My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Menyerahkan Diri


__ADS_3

"Bos, tuan besar sudah tiba" lapor Amir setelah mendapat informasi dari anak buahnya.


Ardy yang tengah merajuk pada Millie harus menyimpan kegundahan hatinya sementara.


Perhatian semua orang yang berada di ruangan itu beralih pada kemunculan sosok Jordan yang datang tanpa didampingi ajudan maupun anak buah yang lain.


Tampaknya mereka tengah disibukkan oleh pertahanan para anggota Black Hawk milik Ardy.


Ardina yang selalu histeris kala melihat Jordan tampak membolakan mata dengan tangan yang bergetar.


Ardy menyadari hal itu lantas meraih kedua tangan sang ibu lalu menepuknya perlahan untuk menenangkan.


"Kalian.. heh.. ternyata kalian besekongkol selama ini" cebik Jordan kala menatap satu per satu orang yang berada di ruangan. Lantas tatapannya berhenti pada satu orang yang dia curigai dalang dibalik semua ini.


Arsen


Ya, Jordan menatap Arsen lekat.


"Apa maksud semua ini, AYAH" Ardy menekankan kata 'ayah' untuk mengejeknya.


Apakah pantas sikap seorang ayah menyembunyikan ibu kandungnya selama ini.


"Heheheh... tidak ada maksud apapun. Ayah hanya melindungimu dari wanita gila itu" tukas Jordan santai.


"Kamu yang gila" sergah Millie seraya menggebrak meja. Membuat seluruh penghuni ruangan sport jantung dibuatnya.


"Maap, kelepasan.. mbok saya minta kacang" ucap Millie lantas menarik Sari kearah belakang untuk menghindari drama yang akan menguras emosi.


"Apa tidak ada kata mutiara lain yang bisa membuat ibu saya bahagia?" tukas Ardy kala Millie sudah berlalu menarik Sari.


"Bukankah ayah berkata seperti itu hanya untuk menyimpannya sendiri? bagaikan mengurungnya dalam sangkar emas, ayah terobsesi untuk memilikinya" lanjut Ardy.


"Diam kamu bocah ingusan. Siapapun tak ada yang tahu tentang perasaan ayah terhadap ibumu" hardik Jordan.

__ADS_1


Dia tidak pernah suka jika ada yang mengomentari tentang cintanya yang tak terbalas.


"Kenapa harus marah. Aku yang seharusnya marah karena dibohongi tentang ibu. Ibu yang seharusnya marah karena dipaksa menikah dengan ayah, padahal ayah sudah mempunyai istri. Lalu kalau ayah memang mencintai ibu, kenapa ayah tak menolak dijodohkan dengan ibu Sheryl dan kawin lari dengan ibu Ardina, hah" ucap Ardy menggebu gebu.


"Apa ayah takut tidak kebagian harta warisan?" lanjut Ardy dengan suara rendah.


"DIAAAM.." teriak Jordan menghentikan ocehan Ardy.


"Kamu, dasar anak kurang ajar.."


grepp


Amir menahan lengan Jordan saat mantan bos nya itu hendak merangsek kearah Ardy yang tengah berdiri disamping sang ibu yang tampak gelisah.


"Jaga sikap anda, tuan. Atau saya tak akan segan untuk melawan anda" sergah Amir memperingatkan.


"Kamu... dasar pengkhianat" desis Jordan.


"Perlu saya ingatkan, tuan. Saya mengabdi pada anda sepenuh hati saya, hingga anda membuang saya karena kesalahan kecil. Dan saya hanya patuh pada siapapun yang memberi saya penghidupan" timpal Amir mencengkeram tangan Jordan.


Kegaduhan yang memasuki ruang tengah membuyarkan fokus Amir.


Cengkraman yang sontak melonggar itu dimanfaatkan Jordan untuk memberontak.


Jordan menepis kasar tangan Amir lantas menyikut kepalanya yang lengah karena menoleh kearah pintu, membuat kepala Amir terpental kebelakang.


buggh


"Jangan macam macam.." Jordan memperingatkan Amir seraya menodongkan senpi pada Ardy.


"Aaaaa.. jangaan.. jangan lukai anakku.. jangan ambil anakkuu..." Ardina berteriak histeris kala melihat ancaman Jordan.


Dia lantas berdiri dan memeluk Ardy untuk menjadi tameng sang putra.

__ADS_1


"Ardina.. kamu.. " Jordan terbata karena melihat istrinya bisa berdiri.


"Pergi kamu, jangan sentuh anakku, jangan ambil anakku..." lanjut Ardina memekik histeris sambil berderaian air mata. Dia tak mau dipisahkan kembali dengan anak semata wayangnya.


"Ardina, sayang.. kamu bisa berdiri.. " seru Jordan sendu. Suaranya lembut kala menatap haru pada istrinya itu. Tak tampak ekspresi arogan dan jahat di wajahnya.


Senpi yang semula ia todongkan pada Ardy diturunkan dan ia selipkan pada belakang celananya saat Ardina memposisikan dirinya menjadi tameng sang anak.


"Jangan ambil dia.. pergi.. PERGIIII.." teriak Ardina lantas menyerang Jordan dengan memukulinya secara membabi buta seraya menangis meraung.


"Sayang.. tenanglah.. aku tak akan menyakitinya.. aku tak akan mengambilnya lagi.. maafkan aku.. kembalilah padaku. Aku janji, aku akan berubah.. tolong maafkan aku.." ucap Jordan menghiba sambil memeluk sang istri. Suatu pemandangan langka yang tak pernah Ardy dan Arsen lihat dari sang ayah.


Menangis


Memohon


Ardina yang sempat berontak karena pelukan Jordan perlahan tenang karena tangisannya.


Punggung kokoh nan angkuh itu bergetar, tampak rapuh.


Srett..


"Pergilah.. aku gak akan percaya sama omongan kamu" tukas Ardina yang tiba tiba mencabut senpi dari pinggang Jordan lalu menodongkannya pada Jordan.


"Ibu.. jangan lakukan bu.." bujuk Ardy terkejut dengan tindakan tiba tiba Ardina.


Tanpa diduga, Jordan berlutut dihadapan Ardina lalu memposisikan laras senpi itu di keningnya.


"Lakukanlah.. lebih baik aku mati di tanganmu daripada harus hidup tanpamu" ucap Jordan pasrah.


Tangan Ardina yang memegang senpi itu bergetar. Tersirat amarah dalam matanya kala menatap Jordan yang kini menyerahkan dirinya pada sang istri.


Kilatan ingatan tentang perlakuan kasar Jordan saat malam pertama, lalu pengurungan dirinya dari dunia luar memenuhi kepalanya.

__ADS_1


"Ibu.. jangan lakukan.. tenanglah bu.. ada aku sekarang.. kita bisa.."


Dorr


__ADS_2