
Melepaskan, bukan berarti aku menyerah. Untuk saat itu aku tidak berani untuk menerima genggamannya untuk waktu yang lama, karena aku sendiri belum terlalu kuat untuk meyakinkan perasaanku sendiri. Tidak tahu cara menggenggamnya, sehingga aku memilih untuk melepaskannya.
Masa lalu ku jadikan sejarah dalam hidupku. Mulai membuka lebaran baru dan aku tidak akan mengkuatirkan masa depanku. Bisa menikmati moment-moment yang aku lakukan setiap harinya, tanpa harus menginggat masa lalu, itu adalah anugrah. Mungkin untuk menjalani hidup dan berharap sesuai dengan keinginanku, memang bukanlah hal yang mudah, akupun tidak bisa menyepelekannya. Menata hidup yang baru sangat membutuhkan semangat. Tak peduli bagaimana menyakitkannya kehidupanku di masa lalu, walaupun di masa depan aku kan menghadapi masalah yang lebih rumit, akan tetapi aku yakin aku bisa menemukan kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sebenarnya datang dari diri kita sendiri.
Karena kakak sepupuku sebelumnya berkata akan pulang di siang hari, akupun memilih pulang bersama Aci kekosnya pagi itu.
Sudah enam jam lamanya aku berada di kosnya Aci, kita berduapun tidak melakukan apapun selama enam jam itu. Mulai merasa boring, itu yang aku Aci rasakan. Saat aku memilih untuk pulang, tidak lupa aku meminta Aci mengantarkanku ke kos. Baru saja Aci akan mengantarkan aku pulang, tiba-tiba panggilan masuk dari Rika, dia mengajak aku dan Aci pergi kerokean, aku dan Aci langsung mengiyakan ajakan dari Rika. Acipun tidak jadi mengantarkanku, melainkan aku sendiri yang pulang sendiri hanya untuk mengantikan pakaianku saja.
Tak lama kemudian, Aku dan Aci segerah menuju tempat dimana Rika sudah duluan menunggu, kitapun bertemu langsung di tempat Karokean. Siang itu, ternyata Rika sudah memesan memang untuk ruang kerokean, sehingga kitapun tidak perlu menunggu sama sekali.
Tidak terasa, sudah tiga jam lamaya kita karokean, Rikapun menambah satu jam lagi. Tidak ingin ku sia-siakan setiap moment yang ada, aku benar-benar menikmati hari-hari saat itu, tanpa ada ganguan telpon dari siapapun.
Satu jampun berakhir, aku, Rika dan Aci mulai meras kelaparan. Kita bertiga keluar dari ruang karokean langsung segerah mungkin menuju tempat makanyang sudah kita tentukan tempatnya.
Sambil menunggu pesanan datang, terdengar suara ponsel. Aku tidak menyadari bahwa suara itu berasal dari ponseku. Ku tatap layer ponselku, panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Aku meminta Aci untuk menerima panggilan masuk tersebut,
“Aci,Aciiii.”
“Hhhmm, apa sih Claraaa?”
“Minta tolong ya, terima panggilan masuk di ponselku!!!”
“Lah kok aku, kenapa nggak kamu sendiri saja.”
“Siapa tahu itu nomornya Kak Richy.”
__ADS_1
“Kenapa emangnya kalua ini kak Richy.”
Karena kejadian di malam itu Aci tidak tahu apa yag terjadi antara aku dan Richy, akupun tidak memberi alasan kenapa aku tidak ingin berbicara dengannya saat itu. Aci yang melihatku terus meminta dirinya untuk menganggkat telpon itu, diapun akhirnya mau.
“Terus kalau ini benran Kak Richy, aku harus bilangan apa jika dia cari kamu?”
“Bilang saja ponselku ketinggalan di kos kamu.”
Acipun menerima panggilan masuk dari nomor yang tak ku kenal itu, tak lupa aku menyuruh Aci untuk speaker saat mereka berbicara.
“hallo”
“Iya Hallo, maaf ini siapa ya?”
“Ooohh, Maaf sebelumnya jika aku mengganggu. Aku Adi, apakah ini benaran nomor atas nama Clara?”
“Clara aku harus jawab apa?”
“Ya sudah, biar aku saja yang lanjutin ngomongnya.”
“Maaf sebelumnya, Ada apa ya?” (sahutku).
“llooohhh kok suaranya beda?”
“Oooo,, yang tadi itu teman aku. “
__ADS_1
“Terus yang berbicara denganku ini siapa?”
“Yang punya HP?”
“berarti ini Clara?”
“Aku nggak bilang kalau aku Clara.”
Aku berbicara cukup cetus terhadap lelaki yang bernama Adi itu. Segitu cetusnya, sampai aku lupa bertanya dari mana dia mendapatkan nomorku saat itu. Aku cukup penasaran kenapa lelaki yang bernama Adi itu menghubungiku. Aku cukup terkejut ketika dia memberitahukan ku alasan dia menghubungiku. Ternyata Adi tidak pernah mengenaliku. Lebih anehnya lagi ketika aku mendengar penjelasan tentang dia yang berani mengambil keputusan untuk menghubungiku, karena saat dia melihat kartu nama yang dia lihat di salah satu temannya, dia mulai bertanya-tanya kepada Nugrah, dan nugrahpun memberikan kartu nama itu kepadanya.
Tanpak aku tanya dari mana dia mendapatkan nomor ponselku, aku bisa menebaknya saat dia menyebut nama Nugrah. Nugrah tidak lain teman kempus sekaligus teman kelasku, tetapi aku tidak cukup dekat denganya. Tiga hari sebelumnya Nugrah sempat meminta nomor ponselku, akupun saat itu langsung menyodorkannya kartu namaku.
Akupun mulai tertarik berbicara dengan lelaki yang bernama Adi, walaupun aku sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya. dia menjelaskan bagaimana dia bisa mendapatkan kartu nama itu dari Nugrah. Adi menceritkan bawah awalnya
"Aku, Nugrah dan dua teman lainnya satu hari yang lalu niatnya kita akan menonton konser kotak saat pulang dari kampus. Saat dalam perjalanan teryata cukup macet. Akhirnya kita memilih untuk mengurungkan niat menonton konser tersebut dan memilih untuk mampir di sebuah Cafe yang tidak jauh dari lokasi konser tersebut untuk mengisi perut. "
Rasa ingin tahuku semakin besar saat dia berkata pulang dari kampus, ada kemungkinan mereka berada di fakultas yang sama atau bisa jadi dikampus yang sama. Aku berpikir awalnya dia berada di kelas B, itu sebabnya aku sendri saat mengetahui namanya tidak ada di pikiran ku bahwa aku mengenal sosok yang bernama Adi itu.
"Kamu barusan bilang, pulang dari kampus. emangnya kamu kuliah dimana?"
"Jujur aku juga tidak tahu benar atau tidaknya apa yang Nugrah katakan kepadaku. Mulanya, saat kita nongkrong di cafe satu hari yang lalu, dia mengeluarkan dompetnya. Lalu kartu nama kamu jatuh tepat di depanku. Saat aku melihatnya, ternyata kartu nama itu terdapat foto. akupun bertanya pada Nugrah siapa pemilik kartu itu. Nugrahpun menjawab bahwa kartu nama itu adalah kartu nama teman kelas kita sendiri."
"Apa?, Nugrah bilang kartu namaku itu satu kelas dengan kita. Itu berarti kita berdua berada di satu kelas yang sama."
"Aku juga tidak percya saat Nugrah memberitahukanku bahwa pemilik kartu nama itu adalah satu kelas dengan kita. Karena di kartu nama itu, kalau itu benaran kamu, aku memang tidak mengenal semua nama dan wajah teman kelasku. Tetapi setidaknya aku mengenal wajah teman kelas yang tidak memakai hijab, walaupun aku juga tidak tahu nmama mereka.. Tapi tidak ada wajahnya yang mirip seperti kartu nama yang abdi miliki. Tapi Nugrah sudah jelasin, katanya bahwa kamu kalau sehari-harinya memang tidak berhiijab, hanya memakai hijab saat ke kampus saja. Apakah itu benar?"
__ADS_1
Ketika aku mendengar penjelasannya, aku mulai yakin dan percaya bahwa lelaki itu benar berada di satu kelas denganku. Akupun mencoba bertanya kepada Aci dan Rika sambil berbisik-bisik, ternyata mereka berduapun tidak tahu yang mana lelaki yang bernama Adi. dalam hitungan detik aku mengubah pikiranku, bahwa aku juga tidak akan percya begitu saja dengan apa yag dia katakan. Karena Aci dan Rikapun tidak mengenal dirinya, jadi aku mulai meragukan bahwa dia bisa saja berbohong kepadaku.