
"Ini semua karena ayah" tuding Arsen yang tak mau sepenuhnya disalahkan.
"Ayah terus terusan menyakiti ibu. Selain membawa anak haram ayah ke rumah, ayah juga sengaja membawa wanita lain ke rumah. Alih alih menyentuh istri sendiri, ayah malah bermesraan didepan ibu. Ayah bahkan menyentuh istriku" geram Arsen berapi api kala menceritakan alasannya berbuat demikian.
Jordan yang tengah bahagia mendapatkan perhatian pertamanya dari cinta pertamanya sedikit teralihkan perhatiannya dengan penuturan anak sulungnya yang tak aneh baginya.
"Adikmu itu bukan anak haram, ingat. Lagipula apa ibumu memberitahumu darimana kamu berasal?" ucap santai Jordan. Dia sudah tak perduli dengan anggapan orang orang tentang perilaku bejatnya. Mau mati matian menyanggahpun rasanya percuma.
"Saya tahu kalau ayah dan ibu menikah karena dijodohkan, tap-"
"Jika bukan karena ibumu menaruh cairan laknat dalam makananku dan membuatku kehilangan kontrol diri, mana mungkin aku mau menikahi ibumu dan keluarganya yang licik dan serakah itu. Aku tahu kalau ibumu sekongkol dengan nenekmu agar bisa menikah denganku. Dan karena ibumu juga aku hampir diusir ayahku sendiri" potong Jordan membuat semua orang memfokuskan perhatian padanya.
Tentu saja mereka sedikit mengabaikan sikap Jordan yang nyaman bermanja ria pada Ardina yang wajahnya memerah.
"Jangan sembarangan mengatai ibuku" sergah Arsen tak suka dengan apa yang disampaikan Jordan dengan santainya.
"Heheh.. kalau tak percaya, tanyakan saja sendiri pada ibumu" tukas Jordan lantas melemparkan tabletnya keatas meja, dimana layar datar berukuran 10 inchi tersebut menampilkan peta keberadaan seseorang.
"Ayah bercanda? bagaimana mungkin aku menanyakan hal ini pada ibu yang sudah-"
__ADS_1
"Paris?" potong Millie yang tengah men-zoom layar datar tersebut.
"Apa?" tanya Ardy penasaran lantas mendekat hingga kepalanya menempel pada kepala Millie.
Amir yang juga penasaran ikut mendekat.
"Amir.. jauhan sana ngapain ih nempel nempel segala, mana bau tuh rambut. Jorok, belom keramas berapa taun" sarkas Millie sambil mendorong kepala Amir menjauh darinya seraya menutup hidung.
"Ehe.. ya maap, non. Belum ada alesan buat keramas soalnya. Maklum jomblo akut" tukas Amir menggaruk tengkuknya.
"Apa ini?" tanya Ardy kala melihat lokasi persis yang ditunjukkan titik pada peta digital tersebut.
"Ibu yang kalian kenal lemah lembut dan penyabar itu tengah bersenang senang dengan selingkuhannya. Coba kalian buka galeri foto" titah Jordan yang kini menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Ardina yang kini tengah mengatur nafasnya karena degup jantung yang tiba tiba memompa cepat.
"Ngapain kita disuruh liat beginian" cebik Millie memperlihatkan foto Jordan yang tengah dikelilingi wanita ber bikini transparan.
Jordan langsung meraih tabletnya dengan wajah memerah.
"Maaf, yang itu belum kehapus" sergah Jordan lantas menghapus dan memunculkan foto sasarannya.
__ADS_1
"Jangan marah ya, sayang" bujuk Jordan yang kembali merebahkan kepalanya pada pundak Ardina lantas kembali menaruh tangan Ardina yang masih memegang handuk kecil itu ke kepalanya.
"Cih, menjijikan. Awas kalo kamu kek gitu" cebik Millie lantas mengancam Ardy.
cup
Tanpa diduga Ardy mengecup bibir Millie sekilas, membuat Millie merasa malu seketika.
"Kamu tau cuma kamu yang bisa narik perhatian aku" imbuh Ardy seraya mencubit pipi Millie.
"Ekhem, ada orang tua disini" timpal Jordan tanpa membuka matanya.
Bagai mendapat kesempatan, Amir segera merebut tablet dari atas meja untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Ini.. dilihat dari tanggal dan waktunya.." ucap Amir terbata kala menilik foto itu.
Ardy dan Arsen mendekat untuk ikut menuntaskan rasa penasaran mereka.
OTHOR JUGA PENASARAN NIH
__ADS_1
NAPA JEMPOLNYA PADA MALU MALU KOCHENG😌