My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Menerima Lamaran


__ADS_3

"Luar biasa. Seharusnya kamu yang menjenguk ku" ucap Hansel dengan sinis diatas kursi roda nya.


Ardy merapatkan punggungnya pada sandaran kursi lalu menautkan kesepuluh jari tangannya didepan wajah.


"Bukankah aku sudah menjengukmu tempo hari?" timpal Ardy tenang. Ardy tengah menduga duga apa maksud kedatangan sepupu nya ini ke ruangannya. Dari mana dia tahu jika kini dia menjabat sebagai presdir rumah sakit ini. Apa Amir yang memberi tahu bawahan Hansel. Sebab yang Ardy ketahui, Amir dekat dengan bawahan Hansel untuk mendapatkan informasi dari keluarga besar sang ayah.


Ada sedikit kekhawatiran jika sang ayah mengetahui statusnya di rumah sakit ini.


"Cih.. saat itu bukankah kamu datang untuk menjemput wanitamu? heh.. seorang Ardy dekat dengan seorang wanita, seperti bukan dirimu" cibir Hansel sedikit memalingkan wajahnya.


"Kurasa kamu sudah baik baik saja, jadi aku tak perlu khawatir. Dan melihat dari rekam medismu, kamu sudah diperbolehkan pulang, bukan. Apa kamu memang senang menginap di rumah sakit?" timpal Ardy tanpa mau membahas perihal Millie.


"Kurasa wanitamu lebih cocok untukku. Seperti kamu lihat, aku membutuhkan seseorang yang kompeten untuk mengurusku, karena penyakitku bisa kambuh kapan saja" tukas Hansel mengabaikan pertanyaan Ardy.


"Hahahahahaha..... " Ardy tertawa nyaring.


"Kamu bayarlah perawat pribadi untuk mengurusmu. Kamu pikir wanita seperti dia bersedia merawatmu selama hidupnya? biar kuberitahu, dia bukanlah wanita yang bisa kamu beli. Meski kamu memberikan seluruh kekayaan yang ada di dunia ini, dia akan memilih menjadi putri duyung" sindir Ardy meremehkan Hansel.


"Tidak ada yang tidak menyukai harta" sanggah Hansel kesal.


"Siapa yang tidak menyukai harta?" Millie menyela obrolan mereka dari pintu mengalihkan perhatian kedua pria itu kearah pintu. Dia datang dengan selembar kertas yang Ardy minta. Namun dia juga membawa semacam kotak makanan sebanyak 2 buah.


"Ini yang anda minta" Millie menyodorkan kertas yang merupakan berkas asli dari laporan pihak farmasi. Lalu mengambil kursi kecil dan menempatkan di sisi meja kerja Ardy lantas membuka kedua kotak itu membuat mata Ardy membelalak.


"Risoles?" gumam Ardy membatin.


"Aaaaaak... " Millie menyodorkan potongan risoles yang dia tusuk dengan garpu kearah Ardy.


Hansel memperhatikan ekspresi Millie dan Ardy. Ada perasaan yang besar dari keduanya untuk satu sama lain.


Dan dia merasa iri.


"Untukku saja" sela Hansel yang haus akan kasih sayang membuat Millie menoleh padanya.


Ardy langsung melahap potongan risoles yang sudah disodorkan Millie padanya dengan mata menyorot tajam pada Hansel seolah menyatakan kepemilikan.


"Huh..." Hansel mengdengus kesal sembari memalingkan wajah.


"Anda.. bukankah anda sudah diperbolehkan pulang?" tanya Millie yang baru menyadari kalau yang berada diatas kursi roda adalah pasien VVIP yang pernah melamarnya tempo hari.


Millie menyuap potongan miliknya lalu kembali memotong dan menyodorkannya pada Ardy yang disambut Ardy sembari menatap tajam pada Hansel. Tatapan mengejek tentunya.

__ADS_1


"Ya, seharusnya calon istriku menyiapkan kepulanganku, tapi dia malah asik asikan dengan pria lain" tukas Hansel membalas tatapan Ardy.


Millie yang merasa tubuhnya merinding dengan suhu udara ruangan yang seketika membeku merasa tak enak dengan situasi tersebut. Dia yakin tengah terjadi perang telepati.


"Kurang ajar sekali calon istri anda. Wanita seperti itu seharusnya dibuang sebelum terlanjur terikat dengan anda tuan" timpal Millie mencoba mengalihkan konsentrasi Hansel. Dia tak mau terjadi apa apa dengan Ardy.


Benar saja. Tatapan Hansel kini berpindah padanya. Namun kini Ardy yang tak rela jika Millie ditatap seperti apapun oleh pria lain.


puk puk


Ardy menepuk tangan Millie lalu menunjuk mulutnya agar Millie melanjutkan menyuapinya.


Dan Millie menurutinya.


Hal itu membuat tatapan Hansel teralihkan.


"Cih" Hansel kembali berdecih karena sikap Ardy yang posesif.


"Bagaimana mungkin saya membuangnya kalau saya benar benar menginginkannya" cetus Hansel membalas Ardy. Membuat aktifitas mengunyahnya terhenti.


"Benarkah? anda bersedia dibodohi? apa anda tidak laku jadi bersedia dibodohi? Saya rasa dengan uang yang anda miliki, anda bisa mendapatkan apapun yang anda mau" tukas Millie memberikan penilaiannya.


"Benarkah?" tanya Hansel semringah. Seringai kemenangan terbit di sudut bibirnya. Benar bukan pemikirannya. Tak ada yang tak bisa ia beli. Dengan uang, apapun bisa dia dapatkan. Bahkan nyawa seseorang sekalipun.


Millie menoleh pada Hansel dengan dahi berkerut.


"Apa seperti itu cara anda melamar seseorang? itu sangat tidak romantis, tuan. Anda seperti sedang berniaga" timpal Millie yang lantas kembali menoleh pada Ardy karena Ardy mencekal tangan Millie yang memegang garpu lalu menyuapkan potongan terakhir camilan kesukaannya itu.


"Baiklah" Hansel lantas menjentikkan jari nya dengan nyaring sehingga ajudan yang sedari tadi menunggu di luar ruangan bisa mendengar dan masuk mendekati majikannya itu.


Sang ajudan membungkuk "Ya, tuan. Apa yang bisa saya bantu".


"Dompet saya" pinta Hansel singkat sembari menengadahkan tangan dengan jari yang panjang nan terawat itu.


Sang ajudan langsung memberikannya lalu undur diri.


"Bagaimana dengan.." Hansel memberikan dompet beserta isinya langsung ke telapak tangan Millie.


"Dokter.. Gumy.." Hansel membaca name tag Millie.


"Menikahlah denganku, maka aku akan membahagiakanmu dengan segala yang aku miliki" ucap Hansel dengan rona bahagia. Bahagia karena ekspresi yang ditampilkan Millie yang tampak terharu dengan senyum mengembang yang ditutupi sebelah tangannya.

__ADS_1


"Apakah itu benar?" tanya Millie memastikan.


"Apa yang kamu lakukan, jangan terpancing" bisik Ardy lirih sambil mencengkram lengan Millie.


"Ini menarik, diamlah" tolak Millie yang kembali menghadapkan tubuhnya pada Hansel.


Lagi lagi Hansel menampakkan senyum kemenangan.


Millie lantas membuka dompet Hansel yang isinya nauzubillah.


Bukan lembaran uang yang terselip di dalamnya. Bukan pula koleksi struk belanja berikut kupon diskonan.


Melainkan beberapa lembaran cek yang sudah terisi dengan berbagai nominal paling sedikit 50 juta, juga 5 buah kartu hitam yang saldonya unlimited.


Millie membelalakan mata dan mulutnya.


"Sayang sertifikat semua asset ku tak muat dalam dompet, tapi aku akan memerintahkan pengacaraku untuk menaruhnya dalam lemari pakaianmu di kamar kita nanti dan mengganti kepemilikannya atas namamu" lanjut Hansel penuh semangat.


"Anda serius? tapi.."


"Kamu hanya harus bersedia menikah denganku maka semua milikku akan menjadi milikmu" Hansel menjeda pertanyaan Millie dengan meyakinkannya agar mau menerima lamarannya.


"Mil.. sadarlah.. jangan terbujuk-"


"Diamlah" sergah Millie membuat Ardy mengatupkan rahang tegasnya.


"Baiklah. Tapi saya punya syarat" tukas Millie antusias.


"Anything for you, my dear" jawab lembut Hansel membuat Millie semakin antusias. Namun Ardy tengah dilanda rasa panik.


"Anything?" tanya Millie memastikan.


"Anything" Jawab Hansel mantap.


"Oke.. kapan?" Millie setengah memekik kegirangan dengan persetujuan Hansel.


MON MAAP NI MAK EMAK KALO UP NYA GAK RAJIN


MAKLUMLAH BULAN PUASA KONSENTRASI IBADAH DULU


INSHAALLAH MULAI SYAWAL RUTIN UP LAGI TIAP HARI

__ADS_1


HAPPY READINGšŸ¤—


__ADS_2