My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Milliiee..." teriak Ardy kala mendengar Ningsih meneriakkan nama istrinya.


Betapa terkejutnya Ardy kala melihat posisi Millie yang tengah terancam nyawanya.


Meskipun bertubuh tambun, namun Hendrik mempunyai perawakan yang tinggi.


Millie sampai harus berjinjit kala Hendrik mencekiknya dan mengangkat tubuh mungil itu.


Millie berusaha mengatur nafas sekaligus menahan pijakannya agar cengkraman pada lehernya itu tak menutup jalur pernafasan jika bobot tubuhnya bertumpu pada tangan kekar Hendrik.


"Lepaskan istriku!" pinta Ardy berteriak dan berlari mendekat.


Dia sadar tak bisa bertindak gegabah, atau nyawa Millie akan menjadi taruhannya.


"Halo adik manis kesayangan ayah. Bolehkah aku mencicipi istrimu?" seringai jahat Hendrik tetap ditujukan untuk Millie.


"Lepaskan dia, kak. Dia tak bersalah" pinta Ardy menghiba.


Namun Hendrik semakin tertarik.


"Tentu saja dia bersalah. Karena dia berani kabur dariku setelah aku menyekolahkan dia. Dasar tak tahu terimakasih" desis Hendrik yang semakin menekan ibu jarinya pada pangkal leher Millie.


Wajah Millie kini memerah karena mulai sedikit kesulitan untuk bernafas.


"Seandainya kamu tak mendekatinya dulu, mungkin aku tak akan tertarik untuk mengganggunya" lanjut Hendrik memutar ulang niat awal mendekati Millie.


Ardy marah akan kondisi carut marut keluarganya yang tak berujung.

__ADS_1


Bukan salahnya jika dia terlahir dari rahim wanita yang sangat Jordan cintai. Tapi mengapa mereka begitu membencinya. Padahal selama ini dia berusaha menjadi anak yang baik.


"Tapi bukan salahku jika kakak ditinggalkan istri kakak" timpal Ardy yang sebenarnya tak tahu harus berkata apa untuk mengalihkan perhatian Hendrik dan menenangkannya.


"Ardy.. Ardy.. kita semua disini adalah korban. Jika saja ayah tidak datang ke pernikahanku, istriku tak akan kabur dan memilih mengejar ayah. Dasar murahan. Semua wanita pada dasarnya murahan. Kamu tahu itu?" ucap Hendrik dengan nada amarah yang tertahan.


Ibu jarinya semakin menekan pangkal tenggorokan Millie.


Tangan Millie memukul mukul tangan Hendrik yang mencengkram lehernya.


Wajahnya kini berubah bersemu kebiruan.


Millie teringat sesuatu yang ia temukan di pantai tadi. Dia mengambilnya dan menyimpannya di saku mini dress nya untuk mengamankan dari terinjak oleh kaki telanjang pengunjung lain.


Srett


"Aaarghh... dasar wanita licik. Apa yang kamu lakukan padaku?" pekik Hendrik terkejut.


Jika bagian arteri di bawah lengan robek, tentu saja darah akan dengan derasnya keluar dan tak akan sempat tertangani meski langsung dilarikan ke rumah sakit.


Namun tanpa dia duga, usahanya melepaskan diri itu membuat tubuhnya terjatuh dan terpeleset ditepian tebing nan curam itu.


"MILLIIIII.... " pekik semua orang kala melihat tubuh itu jatuh dari cengkraman Hendrik. Mereka berlomba berusaha meraih tangan Millie agar tak terjun bebas ke bawah.


Bahkan Jordan yang baru tiba pun ikut berlari berusaha menggapai Millie.


grepp

__ADS_1


"I got you.. I got you honey.. " ucap Ardy yang berhasil meraih tangan Millie.


"Pit... jangan lepasin.." mohon Millie menangis.


"Gak akan, sayang.. aku gak akan lepasin.. gunakan kakimu.. cari pijakan" pinta Ardy dengan lembut. Berusaha agar sang istri yang tengah menggantung itu tak panik dan mengerahkan tenaga dan akal nya agar bisa selamat.


Kaki Millie mencari cari pijakan agar bisa menumpukan tubuhnya dan naik keatas.


Ardy menahan sekuat tenaga tangannya yang terkilir. Keselamatan sang istri adalah prioritas utamanya saat ini.


Tak ada waktu untuk mengeluhkan rasa sakitnya.


Kaki Millie berhasil menemukan pijakan, dia lantas mengangkat tubuhnya dan dengan mudah Ardy menarik tubuh Millie lalu membawanya ke pelukan.


"Huhuuuu.... aku takuut.." Millie menangis tergugu dalam pelukan hangat sang suami.


"Maafin akuu... seandainya aku gak.. aku gak.."


"Sssstttt.. it's okay.. it's okay.. semua udah lewat.. yang penting kamu selamat.." ucap syukur Ardy memotong penyesalan Millie.


Ardy membawa Millie bangkit dari berlutut di dekat bibir tebing. Takut ada kejadian tak terduga lagi yang bisa mendorong mereka jatuh ke jurang.


"Ayo pulang sayang.." bujuknya.


"MATILAH KALIAAN..." teriak Hendrik yang langsung menyergap pasangan pengantin baru itu dengan darah yang tak berhenti mengalir dengan cepatnya dari lengannya.


Hendrik menabrakan tubuhnya dan mendorong keduanya agar jatuh bersamanya ke jurang.

__ADS_1


"Tidaaaaak...."


SUSAH BANGET NYARI WANGSIT😭


__ADS_2