
Seiring berjalanya waktu, tidak terasa hubungaku dengan Adi sudah berjalan kurang lebih tiga bulan lamanya, yang dimana libur semesterpun tiba. Karena waktu libur kurang lebih satu bulan lamanya, akupun memilih untuk pulang ke kampung halamanku. Satu hari sebelum aku pulang, Ttdak lupa aku memberitahukan Adi bahwa aku akan pulang ke kampung halamanku. Malam itu juga Adi mengajak aku makan di luar.
Jam menunjukan pukul 07:55 Adi sudah tiba di depan kosku, akupun bergegas keluar menemuinya. Saat dalam perjalanan, Adi sendiri tidak tahu kemana dia akan mengajak aku untuk makan. Karena dia ingin aku memilih tempat kita makan malam itu, akupun bingung, akhirnya aku memilih mengajak dia makan di tempat pedagang kaki lima di pinggira jalan. Diapun terus bertanya kepadaku, tentang tempat makan yang aku pilih.
Ternyata dia sendiri sebenarnya sudah menentukan tempat, di sebuah restoran yang baru beberapa minggu dibuka. Ketika dia memberitahukan aku restoran yang dia pilih, kitapun mencoba melihat menu-menu yang ada di restooran begitu, aku sendiri masih belum bisa beradaptasi dengan makan-makan orang luar, sehingga aku malam itu menolak restoran yang Adi pilih dan memilih makan di pinggir jalan begitu. Sebelum Adi menyetujui tempat yang aku pilih, dalam perjalanan dia tetap terus bertanya kepadaku. Akupun mencoba meyakinkan dia, bahwa aku tetap ingin makan di manapun itu, asalkan menu makananya sesuai seleraku. Aku sendiri tidak menanyakan seperti apa selera makannya Adi
Kurang lebih tiga bulan lamanya menjalin suatu hubungan, membuat aku belum juga sampai saat itu mengenal dirinya. Bukan karena aku tidak ingin mengetahui dasar-dasar tentang kehidupannya dia, baik itu pekerjaan orang tua, atau tentang dia yang lainnya. Walaupun nugrah sudah memberitahukanku tentang pekerjaan orang tuanya, akan tetapi aku takut dia tersinggung atau meras tidak nyaman saat aku bertanya.
Adi yang melihat aku sudah yakin dengan jawabanku, akhirnya kita kembali ketempat pilihan pertamaku untuk makan malam itu.
Tiba-tiba saat aku akan menyelsaikan makan malam saat itu, panggilan masuk dari Gunawan. Akupun tanpa berpikir langsung menerima panggilan telpon darinya. Gunawan yang juga mengetahui bahwa aku akn pulang kampung besoknya, dia meminta aku untuk datang padanya malam itu. Tanpa bertanya akupun langsung mengiyakan ketika dia meminta aku untuk datang kerumahnya, aku sendiri tidak tahu dimana alamat rumahnya, Gunawapun mengirimkan aku alamat rumahnya melalui SMS. Bukan tanpa alasan aku langsung mengiyakannya, melainkan karena malam itu aku juga lagi bersama Adi, aku berpikir kenapa tidak aku mengajak Adi untuk menemaniku kerumahnya Gunawan. Adipun tidak pernah sama sekali bertanya tentang kedekatanku dengan Gunawan, dia beragapan melihat aku dengan Gunawan tetap pada batas kewajaran sebagai teman. Adi tidak bisa melarang aku dekat dengan Gunawan, bagaimanapun Gunawan sudah lebih dulu mengenal diriku dibandingkan dia. Aku melihat Adi selalu berpikir positif terhadap apapun yang aku lakukan, aku berharap suatu saat nanti aku juga bisa seprtinya, bisa berpikir positif tentang persaan dia terhadapku.
Akupun memberitahukan alamat rumah Gunawan kepada Adi, tidak begitu sudah untuk menemukan alamat Gunawan oleh Adi. Saat aku tiba depan rumanhnya, aku mencoba menghubungi Gunawan bahwa aku sudah berada di depan rumahnya.
Tak lama kemudian Gunawanpun keluar, dia terlihat sedikit terkejut ketika melihat kedatanganku yang di temanin Adi. Gunawanpun mempersilahkan aku dan Adi langsung masuk.
Ketika kami saat itu duduk, terasa sekali kecanggung Gunawan terhadapku.
"Oooo.... iya kamu nyuruh aku datang kerumah kamu ada apa?"
"Eeee, aku tahu kamu akan pulang besok, jadi aku mau mengembalikan uang yang aku pinjem dua hari yang lalu. Maaf ya aku baru kembalikan hari ini, sumpah aku benar-benar baru ingat."
"Tunggu-tunggu, uang apaan ya, perasaan kamu tidak pernah pinjem uang aku deh."
"Kamu ingat nggak, yang kita makan bareng Rafa, Aci dan yang lainnya saat pulang kuliah dua hari yang lalu!!. Saat itukan kita bayar makan masing-masig, tapi saat itu kita semua pakai uang kamu dulu. Saat keluar dari tempat makan itu, mereka semua mengantikan uang kamu, hanya aku saja yang belum, gara-gara aku memberikan kamu uang besar, jadi kamu meminta aku untuk membayarnya besok saja, karena kamu sendiri tidak memiliki uang kecil untuk memberikan aku kembaliannya."
__ADS_1
"Ooooo itu toh, aku juga baru ingat. Astaga Gun, kamu kaya sama siapa saja."
"Maaf ya aku telat kembalikan uang kamu."
"Ya sudah aku terima ya uangnya, lain kali nggak usa nggak enakan begitu sama aku, lagian juga kamu nggak ganti nggak apa-apa kok Gun. Bagaimanapun kamu teman baik aku dan kamu juga sudah sering banget antu aku."
"Ooo iya kalian mau minum apa?"
"Nggak usa repot Gun." (sahut Adi).
"Aku serius loh nawarin kalian minuman, masa tamu aku nggak kasih minuman."
"Nggak usa repot0repot Gun. Sepertinya kita langsung balik saja, lagian aku juga harus menyiapkan pakian yang akan kau bawa pulang besok pagi."
"Nggak usa Gun, lagian ini sudah jam 09:25, kasihan Claranya kalau aku antar pulang terlalu malam."
"Ya sudah deh kalau gitu, aku nggak akan memaksa. Kalau begitu hati-hati di jalan ya."
Moment dimana malam itu merupakan malam terakhir kita bertemu, dan akan bertemu setalh kurnag lebih satu bulan lamanya. Saat tiba di depan kosku, Adi sempat berbicar kepadaku untuk mengutarakan persaanya, perkataannya begitu mudah aku mengerti dan tutur katanya begitu lembut kepadaku. Ketika dia berbicara, aku memberanikan diri menatap matanya, aku melihat ada ketulusan yang dia berikan kepadaku. Kurang lebih tiga bulan menjalin suatu hubungan, dia tidak pernah bertindak dan akupun tidak pernah melihat prilaku dia yang tidak menyenangka. Yang aku rasakan, sikap dia saat berbicar kepadaku, dan prilkaunyapun tersa begitu hangat. Tapi kenapa sampai saat itu, aku masih meragukan yang namanya cinta. Dengan adanya hubungan jarak jauh yang akan kita jalani mulai besok sampai kurang lebih satu bulan lamanya, aku berharap persaanku padanya tidak terganggu, karena aku ingin belajar untuk mencintainya.
Setelah Adi pulang, saat aku masuk kamar aku tidak langsung menyiapkan pakian yang akan aku bawa pulang. Aku memilih membaringkan tubuhku untuk beberapa menit. Saat memabringkan tubuhku, aku baru mengingat sesuatu. Aku baru menaydari, bahwa aku tidak memegang ponselku, akupun mencoba mencai di dalam tas yang aku pkai keluar malam itu, tetap tidak aku temukan.
Tak lama kemudian, suara seseorang memanggil namaku tepat di depan kamar. Awalnya aku mengira yang memanggil-manggilku adalah teman satu kosku, ternyata dugaanku salah. Aku melihat Gunawan berdiri tepat di depan kamarku. Aku sedikit terkejut denga kedatangan Gunawan yang begitu tiba-tiba.
"Eee Gun kamu toh, aku kira teman kosku."
__ADS_1
"Kamu lagi sibuk beres-beres ya?"
"Aku belum beres-beres pakaian yang aku pulang sih, aku lagi sibuk nyari ponselku saja. Ooo iya kamu kesini ada apa?"
"Aku kesini mau ngatarin ponsel kamu yang ketinggalan dirumah aku. Aku melihatnya di atas kursi saat aku menutupi pintu. Aku mencoba memanggil kamu tadi, cuman saat aku keluar dan melihat depan gerbang, ternyata kalian sudah tidak ada. Karena aku tahu kamu akan pulang besok, jadi aku memilih untuk mengatarkannya."
"Maaf ya sudah merepotkan kamu,Tapi untung saja sih ponselku ketinggalan di rumah kamu. Coba di temapt lain mungkin aku sudah tidak memiliki ponsel."
"Kebetulan juga, karena aku akan mengatar ponsel kamu. Aku tadi iseng-iseng ketamapat tokoh jam untuk mengambil jam tangan aku yang aku tingalkan untuk di perbaiki kemaren. Jadi aku melihat jam tangan perempuan, menurut aku canti. Jadi aku berpikir membelikan untuk kamu."
__ADS_1