My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Mahar


__ADS_3

"Ini rumahnya, bos" tunjuk Amir pada sebuah rumah minimalis namun elegan. Sebenarnya terlalu mewah bagi keluarga dengan penghasilan suami yang hanya seorang pekerja serabutan.


"Apa mereka mendapat kejutan dari program televisi?" tanyaku pada Amir sambil menilik rumah yang cukup untuk dihuni 3 orang tersebut jika bersama keponakan karena mereka tak bisa memiliki anak.


"Melihat dari kualitas pengerjaan, tak mungkin program 'Bedah bedahan' membangun sebagus ini" tukas Amir mengetuk ngetuk tembok yang terdengar padat.


Aku menganggukkan kepala karena setuju dengan analisa ajudanku itu.


"Kalian siapa? mau apa di rumahku?" solot seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalam rumah kala melihat kami menilik kualitas bangunan yang dia huni.


"Eh.. permisi bu, maaf. Kami.."


"Kemarin saya sudah bilang kalo lusa kami baru dapat uangnya. Masa gak percaya?" wanita itu masih dalam mode menyolot memotong ucapan Amir.


Apa dia pikir kami tukang tagih utang?


Heh.. biar ku tebak. Uang yang ayah beri sebagai kompensasi menyerahkan keponakannya pasti mereka gunakan untuk membangun rumah ini. Dan untuk biaya perawatannya juga biaya hidup sehari hari pastilah mereka meminjam pada lembaga keuangan yang ilegal.


"Ada siapa bu?" tegur seorang pria berusia sekitar 50an berpenampilan necis dengan rambut kelimis keluar dari dalam rumah.


"Ini dep kolektor pada dateng lagi. Kamu mau kemana?" ucap si wanita diakhiri pertanyaan karena penampilan pria itu sangat kontras dengan dirinya yang hanya berbalut daster belel dengan gulungan rambut menempel di atas kening dan rambut yang diikat asal itu.


"Ada miting penting. Udah, aku pergi dulu ya" pamit pria itu sembari bersiul melenggang pergi tak memperdulikan istrinya yang tengah menghadapi 2 pria.


"Miting apaan tukang ngaduk semen, hah. Bukannya bantuin istri lawanin tukang tagih malah enak enakan pergi" hardik wanita itu menjawir sebelah telinga suaminya tanpa menghiraukan keberadaan kami"


"Adududuh... bu.. sakit. Suami mau kerja bukannya di do'a in biar selamet, malah dicelakain" tukas si pria.

__ADS_1


"Mau saya sumpahin kamu celaka di jalan, hah? saya tau kamu bukannya mau kerja, tapi ketemuan sama cewek gatel. Siniin duitnya. Enak aja duit kiriman keponakan aku dipake jajanin cewek gatel" lanjut sang istri.


Ternyata Millie sering mengirimkan uang pada mereka. Pantas saja dia selalu seperti kekurangan uang dengan profesinya yang seorang dokter umum. Tebakku.


Kasian calon istriku.


Dari masih sangat muda selalu bekerja untuk orang lain.


"Ekhem.. maaf, bapak-ibu. Bisa kita bicara di dalam?" Amir menyela perdebatan suami istri itu.


"Dibilangin besok lusa kita bayarnya-"


"Maaf, kami bukan debt collector, bu-pak" potong Amir yang jengah dengan suara melengking wanita itu.


Akhirnya mereka mempersilahkan kami masuk dengan ekspresi gusar si suami. Sedangkan istrinya tak hentinya bercicit menggerutu karena kelakuan suaminya.


"Kayak yang kenal sama mukanya ya, pak" lagi lagi si wanita memotong ucapan Amir seraya menunjukku dengan tatapannya.


"Ehe.. jadi gini, bu.."


"Bapak ini yang pernah dateng sini ngasih duit banyak, kan? aduuuuh... tambah ganteng aja abis operasi plastik" antusias wanita itu kala menyadari wajahku yang mirip dengan wajah ayah.


Amir tampak kehabisan kesabaran karena tak digubris sedari tadi.


"Bos aja yang ngomong. Anggap saya gak ada" gumam Amir mengeluh.


"Gitu aja baperan" timpal ku.

__ADS_1


"Saya kesini berniat melamar Millie, keponakan bapak sama ibu. Sudi kiranya bapak dan ibu menerima lamaran saya untuk Millie" ucapku langsung tanpa basa basi.


"Apa? melamar Millie? tapi.."


"Ibu jangan khawatir. Kami sudah saling mengenal lama, dan saya berjanji akan membahagiakan Millie" ucapku berjanji.


Pasangan itu lantas saling beradu pandang. Entahlah, mungkin mereka sedang berkomunikasi lewat telepati karena keduanya saling mengangguk pada satu sama lain setelah beberapa saat bertatapan dengan alis berkerut bergantian.


"Berani ngasih mahar berapa?" kalimat itu langsung terlontar dari mulut si wanita.


"Untuk masalah mahar, ibu dan bapa jangan khawatir. Saya akan memberikan mahar yang sepadan kepada Millie" jawabku mantap, namun membuat ekspresi mereka tampak tersinggung.


"Kok buat Millie? Dia kalo udah dinikahin sama kamu ya tanggung jawab kamu buat nafkahin. Kita yang sudah susah payah membesarkannya sedari kecil, pas sudah dewasa mau diambil gitu aja? emangnya murah biaya ngerawat anak hah?" cerocos wanita itu dengan pongahnya.


Aku hanya menyunggingkan senyum mendengar penuturannya yang angkuh.


"Bukankah keponakan ibu sudah ibu jual pada seorang germo?" balasku tak terima jika mereka mengaku telah membesarkan Millie dengan susah payah.


"Bagaimana dengan laki laki yang wajahnya mirip denganku, bukankah dia memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar untuk menebus Millie dari cengkraman germo itu?" imbuhku men skak-mat mereka.


"Saya sudah bilang jika kami sudah sangat lama saling mengenal. Dan itu saat dia baru diadopsi germo dari panti asuhan" lanjutku membuat mereka mengatupkan mulut mereka rapat rapat.


"Untuk masalah uang bulanan yang Millie kirimkan pada kalian, biar saya yang ambil alih" ucapan terakhirku membuat mereka menghela nafas lega.


Cih


Dasar manusia tak tahu diri

__ADS_1


__ADS_2