
"Mill.. Millie... halo.." seru Ardy panik kala mendengar kegaduhan dari seberang telfon. Baru saja Millie meminta izin untuk melaksanakan ibadah malam lalu menyimpan perangkat bluetooth nya tanpa mematikan sambungan.
Tanpa banyak berfikir, Ardy segera berlari kearah titik lokasi Millie berada. Beruntung Ardy hanya bersembunyi masih di lantai yang sama jadi dia sempat melihat Millie tengah dibopong beberapa orang dan dimasukkan paksa kedalam blind van tersebut.
"Millie..." seru Ardy berteriak memanggil Millie yang mobilnya sudah melaju cepat meninggalkan area basement.
ciiit
"Bos.." seru Amir menghentikan mobil dan membukakan pintu depan memberikan akses masuk kedalam mobil sehingga Ardy dengan mudahnya masuk dan Amir segera menancap gas dengan dalam.
"Apa kamu berhasil melacaknya?" tanya Ardy sembari memasang seat belt.
"Seperti perintah anda, bos. Saya memasang pelacak pada piyama non dokter" jawab Amir sambil menyerahkan tablet dengan aplikasi GPS sudah menyala menampilkan kedipan merah bergerak lambat dalam map, menujukkan lokasi Millie saat ini.
"Siapa mereka?" tanya Ardy dengan gusar. Dia tak mau kejadian tempo hari terulang.
"Anda bisa menebaknya" jawab Amir datar. Dia terus fokus pada mobil yang diincarnya juga yang mengikutinya.
"Sialan, kita dijebak" kesal Ardy memukul dash board.
__ADS_1
"Tenang saja bos. Kita tak se lengah itu. Saya sengaja membuat mereka mengira bisa membodohi kita. Lihat layar" pinta Amir yang lantas dituruti Ardy.
"Apa maksudnya? Millie ada di belakang?" tanya Ardy keheranan.
"Tepatnya pelacak yang saya pasang pada non dokter, bos. Mereka menemukannya lalu membuangnya ke jalanan" ungkap Amir sembari fokus ke depan dan sesekali melirik spion.
Tak berapa lama, mobil yang berada di belakang mereka menyalip dan kini menghalangi mereka, menghambat mereka sehingga mobil yang membawa Millie luput dari pantauan mereka.
"Mir..." sentak Ardy karena kehilangan Millie.
"Heh.. sudah kuduga" tukas Amir menyeringai tanpa mengalihkan pandangannya.
ciiiiit
"Ikuti saya, bos" pintanya seraya turun dari mobil lalu tampak menyambut sebuah ambulance yang datang dari arah belakang.
"Ayo, kita tak punya banyak waktu" titahnya pada supir ambulance. Ardy cukup terkesan dengan persiapan yang Amir lakukan.
Tanpa banyak bertanya, Ardy segera masuk dan duduk dengan menenangkan diri.
__ADS_1
Mencoba mempercayakan hal ini pada ajudan kompetennya, membiarkannya fokus menjalankan rencana yang telah ia susun.
"Bagaimana dengan ajudan ayah?" tanya Ardy disela keheningan nan menegangkan didalam mobil ambulance.
"Tugas terakhirnya hanya membuat non dokter keluar dari persembunyian, bos. Setelah itu.. anda pasti mengerti" jawab Amir yang duduk di jok penumpang depan.
"Apa kamu merekrutnya?" lanjut Ardy penasaran.
"Tentu saja tidak, bos. Sony tipe orang yang setia pada majikan, meski nyawa taruhannya, dia tak akan pernah membelot" terang Amir mengenai sifat Sony.
"Tapi semua bisa saja terjadi, bukan?"
"Tentu saja pemikiran manusia bisa berubah kala terancam, namun secepat membalikan telapak tangan, manusia akan kembali pada sifat asalnya. Dan saya tidak akan mempertaruhkan apapun demi manusia munafik seperti itu" lanjut Amir berapi api.
"Tenanglah, dia akan kembali bersamamu" ucap Ardy menenangkan Amir.
"Hadeeeh... prahara rumah tangga.." lanjut Ardy menyindir Amir.
Ya, dulu Amir dan Sony adalah sahabat yang sama sama bekerja pada Jordan. Hingga Ardy datang dengan paksaan, lalu Amir tak sengaja mengecewakan Jordan dan membuangnya setelah mengeksekusinya dengan melemparnya pada tebing nan curam.
__ADS_1
Beruntung air laut adalah landasannya sehingga dia bisa diselamatkan Ardy.
Lama Ardy mengamati sifat Amir juga masa lalunya, lalu tersingkirnya Amir dimanfaatkan Ardy untuk merekrutnya dan membentuk kelompok tandingan sang ayah secara diam diam.