
"Jangan gila kamu, Mill" desis Ardy panik akan pernyataan Millie yang dengan mudahnya menerima Hansel dengan iming iming harta.
Bukan karena apa, melainkan jika harus membandingkan harta, jelas kekuasaan Ardy pribadi lebih luas dibanding keluarga Hansel. Belum warisan yang akan ayahnya berikan padanya suatu saat nanti.
Tapi bukan itu masalahnya.
Sepengetahuan Ardy, Millie bukanlah tipe wanita yang gila harta.
Tapi kenapa sekarang...
Aaaarrrgghh...
Ardy berteriak membatin.
Bukannya terbujuk Ardy, Millie malah memeletkan lidahnya seolah mengejek Ardy.
Juga seolah berkata "Suruh siapa nolak gue"
Haaahhhh....
Ardy mengacak rambutnya gusar.
Frustasi
Marah
"Padahal cakepnya beda tipis" batin Ardy.
"Sekarang juga kalo kamu siap.. ah tidak.. aku harus mengadakan pesta meriah untukmu. Begini saja, seminggu lagi kita menikah.."
"What.." Ardy terhenyak mendengar penuturan Hansel yang antusias.
__ADS_1
"Besok akan ada orang yang menjemputmu untuk fitting dress. Kamu jangan khawatirkan apapun, biar orang orangku yang menyiapkan semuanya" lanjut Hansel dengan menggebu. Tampak nafasnya naik turun dengan kencangnya.
"Lalu kapan anda akan di kremasi?" tanya Millie tak kalah antusias dihadapan Hansel.
"........"
"Maksudmu?" seketika ekspresi semringah Hansel tampak tertahan. Berharap apa yang dia dengar barusan adalah kesalahan kotoran telinga yang menyumbat.
"Iya, itu syaratku. Aku akan menikahi jenazahmu, setelah itu aku bisa menikmati semua peninggalanmu, kan?" ucap Millie terdengar jelas.
"Pppfftt..." Ardy menahan semburan tawanya.
Dan senyum di wajah Hansel perlahan padam saat Millie terus menjelaskan niatnya.
"Aku ingin melakukan bungee jumping, snorkling, hiking, cliffhanging, sky diving, pokoknya yang ing ing an deh, dan gak mungkin sama anda kan?" ungkap Millie terdengar antusias namun sarkastik.
"Ya Tuhan, maafkan dosa hambamu ini" lanjut Millie berdo'a dalam hati. Dia sadar telah salah dalam menyampaikan penolakannya. Namun dia merasa tak ada cara lain selain membuatnya mundur sendiri.
Hansel terdiam seketika. Rahangnya mengetat dengan tatapan mata yang tajam menatap Millie.
Dia sebenarnya merasa iba pada Hansel. Namun sayang, rasa iba itu menguap kala Hansel dengan sombongnya memamerkan kekayaan untuk membeli seseorang.
Lagi pula, Millie sedang memperjuangkan hidupnya sendiri.
"Kalau anda mau, saya bersedia menjadi teman anda. Hanya teman biasa. Karena saya tak mau membuat orang yang spesial bagi saya salah paham dan cemburu" imbuh Millie sedikit melirik kearah Ardy.
Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu, lalu saling memutuskan karena timbul rasa aneh dari keduanya kala tatapan itu bertemu.
"Huh.. ternyata sakit hati lebih menyakitkan dibanding sakit jantung" keluh Hansel menghela nafas yang terasa tercekat.
Sedikitnya dia mempunyai harapan sebelumnya jika Millie bersedia mendampinginya. Bukan karena dia suka, namun karena butuh, juga ingin merebut apa yang Ardy miliki.
__ADS_1
Hansel lantas berbalik dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
Pun dengan kedua orang yang masih berada dalam satu meja itu mendadak hening.
Sesekali tatapan mereka kembali bertemu, dan langsung saling memalingkan wajah. Hingga beberapa kali terulang, mereka tak satu pun enggan untuk memulai obrolan.
"Bos.." seru Amir tiba tiba dari arah depan meja Ardy dengan kepala condong mendekat pada Ardy.
"Astaga.." Ardy sontak terperanjat karena terkejut dengan kemunculan Amir yang tiba tiba, membuyarkan moment membagongkan nan mendebarkan.
"Apa saya boleh pulang?" tanya Amir kemudian.
Ardy menganggukkan kepala dengan cepat seraya mengelus dadanya.
Sungguh nelangsa nasib Amir yang harus melihat perilaku malu malu kedua insan yang tak menganggapnya ada.
Dia bahkan mengutuk dirinya sendiri karena pernah berharap memiliki jubah 'invisibility cloak' nya Harry Potter.
Harapan itu ternyata terkabul namun tak nampak layaknya nama jubah itu.
Wujudnya tak ada, namun kehadiran Amir menjadi tak kasat mata.
Amir lantas bergegas melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan lega.
"Masih siang kenapa pulang?" tanya Millie terheran.
"Hah?" Ardy terkesiap lantas mengangkat sebelah tangannya guna menatap benda yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Keluar dari ruangan, kupotong separuh gajimu" ucap lantang Ardy menghentikan langkah Amir yang nyaris menginjak garis batas ruangan dan koridor.
"Sialan. Harusnya si bos gak sadar secepat ini" rutuk Amir dalam hati.
__ADS_1
"Eng... saya hanya ingin menutup pintu, bos. Takut ada nyamuk" tukas Amir dengan cepat lantas menutup kedua daun pintu yang terbuka lebar.
Sungguh saat ini dia satu satunya nyamuk yang berada di ruangan.