
Brakk
Millie membuka pintu dengan kasar. Emosinya membuncah, ingin segera melampiaskan kekecewaannya pada Ardy. Saking emosinya, dia bahkan tak menyadari kemana larinya permen loli yang sedari tadi setia menghiasi mulutnya.
Apa kalian juga bertaenya taenyaπ
"Sakit.. bisakah kamu gak bermain kasar?" rintih Milea dengan tubuh tengkurap diatas meja kerja Ardy dengan sebelah tangannya dicekal dibelakang tubuhnya oleh Ardy yang tampak bernafsu.
Entah nafsu apa, Millie dan Amir tak bisa mengartikan karena posisi mereka saat ini sangatlah absurd.
Bagaimana tidak. Posisi keduanya kini bisa membuat siapapun salah paham.
Rok mini yang dikenakan Milea saat ini sedikit tertarik keatas karena tubuhnya yang membungkuk. Lalu Ardy yang mencekal sebelah tangan Milea pun sedikit membungkuk dengan bagian bawah menempel pada bo kong Milea.
Belum lagi dasi dan kemeja Ardy yang berantakan, juga rambut keduanya yang jauh dari kata rapi.
"B.. bos.. ma.. maaf.. nona Gumy memaksa.."
"Maaf mengganggu aktifitas PANAS kalian. Aku hanya ingin menyampaikan ini. Permisi" ungkap Millie memotong ucapan Amir. Dan dengan kasar menyimpan selembar kertas ke atas meja sembari menatap jijik pada Ardy yang tertegun namun posisinya masih bertahan.
"Bisakah kamu melepaskanku, dasar brengsek" umpat Milea menyadarkan Ardy dari lamunan.
Ardy melepas cekalannya lalu mundur dan kembali ke kursi seraya merapikan kemeja yang sempat Milea cengkram karena kesal. Kesal karena sang ayah dipecat secara tidak hormat, dan dia tidak bisa bergabung dengan kelompok sosialita nya. Dia bahkan menjadi bulan bulanan karena reputasi sang ayah.
Untuk itulah Milea mendatangi Ardy untuk menuntut ganti rugi. Setidaknya cicilan tas, sepatu, cincin, operasi plastik, dan perhiasan mewah lainnya bisa lunas terbayarkan.
Namun bukan Ardy namanya jika tak tega. Dia bahkan tak segan menyakiti wanita yang dia rasa tak masuk akal menjadi wanita.
eeeeee... gimana? πππ
Ardy meraih selembar kertas yang menjadi korban kekesalan Millie, lalu membacanya. Tak menghiraukan ocehan Milea yang ber api api.
Seringai jahat terbit dari sudut bibir Ardy, lalu membalikan kertas itu menghadap Milea.
"Lalu bagaimana dengan pertanggung jawaban ayahmu mengenai hal ini, heh" ketus Ardy melemparkan selebaran itu pada Milea yang segera diraih dan dibacanya.
"Apa ini? jangan bertele tele. Cepat bayar ganti rugi" Milea melempar kembali selembar kertas dengan tulisan yang tentu saja isinya tak ia mengerti, lalu menengadahkan sebelah tangannya.
__ADS_1
Ardy meraih kertas itu lalu melipatnya dengan rapi. Dia percaya Millie mempunyai masternya karena kop surat yang tertera juga cap stempel perusahaan farmasi yang dibubuhkan berwarna monochrome.
Ardy lantas bangkit dan memberikan tepat ke telapak tangan Milea seraya berpesan "Ini adalah pesangon untuk ayahmu. Beruntung dia tak harus menebusnya ke kantor polisi" ucap Ardy bernada tegas dengan rahang mengetat. Merasa geram dengan tingkah ayah dan anak yang mata duitan.
Milea mengangakan mulutnya tak percaya dengan penuturan si presdir baru ini.
"Apa kamu bercanda?"
"Di bagian mana dari wajahku yang bercanda? Lihatlah berapa banyak uang yang ayahmu keruk selama menjabat di rumah sakit ini.
Kalian bahkan tak perduli dengan nasib para pasien yang menunggu obat untuk menyokong hidupnya yang entah sampai kemana karena menurut penuturan tim farmasi rumah sakit, obat obatan dalam daftar itu belum ada yang masuk selama 6 bulan terakhir.
Dan menurut salah satu pasien yang keberatan dengan harga obat yang harus dibeli sendiri di apotik yang mana seharusnya obat itu tidak beredar secara umum.
Yang artinya obat itu hanya disalurkan ke rumah sakit dan puskesmas saja. Tapi tidak dengan apotik ini. Mereka menyediakan obat obatan yang hanya bisa didapat di rumah sakit dengan resep dokter.
Dan saya tebak, nama apotik ini mewakili namamu, bukan?" Ardy memperlihatkan kantung plastik berwarna putih dengan cetakan nama 'Apotik Milea Jaya' lengkap dengan struk pembelian obat beserta bungkus kosong obat yang didapatnya dari pasien.
"Rumah sakit ini bahkan kehabisan stok obat tuberculosis. Suatu hal yang sangat mustahil bagi sebuah rumah sakit dalam menyediakan obat penderita infeksi menular. Sekaligus hal yang mustahil bagi apotik dalam menyediakan obat tersebut tanpa pengawasan dokter yang praktik di tempat. Jadi, apa anda sudah siap menginap di hotel prodeo?"
Milea lantas panik dengan penjelasan Ardy yang panjang kali lebar kali tinggi.
"Seret dia" titah Ardy pada Amir dengan tegas.
Milea berteriak dan meronta dari cekalan Amir.
Ardy tak perduli. Dia lantas mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
"Bawa lembaran aslinya kesini" sent.
Ardy mengirim pesan pada Millie yang tak kunjung berwarna biru.
Hampir 30 menit centang itu masih berwarna abu. Ardy menggigit kepalan tangannya dengan frustasi.
"Ayolah.. bacaaa..." gumamnya kesal.
Dia lantas meneguk segelas air putih hingga tandas untuk membasahi tenggorokannya yang tercekat.
__ADS_1
Bahkan saat menghadapi Milea tadi dia tak segusar ini.
"Bos.. maaf.. bukankah nona tadi adalah kekasih-" pertanyaan Amir tak diteruskan karena tatapan tajam Ardy menghunus jantungnya.
"Bisa bisanya kamu bilang kalau dia kekasih saya?" ucap Ardy dengan lantang.
Atas dasar apa dia menduga jika wanita serakah itu adalah kekasihnya. Pikir Ardy.
"Panggil Millie kemari" titah Ardy dengan ketus. Namun tak segera dilaksanakan Amir karena dia tampak sedang berfikir.
"Apa yang kamu tunggu" hardik Ardy mengejutkan Amir.
"Ah.. m.. maaf.. tapi.. bukankah barusan anda sudah mengusirnya" tukas Amir kebingungan.
"Mengusir.. ya ampun.. Millie, Mir. Millie.. bukan Milea" tegas Ardy kesal. Amir pasti salah mengira.
"Ah.. bukan ya.. Lalu.. dimana saya harus mencari.. Millie?" Amir masih mempertahankan kebingungannya.
"Ya terserah kamu. Cari di seluruh penjuru rumah sakit" bentaknya sembari menggebrak meja. Membuat Amir segera mengayunkan kakinya keluar dari ruangan presdir dengan bingung.
"Millie siapa sih? tau aja enggak. Gimana mau nyari nya?" gerutu Amir sambil melangkah turun menggunakan lift.
"Mbak sus, saya harus nyari Millie kemana ya?" tanya Amir pada salah seorang karyawan berseragam putih berpolet oren.
"Coba ke informasi, pak. Ke bagian anak hilang. Biar nanti diumumkan lewat pengeras suara" jawab petugas sanitasi.
"Anak hilang? ah, iya. Gak harus anak anak, kan" gumamnya yang mendapat pencerahan.
"Aduuuh.. Amir kok lama sih nyari satu orang aja. Emang rumah sakit ini luas banget apa? masa nyari satu orang di rumah sakit yang gak sebanding dengan satu kota aja susah.
Mesti dikasih pelajaran tu orang. Udah mulai ngelunjak. Bener bener... Astaga.." Ardy terlonjak kaget saat tengah berjalan mondar mandir sembari bermonolog mengumpati asistennya.
Namun kehadiran Millie yang tiba tiba membuat Ardy terkejut hebat.
"Loh.. loh.. bos... kok pingsan" Amir panik kala melihat bos nya tiba tiba terjatuh.
Millie memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Dokter.. harus dikasih nafas buatan ini" tukas Amir dengan panik.