
tring
tring
Amir mengernyit kala melihat nomor yang memanggilnya pada ponsel pintar.
"Kang Amir, nona eh.. nyonya Millie lagi ada di pantai, tapi... kayaknya lagi digangguin om om deh.. waahh.. gak bisa dibiarin inimah kang. Biar Ningsih cabok eta lalaki kurang ajar ka dunungan aing (biar Ningsih kasih pelajaran lelaki kurang ajar sama majikan saya)" ucapan Ningsih menggebu kala melihat tubuh Millie bergetar ketakutan kala sosok pria tambun yang perlahan berjalan mendekat dari arah belakangnya mengendus rambut Millie.
"Sia teh ulah kurang ajar ka dunungan aing (jangan macam macam sama majikan saya)" geram Ningsih sekonyong konyong datang dengan melemparkan sendal jepitnya tepat ke kepala Hendrik.
Millie terkesiap dan tersadar akan tindakan tiba tiba Ningsih lantas menoleh ke asal suara.
"Ningsih.." lirihnya lantas segera menggerakkan kakinya yang sedari tadi mematung untuk berlari sambil meraih tangan Ningsih yang tampak masih menggebu.
"Cepetan lari" ajak Millie.
"E eh.. bentar non" Ningsih menghentikan langkahnya tiba tiba lantas berbalik lalu memungut sendal jepit yang barusan ia gunakan untuk melempar lelaki hidung belang itu.
plakk
__ADS_1
Ningsih kembali menamparkan sendal jepit itu pada wajah Hendrik seraya berucap "Sendal jepit saya lebih berharga dari muka kamu"
Ningsih lantas segera kembali berlari menarik tangan Millie yang tertegun akan tindakan tak terduga darinya.
"Cepet non, nanti ketangkep lagi" pekik Ningsih menarik tangan Millie.
Tanpa Ningsih sadari, sambungan telfon masih terhubung pada Amir membuat mereka dengan mudah diketahui lokasinya.
"Cepat kejar mereka, dasar bodoh" hardik Hendrik pada anak buahnya. Hendrik kesulitan berlari dan mengatur nafas karena bobot tubuhnya.
Millie dan Ningsih berlari sekencang mungkin menghindari raihan tangan para anak buah Hendrik yang hampir menangkapnya.
"Hahahaha.... mau terus lari? atau mau lompat?" ejek Hendrik tertawa nyaring. Dia turun dari motor trail anak buahnya lalu melangkah mendekat.
Ningsih lantas melempar kembali sendal jepitnya satu per satu ke arah Hendrik dan para anak buahnya yang tengah mengepung mereka, menyudutkan mereka lebih dekat ke bibir tebing.
"Sialan. Non maaf, pinjam sepatunya.." pinta Ningsih kala sepasang sendal jepitnya tak mempan menyingkirkan para buto ijo.
"Hahaha... apa kamu berniat melempar pakaian kalian juga? ayolah.. aku hanya ingin bersenang senang" ejek Hendrik lagi.
__ADS_1
"Apa maumu? kita udah gak ada urusan lagi" sentak Millie mencoba bernegosiasi. Dia tak mungkin melawan para body guard bertubuh kekar itu.
"Tentu saja kita akan terus berurusan. Adik ipar" Hendrik menekan 2 kata terakhir membuat Millie terperangah.
"Apa maksud kamu?" tanya Millie dengan dahi berkerut.
"Biar kutebak. Tampaknya suamimu belum mengetahui tentang keluarga besar Wijaya secara keseluruhan. Hmmm... akan sangat menarik jika dia mengetahui istrinya dinodai adik tirinya" ucap Hendrik melangkah perlahan dengan seringai licik lantas mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh pipi Millie.
plakk
Millie menangkis tangan laknat itu. Matanya menangkap pergerakan dibelakang Hendrik dimana Ardy, Amir, Arsen juga orang orang Jordan tengah melumpuhkan para body guard Hendrik.
Dan Hendrik menangkap pemandangan itu melalui lensa mata Millie.
Hekk..
Hendrik mencekik leher Millie dan mendorongnya hingga ke tepian tebing.
"NON MILLIIIEE..." teriak Ningsih histeris.
__ADS_1