My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Ambyar


__ADS_3

"Pit.. itu elo kan?" tanya Millie langsung to the point dengan sikap bersidekap didepan meja kebesaran Ardy.


Ardy meliriknya sekilas dengan sedikit menurunkan map berisi file itu lalu menaikkannya lagi untuk menutupi ekspresi gugupnya.


"Selain tak memenuhi standar pegawai, kamu juga tak punya adab" ucapnya sedikit khawatir apakah suaranya bergetar karena rasa gugup itu.


Sungguh Ardy ingin mengumpati dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan diri.


Bukan seperti dirinya dalam waktu beberapa tahun ini, yang selalu tegas dan cenderung jahat tak berperasaan pada lawan jenis.


Dihadapan Millie sekarang, Ardy sungguh kehilangan jati dirinya.


"Maaf, nona dokter..." sergah Amir namun lantas dikoreksi Millie.


"Nona nona.. kamu pikir saya anak kemarin sore" ketus Millie.


"Ah.. kalau begitu.. nyonya.. maaf.."


"Saya belum nikah, masih single, masih gress, maap ya. Udah anda diam dulu, syuh syuh, orang dewasa mau bicara" usir Millie membuat Amir kembali tercengang. Baru kali ini dia berhadapan dengan wanita yang tak takut pada penampilannya yang garang.


"Pit.." Millie kembali memanggilnya.


Ardy bergeming. Lantas membalikan lembaran file ditangannya.


"Kebalik tuh file nya" lanjut Millie sembari menahan tawanya. Pun dengan Amir yang memang menyadari keanehan bos nya ini sedari tadi.


"Sialan" desis Ardy lantas menyimpannya diatas meja. Sungguh sia sia. Wibawanya ambyar seketika dihadapan gadis tengil ini.


"Apa kamu tak bisa membaca?" ucapnya lantas mengarahkan pandangannya pada papan namanya. Ardy mengalihkan topik yang membuatnya terhina.


"David Michael, Presiden Direktur.. Waw.. luar biasa sekali pencapaianmu, pit" Millie membaca papan nama itu dengan lantang, namun tetap tak enak didengar pada akhir kalimatnya.


"David. Pakai 'V' jika kamu memang benar bisa membaca" ralat Ardy yang heran dengan kekeras kepalaan Millie.


"Iya, Depit. Pakai 'P'" keukeuh Millie membuat Ardy mengetatkan rahang. Kesal bercampur kangen. Namun kali ini rasa kesalnya lebih mendominasi.


"Ada perlu apa anda kemari" Ardy mengalihkan topik lagi, ingin segera terbebas dari rasa yang tertahan. Mau dilampiasin, gimana.. ditahan juga, gimana.


Ardy menautkan kesepuluh jari lalu menopang dagunya.


Millie langsung menjatuhkan pantatnya di kursi seberang Ardy tanpa ada sifat elegan sedikitpun.


Dengan antusias Millie menumpukan dagunya diatas kedua tangannya yang ditumpuk satu sama lain dengan mengembangkan senyum.

__ADS_1


"Gue kangen" ucap Millie dengan senyum semringah, tampak tak sabar mengungkapkan isi hatinya.


blussh..


Tanpa sadar wajah Ardy memerah. Hal yang juga baru Amir lihat selama bertahun tahun mengabdi pada Ardy yang sebenarnya usia Ardy lebih muda 3 tahun darinya. Namun dengan uang, apapun bisa di nego.


"Apa sudah selesai?" Ardy berucap sedingin mungkin. Tak tahu saja dia jika Millie bisa membaca kegugupannya.


"Gimana lo bisa idup tanpa gue" Millie mengacuhkan pertanyaan Ardy.


Ardy bergeming. Mengetatkan rahang, seraya menatapnya tajam.


"Lo tega pergi gitu aja.. Lo gak tau sesulit apa gue jalanin hidup tanpa elo" Millie berucap dengan ekspresi sendu. Ada rasa hangat dihati Ardy, namun harus dia tahan sebisa mungkin.


"Gue gak bisa idup tanpa elo.." lanjut Millie dengan nada lembut dan penuh perasaan.


Amir hanya bisa memalingkan wajahnya.. Ingin pergi tapi mereka pasti terusik. Kalau bertahan, Amir semakin ingin muntah mendengar mereka. Yang satu tak hentinya menggoda, satu nya lagi mati matian menjaga imej.


'Cape' keluh Amir.


"Gue bener bener gabisa idup tanpa lo" imbuh Millie membuat tatapan tajam Ardy melembut.


"Eeaaaa.... baper kan lo haha... dasar burung pipit baperan hahaha..." Millie bangkit seraya tertawa nyaring setelah puas mengerjai Ardy, lalu berlari keluar disusul lemparan tempat menyimpan alat tulis kearahnya namun tak mengenainya.


Wajah Ardy memerah lalu tampak seulas senyum ia tahan, membuat Amir mati matian menahan diri untuk tak menyemburkan tawanya.


"Apa lo senyam senyum" ketus Ardy pada Amir yang seketika mengulum senyumnya sembari menggeleng cepat.


Tanpa diduga, kini Ardy yang tersenyum lebar.


"Jadii..." ucapan Amir langsung dipotong Ardy. Sedikitnya Ardy tahu jika Amir hendak meledeknya.


"Berisik" desis Ardy seketika mengubah ekspresinya kembali datar.


Namun Amir dan segala ke kepoannya tak bisa jika tak mengungkapkannya seraya berkata "Dari situ asal usul nama samaran anda berasal"


"Shut up" kesal Ardy karena digoda sang ajudan.


Amir lantas tergelak namun langsung menutup mulutnya kala Ardy memelototinya.


Millie benar benar membuat wibawanya remuk se remuk remuk nya melebihi dari remukan roti.


"Kumpulkan dewan direksi" titah Ardy lantas diangguki Amir.

__ADS_1


...****************...


"Dokter Gumy.." seru salah seorang pasien memanggil Millie.


Ya, Millie dijuluki Dr. Gumy di rumah sakit itu dan terkenal ramah pada semua orang, tanpa kecuali.


Millie yang tengah menunduk untuk melihat histori status pasien pun mendongak sembari mengunyah permen karet.



Dari situlah julukannya berasal.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, nyonya?" sapa sopan Millie. Seorang perawat lantas menghampiri dan membersamainya.


"Mengenai ibu saya, saya bingung penyakitnya tidak begitu gawat sehingga membutuhkan rawat inap selama ini, kapan akan dilakukan tindakan, kalau masih harus nunggu saya minta pulangkan ibu saya dan biarkan menunggu dirumah saja, sampai sekarang pun dokter yang menangani penyakitnya belum melakukan kunjungan" keluh wanita berusia setengah matang itu dengan ekspresi kesal.


"Ibu anda dirawat di bangsal mana?" tanya Millie seraya mencari status pasien tiap kamarnya.


"Kamar 641 bed 1, atas nama ibu Maryam" jawab wanita itu masih mempertahankan ekspresi kesalnya.


"Oh, beliau pasiennya dokter Reza, dok" sela perawat berbisik pada Millie.


"Dr. Reza? Varises?" Millie terkejut dengan rekam medis pasien tersebut.


"Iya, dok. Varises. Apa penyakit itu mematikan sampai harus dirawat selama ini?" sembur wali pasien. Pasalnya sang ibu telah dirawat selama 3 hari namun seolah diabaikan sang dokter, hanya diberi makan dan minum, lantas diinfus seolah kesehatannya sangat bermasalah.


"Ah, begini saja, biar saya cek dokter Reza apakah beliau sudah kembali dari luar kota apa belum. Nanti kami kabari ibu secepatnya ya" Millie menenangkan wali pasien. Tak mungkin dia mengabaikan etika dengan memberitahukan tentang trik rekannya agar meraup penghasilan lebih.


Dengan samar sang wali pasien mendengus dan kembali ke bangsal ibunya.


Millie membalikan tubuhnya menghadap sang perawat yang sudah bersiap terkena semprotan Millie.


"Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Millie tegas seraya berkacak pinggang.


"Su.. sudah, dok" jawab perawat menundukkan kepala.


"Lalu?"


"Kata beliau.. urus saja dahulu" jawabnya mencicit.


Millie memutar bola matanya. Jengah dengan kelakuan rekan seprofesinya yang rajin mengumpulkan pundi pundi uang dengan cara seperti ini.


Millie lantas menghubunginya dan mengancam akan menggantinya dengan spesialis lain.

__ADS_1


"Mentang mentang ditanggung perusahaan almarhum suaminya. Kena kualat nyaho lo" gerutu Millie menunjuk pada ponsel yang sambungannya sudah terputus dengan kesal.


__ADS_2