
Millie sekilas menoleh pada Ardy yang duduk di sebelahnya. Dia baru tersadar jika Amir sang ajudan tengah mengompori majikannya.
Lihat saja rahang Ardy yang mengetat.
"Masih calon, kan. Belum juga janur kuning melengkung. Yang namanya takdir bisa diubah kan dengan kegigihan kita" ucap Millie bersemangat kala melihat perubahan ekspresi Ardy yang lantas menunduk menyembunyikan senyum nya. Tepatnya melipat mulutnya menahan agar senyum itu tak tampak.
Amir salut dengan semangat wanita ini. Dia memang belum tahu mengenai masa lalu mereka, namun itu pastilah sesuatu yang dalam yang mereka pendam. Sesuatu yang belum sempat mereka ungkapkan satu sama lain di masa lalu.
Pasalnya selama dia mengabdi pada Ardy, tap pernah sekalipun melihat senyuman terbit di wajahnya. Jangankan senyum, ekspresi marah pun sepertinya enggan muncul.
Datar dan dingin, membuat Amir berkali kali meyakinkan diri jika dia tidak sedang mengabdi pada sebuah robot.
"Yah, terus nasib saya gimana dong non?" tanya Amir berpura pura kecewa.
"Selamatkan hidupmu" ucap Ardy dengan suara rendah. Benar benar menghujam kalbu.
"O iya, ngomong ngomong tentang calon, calon kamu kek gimana, Pit? pasti cantik dan seksi, rang kaya pula.. mmm.. biar ku tebak.. anak kolega mungkin?" tebak Millie penasaran.
"Bisakah anda bersikap sopan. Ingat bahwa saya adalah atasan anda. Jangan sok akrab dengan saya. Terlebih bertanya tentang hal pribadi. Sangat tidak sopan" ketus Ardy yang sebenarnya tak bisa menjawab pertanyaan Millie.
Calon apaan? Calon hayalan?
"Ya elah, Pit. Kita bukan di rumah sakit, kan.."
"Apa anda benar benar menyangka jika saya adalah teman masa lalu anda sehingga anda bisa seenaknya sok akrab dengan saya? karena saya merasa tak pernah mengenal wanita seperti anda. Dimana dia sekarang, hah. Berani beraninya berwajah sama dengan saya" geram Ardy mempertahankan kepura puraannya.
"Tapi.. nama dia.."
"Apa namanya juga sama?" potong Ardy.
Millie menggeleng.
"Aku bahkan lupa nama aslinya. Aku memberikan nama itu berdasarkan bentuk burungnya yang mungil" jawab polos Millie membuat Amir hampir menyemburkan tawa.
"Pppffftt.."
__ADS_1
Sedangkan Ardy kembali berwajah merah karena ucapan polos Millie yang membuat harga dirinya jatuh.
"Apa itu benar, non? non Gumy emang pernah liat burungnya temen non itu?" Amir kini bertambah lancang dengan menanyakan hal yang bisa membuat nyawanya seketika melayang.
"Dulu sih, waktu masih bocah. Tapi keknya sekarang udah jadi rajawali kali yak" kelakar Millie sambil menatap arah pangkal paha Ardy yang sedikit menyembul.
Amir tergelak.
"Terus kalo udah jadi rajawali, panggilannya apa dong non?" lanjut Amir sembari terkekeh.
"Raja bulu kek nya cocok deh ya" imbuh Millie dibalas gelakan Amir.
"Awas kamu, Mir" geram Ardy dalam hati sembari memberikan tatapan maut bertubi tubi.
Namun sepertinya dengan keberadaan Millie membuat nyawa Amir terselamatkan.
Ardy yang bisa membaca tingkah Amir lantas mengutak atik ponselnya.
Ekspresi tenangnya justru membuat Amir semakin merinding dibuatnya.
"Mampus, beneran diblokir lagi kan" Amir menangis dalam hatinya.
Prang...
"Kamu tidak bisa mengatasi 1 orang wanita? lalu apa saja yang kalian lakukan, hah.. untuk apa saya membayar kalian" murka Jordan pada Fredi yang terpaksa kembali karena tak bisa mendapatkan wanita incaran bos besar nya.
Jordan terus memukuli Fredi yang tangannya diikat dan digantung seperti samsak pasir.
"Apa dia bersama seseorang?" lanjut Fredi bertanya saat berhenti untuk beristirahat sejenak.
"Aaarrgghh.. enggak, bos.. dia.. dia sendirian.. ahh.." Fredi mengaduh karena luka yang di deritanya. Resiko baginya jika tak mendapatkan apa yang bos nya inginkan. Sayangnya dia sudah punya keluarga, dan keluarga merekalah yang menjadi kelemahannya sehingga dia tak bisa melawan atau keluarga mereka akan menjadi korban kebengisan sang bos besar.
"Gadis manis.. kamu rupanya sedang beruntung kali ini" gumam Jordan menatap kosong jendela yang menjadi sekat antara ruang sasana dengan kolam renang indoor yang menampilkan para wanita seksi tengah berlomba memamerkan keindahan tubuh mereka dalam balutan bikini yang super mini, yang hanya menutupi setitik area inti mereka saja. Jordan biasanya senang bermain main dengan mereka dimanapun dia kehendaki, namun akhir akhir ini mood nya turun kala tiba tiba terlintas bayangan Millie. Alangkah senangnya dia jika bisa merasakan tubuh kekasih anaknya itu.
Tiba tiba Jordan terpikir akan sesuatu.
__ADS_1
Suatu hukuman yang akan membuat Fredi jera karena kegagalannya.
"Bukankah kamu sudah lama tak pulang pada istrimu? dia pasti merindukanmu. Rindu sentuhanmu. Bagaimana jika aku menggantikanmu menyenangkan hatinya, aku jamin dia akan merasa sangat bahagia dengan pesan yang aku sampaikan hahaha...." tawa jahat Jordan menggema meninggalkan ruang sasana itu. Tak perduli Fredi berteriak memohon dan menangis menghiba.
"Tidak tuan.. jangan sentuh istri saya.. saya mohon.. tuaann.." Fredi menangis frustasi.
Brakk
Anak buah Jordan mendobrak pintu rumah minimalis milik Fredi. Fredi sangat menginginkan membelikan rumah 2 lantai untuk anak dan istri yang sangat dia cintai. Kesalahan yang dia lakukan adalah jatuh cinta. Sehingga kini keluarganya terancam bahaya.
Jordan dengan mantap melangkah masuk.
Hari sudah gelap, jadi mereka segera melangkahkan kaki kearah kamar karena mereka pasti sudah terlelap.
"Bos.. mereka tidak ada disini" lapor salah satu anak buah Jordan berkeringat. Apa kini bagiannya menderita. Bukan salahnya jika kelurga Fredi tiba tiba tidak di tempat. Mungkin mereka sedang liburan. Batin anak buah Jordan.
Langkah kaki Jordan seketika berhenti. Amarahnya sudah berada diubun ubun. Cerutu Kuba yang tengah terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya patah karena emosi tertahan Jordan.
Bagaimana bisa keluarga Fredi pergi tanpa sepengetahuan anak buah Jordan yang selalu memata matai mereka.
"Lalu apa kerja kalian selama ini, dasar manusia tak berguna"
hekk
Jordan kembali murka dan mencengkeram leher anak buahnya itu dengan emosi yang membuncah.
Hasratnya sudah berada diubun ubun namun dia tak berselera dengan para mainannya. Dan kini saat dia ingin melampiaskan pada istri anak buahnya, kembali harus kecewa karena mereka tidak ada ditempat.
tok tok
"Permisi.. omaygat.. banyak orang yang dateng, ada apa ya. Apa si Siti ditagih utang onlen? spadaa.. maaf bapak bapak nyari Keluarga pak Fredi ya" Seorang wanita berusia 40an tiba tiba datang untuk mencari tahu tentang keluarga kecil Fredi yang misterius. Mereka bahkan tak pernah bergaul dengan lingkungan sekitar.
Semua orang lantas menoleh.
Jordan seketika melonggarkan cengkeraman tangannya kala melihat sosok wanita itu mengenakan piyama berbahan satin yang menonjolkan tubuh bagian atasnya.
__ADS_1
Anak buah yang baru lepas dari cengkraman iblis pun merasa mempunyai jalan keluar.
"Tangkap dia" titahnya pada bawahannya yang langsung menutup pintu dan membawa wanita yang tengahitu ke kamar untuk dijadikan tumbal. Setidaknya nyawa mereka kali ini selamat.