
POV ARDY
"Ayah, Ibu.. mmm.. " sapaku ragu ragu ingin menyampaikan sesuatu pada kedua orang tuaku kala Millie tengah berkutat di dapur bersama mbok Sari.
"Kenapa sayang?" sahut ibu yang sibuk menyingkirkan tangan Ayah yang terus memainkan rambut, jari atau menyuapinya buah.
Awalnya aku merasa risih dengan perilaku ayah yang kelewat bucin dan possesif pada ibu.
Namun kini aku tak mempermasalahkannya selama hal itu dilakukan hanya bersama ibu.
Mungkin aku juga akan seperti itu kelak pada wanita yang kucintai.
"Aku.. aku.."
"Udah, gaskeun lah, gak usah banyak pertimbangan. Ayah juga tau kok, dia pasti mau" potong ayah membuat ibuku bingung.
"Ngomongin apaan sih?" tanyanya menoleh padaku dan ayah bergantian.
"Apa ayah yakin?" tanyaku tanpa memperdulikan kebingungan ibu.
"Seratus persen" jawab ayah mantap.
"Tau dari mana?" lanjutku. Sedangkan ibu hanya bisa menyimak.
__ADS_1
"Ck, kamu itu. Matanya gak bisa bohong. Lagi pula, dia selalu mati matian ngelindungin kamu. Kamu lupa?" ayah mengingatkan. Dia benar. Millie bahkan rela mengorbankan dirinya demi aku saat itu. Benarkah dia serius mau menikah denganku?
"Bobo yuk" lanjut ayah tanpa disangka mengajak ibu ke kamar, namun langsung ditolak ibu. Kasihan ayah.. ralat. Kasihan ibu. Di usianya yang sudah tak muda lagi harus mengimbangi stamina ayah yang masih sangat kuat dalam meluapkan hasratnya.
"Masih siang ini, makan siang aja belum" ketus ibu menarik kembali ayah yang sudah bangkit dan menarik tangannya.
"Lagian dengerin dulu anak kita lagi ngomong, hargain kenapa?" lanjutnya yang kesal karena keegoisan ayah. Meski begitu, wajah ibu pun merona setiap kali ayah mengajaknya bermesraan.
"Maksud kamu apa, sayang. Ibu gak ngerti kalian dari tadi ngomongin apa" lanjut ibu bertanya padaku, anak semata wayangnya.
"Ardy berniat melamar Millie, bu. Tapi bingung" jawabku dengan mata mengawasi pergerakan di dapur. Takut sekonyong konyong Millie hadir saat aku sedang membahas niatanku.
Ayah memutuskan duduk kembali dan mendengarkanku seperti titah ratunya.
"Masalahnya Millie.."
"Datangi saja pamannya. Ayah tau tempatnya" sela ayah lantas mengetikkan sesuatu pada ponselnya lalu mengirimkannya padaku. Ternyata ayah mengirimkan alamat paman Millie.
"Pamannya? darimana ayah.."
"Kamu lupa kalau pacarmu itu sempat jadi sasaran ayah?" potong Ayah tenang. Namun ketenangan itu berubah menjadi kepanikan. Pasalnya ibu tengah melipat kedua tangannya sambil menatapnya tajam.
"Mampus" batinku merasa puas.
__ADS_1
"Eh.. itu dulu, sayang. Sekarang kan aku punya kamu" bujuk ayah menggosokkan pipinya pada lengan ibu.
Hmmm... bisa ku praktekkin nanti kalo Millie merajuk.
"Tapi asal kamu tahu, mereka sudah menjual Millie pada ayah" lanjut ayah.
"Apa?" aku dan ibu terperangah bersamaan.
"Betapa miris kehidupan gadis itu. Setelah dibuang ibunya, keluarganya mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan" ayah tersenyum sinis kala mengungkapkan hal itu.
Aku termenung mendengar penuturan ayah. Kenyataan jika Millie sebenarnya masih punya keluarga, namun seolah sebatang kara, membuat tekadku semakin yakin untuk mempersuntingnya.
"Mill, seminggu ini aku ada pekerjaan ke luar kota, kamu kalo kesepian main aja ke rumah ibu ya" ucapku kala mengantarkan Millie pulang ke rumah kontrakannya.
"Males ah main ke rumah ibu gak sama kamu mah" cebik Millie.
"Kenapa?" tanyaku terheran. Bukankah dia dan ibu cukup dekat.
"Ibu sama ayah tuh paling hobi nyiapin kacang. Trus aku disuruh nonton drama romansa yang ada adegan 18 ples nya" lanjut Millie membuatku terkekeh.
Itu memanglah kenyataan.
"Gak tau aja mereka kalo ada yang nyut nyutan nontonin mereka" imbuhnya.
__ADS_1