunjuk karena tak tahu jika Millie dan Semen saling mengenal, maka Semen menunjuk karena melihat tangan Ardy menggenggam tangan Millie.
"Udah ah kelamaan, tar keburu keluar lagi tuh si buto ijo. Nih, lo masukin kencleng masjid, Men. Inget cari kerjaan lain. Mending jadi kuli bangunan dari pada jagain tempat maksiat" tukas Millie mengembalikan uang biru itu pada Semen, lalu mendorong Ardy masuk ke dalam mobil. Khawatir jika Fredi keluar dan melihat mereka. Bisa runyam nanti.
"Milan?" tanya Ardy sambil menaikan sebelah alis. Banyak sekali nama panggilan Millie pikir nya.
"Hehe.. itu.. itu panggilan.. sayang" jawab Millie lirih. Dia tak enak menjawabnya, namun kenyataannya seperti itu.
"Waktu itu dia kerja sama mak Uung, trus kasian sama gue waktu gue labrak tempat mak Uung setelah kecelakaan kamu. Gue lupa kalo ditempat dia tuh isinya body guard semua. Dasar tolol gue waktu itu. Setelah kehilangan elo, gue kek orang gak waras. Untungnya si Semen itu bantuin gue ngehajarin body guard nya mak Uung. Meski babak belur, dia tetep ngelindungin gue, bahkan ngasih tempat tinggal yang gak bisa mereka lacak sampe gue lulus kuliah. Tapi setelah itu.. dia nembak gue dan.. dan ngelamar gue" jelas Millie menunduk diakhir kalimat.
Ardy terkejut, namun berusaha mempertahankan ekspresinya agar tak ketahuan kecewa.
Ardy menatap arah luar jendela dengan hati bergemuruh.
"Baguslah. Kamu jadi gak perlu nikah sama Amir kan?" cetus Ardy masih menatap jalanan.
Millie menoleh pada Ardy dengan ekspresi kecewa. Amir memperhatikan hal itu. Amir bahkan memperhatikan ekspresi yang disembunyikan Ardy sang bos.
"Hhhh... cape" keluh Amir dalam hati.
"Tinggal bilang suka aja susah" imbuhnya.
"Mending sama saya, non. Kerjaan saya halal, loh. Mau beli rumah kek gimana tinggal bilang. Bos saya kan baik. Kalo saya mau nikah tinggal bilang, pasti beliau nyediain segalanya buat keperluan saya. iya kan bos?" bujuk Amir pada Millie. Namun mendadak hawa dingin menyergap tengkuknya.
Amir melirik kaca spion untuk melihat ekspresi Ardy. Namun tiba tiba sesuatu menghantam nyali nya kala Ardy menatap tajam padanya melalui spion. Seolah mengancamnya jika nyawa Amir dalam bahaya.
"Mampus, bisa di blokir lagi rekening ku" panik Amir dalam hati. Peluh tetiba bercucuran.
"Enggak ah. Makasih. Gue masih nunggu seseorang" jawab Millie menatap kosong pada luar jendela.
"Apa mungkin gue nunggu elo, Pit? sedangkan elo aja gak nungguin gue" Millie membatin.
"Alaaah.. yang ga pasti mah gak usah ditungguin, non. Apa lagi kalo bilangnya udah punya calon. Udah pasti gak bisa ditungguin. Dari pada non Gumy keburu bulukan mending sama saya aja. Dijamin masih gress" lanjut Amir.
Sabodo dengan tatapan mengancam yang lagi lagi dilayangkan sang bos. Dia harus melakukan sesuatu sebagai bentuk balas budi nya.
__ADS_1