My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Merelakan untuk kebaikanku dan hatiku


__ADS_3

Tes untuk masuk Universitas tempat aku daftar diadakan dua hari. Tepat di hari terakhir aku ikut tes, tanteku tidak bisa menjemputku. Karen Dia sendiri UAS di kampusnya. Aku berniat mencoba menelpon taxi, sepertinya tidak memungkinkan. Situasi jalan sangat padat dan sangat macet, karena dipenuhi oleh ribuan orang yang mengikuti tes ditambah orang yang menjemput peserta tes. Karena jarak kosku dari tempat aku tes, jaraknya tidak terlalu jauh, aku memilih jalan kaki. Tepat dijalan aku tidak sengaja bertemu Kak Jho, yang saat itu dia juga sedang menunggu adiknya keluar tes. Diapun mengajak aku berbicara, tidak lama kemudian adiknya Kak Jhopun terlihat, dia meminta adiknya untuk menunggu sebentar. Karena adiknya laki - laki jadi adiknya mengerti untuk mengantarkan aku lebih dulu. Akupun menolak, karena aku merasa tidak enak. Tapi Kak jho dan adiknya terus memaksaku, agar aku mau menerima tawaran dari Kak Jho. Akupun menerima tawaran dari Kak Jho.


kurang lebih enam menit aku sampai di kosku. Kak Jho langsung balik untuk menjemput adiknya. Tiba - tiba ponselku berbunyi, aku tidak menduga Die menelponku. Karena semenjak kita berantem empat hari yang lalu dia tidak pernah menghubungiku sama sekali, begitu juga sebaliknya dengan aku.


"Hallo".


"Kamu dimana ?" ( Tanya Die ).


"Aku baru sampai kos, kenapa?" .


"Main kekontrakan yuk, ada yang ingin aku bicarakan!".


"Kenapa nggak bicara sekarang saja!!".


"Terserah kamu, tapi sekarang aku jemput kamu, aku sudah didekat kos mu" ( Dia langsung mematikan ponselnya ).


Ketika aku membuka pintu kamarku, tanteku belum juga pulang kuliah. Akupun sangat lapar, aku begegas mengantikan pakaianku. Tidak lama kemudia sebuah SMS masuk, ketika aku mengecek ponselku, ternyata itu dari Die. Dia memberitahukan aku bahwa dia sudah didepan gerbang kosku. Awalnya aku mengira dia hanya bercanda. Akupun mencoba keluar dan melihat kearah gerbang, dia benar - benar di depan gerbang kosku. Dan aku melihat dia masih terlihat memakai seragam hitam putih yang di pakai saat tes. Akupun keluar dan menghampirinya.


"Kamu seriusan ajak aku kekontrakan kamu?" ( Tanyaku ).


"Iya, ada yang ingin aku bicarakan".


"Bukannya kamu masih marah padaku, kenapa tiba - tiba langsung mengajak aku ke kontrakan kamu?".


"Kamu itu ya banya tanya, nanti aku jelasin".


"Ya sudah kalau begitu aku ambil tas dulu sekalian mau kasih tahu tanteku lewat telpon".


Diperjalanan aku sudah tidak bisa menahan rasa laparku, karena dari pagi aku tidak makan apapun, dan ini sudah jam 1 siang, sudah waktunya makan siang.


"Die aku laparrrr" ( Sahutku ).


Dia langsung memberhentikan kendraanya, dan membelikan tiga bungkus makanan.


Sesampai dirumahnya, aku disambut baik oleh kakaknya. Kita bertigapun makan bersama. Beberpa menit setelah Die selsai makan, dia langsung masuk kamar mandi. Aku pun menonton tv sambil berbicara dan bercanda dengan kakanya Die.


Aku menunggu Die keluar dari kamar mandi lumayan cukup lama. Akupun mencoba menghampirinya, ternyata pintu kamar mandi terbuka lebar. Aku mencoba memanggila Die dengan jarak dari pintu kamar mandi dengaku sekitar lima langkah.


"Die, Dieee, Dieeee" ( Teriakku ).

__ADS_1


"Iya kenapaaa??.


"Kamu ngapain dikamar mandi, kok lama sekali".


"Aku lagi mandi" ( Jawabnya ).


"Mandi, kenapa pintunya nggak ditutup?. Mandi kok lam sakli, aku yang cewek aja nggak selama itu mandinya".


Kakaknya Die yang mendengar aku berbicara dan melihat aku berbicara jauh dari pintu kamar mandi, dia tertawa saat melihat tingkahku.


"Clara kamu kenapa bicara teriak begitu, kenapa kamu nggak langsung bicara tepat didepan pintu kamar mandi dengan adikku?!" ( Sahut Kakaknya Die ).


"Aku masih waras kak, mana mungkin aku bicara tepat didepan pintu kamar mandi dengannya. Oranng pintu kamar mandinya dia nggak di tutup. Kalau aku beridiri tepat di depan pintu kamar mandi, sama saja aku melihat Die mandi dalam kondisi telanjang".


Aku mendengar sangat jelas Die tertwa. ketika aku mendengar baik - baik, tidak ada suara air seperti orang mandi. Yang ada aku mendengar seperti seseorang yang sedang mengosok pakaian. Ketika itu aku memberanikan diri berdiri tepat disamping pintu kamar mandi, aku merasa Die membohongiku.


"Die kamu sebenarnya ngapain sih?" ( Tanyaku ).


"Suara kamu kok seperti disamping pintu, kamu mau mengintip aku mandi ya??" ( Mencoba mengodaku ).


"Ogaaah baget" ( Jwabku dengan judes ).


"Iiii, apaan siiiiiihhhhh".


"Clara dia itu lagi nyuci pakaian, bukan mandi" ( Kakaknya Die tertawa terbahak - bahak dengan tingkah aku ).


Aku pun langsung berdiri tepat didepan pintu kamar mandi dengan wajah yang cukup kesal karena dia sudah mengerjain aku.


"Kamu sengaja ngerjain aku ya?".


"Bukan sengaja ngerajain kamu, tapi aku suka kamu" ( Tersenyum ).


"Candaan kamu garing Die" ( Aku tersenyum ).


"Iya - iya. Dari pada kamu berdiri, lebih baik kamu bantu aku nyuci".


"Ogggaaah, lebih baik aku nonton bareng kakak kamu " ( menjulurkan lida ).


Sebelumnya aku dan Die saling tidak menghubungi selama empat hari. Tapi setelah apa yang terjadi hari ini, aku merasa kita seperti orang yang baik - baik saja. Aku merasa, tidak akan terjadi sesuatu yang membuat hubungan perteman menjadi rumit, jika salah satu diantaranya bisa mengalah, apalgi bisa saling mengerti satu sama lain. Aku berharap hubungan pertemananku dengan Die akan selalu baik - baik saja seperti sekarang ini.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Diepun menyelsaikan pekerjaanya....


"Die, katanya ada yang mau dibicarakan denganku. Sebenarnya Die mau ngomong apa sih??".


"Hmmm, aku mau minta maaf atas apa yang sudah terjadi sebelumnya".


"Hanya itu??".


"Iya, emnganya kamu mau aku bicara apa??"


"Nggak tahu juga sih. Tapi masa hanya itu saja. Kalau mau minta maaf, kan bisa Die nggomong langsung di kos ku tadi. nggak harus mengajak aku kesinikan".


"Sebenarnya sih ada yang ingin aku bicarakan, tapi sepertinya belum saatnya".


"Ooo begitu, kalau begitu aku mau pulang saja".


"Hmmm aku akan antarkan kamu nanti jam 5, ini masih panas diluar. Bagaimana kita duduk dibelakang??" .


"Perasaan dibelakang itu tidak ada apa - apa tu. Terus kita duduk dimana?".


"Kita bisa duduk diatas temboknya".


"Seriusan diatas tembok?, aku taku jatuh".


"Tenang saja, kan ada aku. Yang pastinya dibelakang itu sangat sejuk, karena dibelakang banyak pohon dan pemandanganya itu ada sawah. Kebetulan bulir padinya sudah terlihat".


Aku dan Diepun menuju kebalakang kontrakannya. Kita benar - benar memanjat tembok, untungya tidak terlalu tinggi, sehinga aku tidak terlalu susah untuk sampai diatas tembok tersebut.


Sore itu sangatlah tenang. Kita pun memandang ke arah sawah. Akupun menikmati hembusan angin yang begitu sejuk. Tiba - tiba Die mebahas mengenai cinta.


"Clara aku mau kamu jujur, sebenarnya bagaimana persaan kamu terhadap Richy mantan kamu. Aku tidak ingin kamu menyembunyikan tentang persaan kamu yang sebenarnya?".


"Jujur, sebenarnya aku sudah mulai merasa tenang sebelum aku mengikuti BIMBEL. Tapi entah kenapa, semenjak aku bertemu dengannya lagi, awalnya aku tidak mengerti terhadap diriku sendiri. Tapi setelah pertemuan yang kedua kalinya, aku merasa yakin bahwa aku masih mencintainya dan bahkan aku masih berharap bisa kembali dengannya lagi".


"Lalu??".


"Tapi sepertinya, aku harus merelakan dia pergi. Karena pertemuan terakhir di asrama empat hari yang lalu, aku mengira dia akan mengajak aku kembali, tapi dugaanku ternyata salah. Sepertinya dia hanya mengangap aku sebagai teman atau bisa jadi hanya sebatas adik kelasnya".


Terkadang kita harus merelakan seseorang yang tak bisa kita miliki. Aku tahu, dalam hidup ini merelakan adalah suatu hal yang amat sulit untuk kita lakukan. Mungkin ini saatnya aku harus benar - benar belajar untuk lebih mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa aku miliki. Meskipun itu suatu hal yang sangat sulit, namun itu adalah hal yang sangat baik untuk diriku dan hatiku.

__ADS_1


__ADS_2