
Prakk
Millie memecahkan kaca pelindung tombol emergency.
Kriiiiiiiiing
Suara nyaring alarm peringatan kebakaran memekakkan telinga para penghuni asrama, dan tak lama para penghuni tiap kamar berlari berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Tak perduli rambut mereka acak acakan karena baru saja masuk ke alam mimpi gara gara sidak yang baru selesai 1 jam yang lalu.
"Enak bener kalian dah pada molor, lah gue ngenes gara gara kelakuan pasangan bejat" gerutu Millie bergumam.
Linda dan pasangannya pun akhirnya keluar dengan wajah kusut dan baju yang tampaknya dipakai sembarang karena tampak acak acakan bahkan terbalik.
Millie yang berdiri santai menyandar di tembok sebelah pintu menyeringai dan langsung masuk ke kamar lantas menguncinya tanpa mencabut anak kunci agar tak bisa dibuka dari luar.
Pun dengan Ardy yang mengetahui kode yang Millie sampaikan. Dia melakukan hal yang sama dengan Millie. Tidur dengan lelap sesaat setelah kepala menyentuh bantal. Tak menghiraukan gedoran pintu dari sang rekan.
Sabodo dengan mereka. Kalo mo nerusin em el, terusin aja di lorong biar digerebeg sekalian. Kesal Ardy dalam hati.
Kalau orang lain bisa tega dan tak perduli padanya, dia bisa melakukan hal yang lebih dari itu.
Istilah setia kawan hanya berlaku bagi teman yang juga menghargai dan membelanya. Dia tak mau mengorbankan diri demi kesenangan seseorang.
"Aman?" tanya Millie dalam pesan singkatnya.
"Aman" jawab Ardy.
"Selamat istirahat" lanjut Millie yang dibalas senyuman Ardy pada layar ponselnya seolah Millie bisa melihat senyum itu.
"Have a nice dream" (semoga bermimpi indah) gumam Ardy tanpa membalas pesan Millie.
"Gawat" sentak keduanya bersamaan di tempat berbeda.
Mereka terperanjat karena bangun kesiangan.
"Gawat gawat gawaaaat... sekarang matkul pak Bandi Toa lagi.. mampus gue" panik Millie yang langsung gosok gigi sembari berganti pakaian. Tak ada waktu untuk mandi karena kuliah akan dimulai 10 menit lagi. Perjalanan dari asrama ke kelas saja membutuhkan waktu sekitar 5 menit jika berjalan sedikit santai.
"Mampus, mana catetan gue minggu kemaren ya. Hari ini kan giliran gue presentasi" panik Ardy mengobrak abrik tas travelnya. Sedikitnya dia mengumpati sidak dadakan yang dilakukan tadi malam sehingga semuanya jadi kacau.
Setelah menemukan bukunya, Ardy segera berlari keluar kamar, mengerahkan tenaganya mengejar waktu yang hampir tiba.
Tak jauh darinya, Millie tampak berlari sekuat tenaga, Ardy menurunkan kecepatannya agar bisa berbarengan dengan Millie. Setidaknya jika terkena semprot dosen cerewet itu dia tak sendiri.
Mereka saling melempar senyum sambil berlari bersama, sesekali saling menyikut, hingga tiba di pintu utama kampus.
"Tunggu tunggu" sergah Millie menahan Ardy yang langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Millie merapikan rambut acak acakan Ardy, lalu memasang kancing kemeja Ardy yang tak simetris dengan lubang kancingnya.
Ardy terkekeh, lantas melakukan hal yang sama pada Millie. Merapikan rambutnya, lalu mengikatnya dengan gaya ekor kuda.
"Okay, we're good. Right?" (kita baik baik saja kan?) tanya Ardy ragu, karena nafas mereka terengah.
"Hopefuly" (semoga) jawab Millie dengan keraguan pula.
tok
tok
Mereka terlambat 3 menit dan kelas sudah terdengar dimulai.
Millie menyilangkan jari tengah ke jari telunjuknya sambil mengucap mantra.
trek
Muncul sosok dingin dan arogan lelaki pendek dan tambun, berkaca mata tebal dengan rambut yang seluruhnya putih.
"Maaf kami terlambat" sapa Millie menampilkan senyum semanis mungkin.
"Lihatlah pasangan yang lupa mandi sehabis bertarung" ketus sang dosen.
Millie dan Ardy dengan kompak mengibaskan kedua tangan mereka menyanggah sangkaan sang dosen.
"Jika kalian seperti ini setelah jadi seorang profesional, bayangkan berapa nyawa yang kalian pertaruhkan karena kelalaian kalian" sang dosen mengintimidasi dengan tatapan maut.
"Better late than never, right?" tukas Millie dengan entengnya sambil menampilkan barisan gigi putihnya.
"cih, kalian dan motto kalian itu.." cebik sang dosen.
"Udahlah pak. Lagian kita kan masih belajar, yang penting sekarang gimana ini. Apa mau buang waktu menghakimi kita?" lanjut Millie melangkah masuk dan duduk di barisan paling depan. Tak lupa menarik tangan Ardy agar ikut masuk.
Sang dosen tak percaya dengan tingkah Millie yang seolah tak takut padanya.
"Siapa yang suruh kalian duduk!" hardiknya menghentikan Ardy dan Millie mendaratkan pantatnya ke kursi.
"Berhubung kalian dengan sukarela menawarkan diri untuk mempraktekkan bahasan kita kali ini, kalian silahkan maju kedepan" suara lantang pak Bandi membuat suasana kelas riuh ramai. Mereka setuju dengan ide tersebut.
Ardy dan Millie saling memandang heran. Mereka belum mengetahui bahasan hari ini sampai tatapan mereka beralih pada papan tulis.
...CPR...
*CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau dikenal juga dengan sebutan RJP (resusitasi jantung paru) adalah upaya pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh.
__ADS_1
Kedua mata mereka membelalak disusul mulut yang menganga.
"Ayo cepat, jangan membuang waktuku" tegas Pak Bandi.
Dengan enggan, Ardy dan Millie melangkah kedepan kelas.
"Siapa yang akan menjadi pasien nya?" tanya Pak Bandi.
Ardy dan Millie kembali saling melirik lalu menunduk.
"Baiklah, biar saya yang tentukan. Kamu.." tunjuk Pak Bandi pada Millie.
"Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"Saya? Millie, pak" jawab Millie dengan telunjuk mengarah pada hidungnya sendiri.
"Oke, Millie. Kamu yang jadi pasiennya. Berbaring diatas meja" titahnya membuat Ardy gelagapan.
Millie lantas menurut dan berbaring diatas meja yang kosong dari buku dan alat tulis lainnya.
"Gawat. Kalo dia yang berbaring, gue mesti megang dadanya sama nyium dia" batin Ardy panik.
"Kenapa diam? ayo kamu contohkan persis seperti yang kamu pelajari di buku" lagi, pak Bandi memberi titah.
Ardy perlahan mendekat.
Pak Bandi tampak memutar bola matanya karena tak sabar.
"Baiklah biar bapak yang mencontohkan" akhirnya sang dosen memutuskan.
"Bi.. biar saya saja, pak" putus Ardy melangkah lebih dekat ke sisi Millie.
Ardy menatap mata Millie lantas menelan ludahnya.
glekk
Dia mendongakkan kepala Millie lantas dengan ragu sebelah tangannya ia gunakan untuk memencet hidung Millie lalu secara perlahan membungkuk untuk memberikan nafas buatan pada mulut yang terbuka.
"Sial. Kenapa ni cewek diem aja si" bathin Ardy dengan dada berdendang.
Ardy menempelkan bibirnya pada mulut Millie dan mulai meniupnya hingga pipi Millie menggembung.
Satu kali
Dua kali
__ADS_1
"Jangan ciuman" sentak Pak Bandi membuat seluruh kelas tertawa.