
Keadaan saat itu di parkiran di fakultasku cukup gelap, sehingga kendaraan di parkiran tidak terlihat cukup jelas. Rikapun ditemin alif membuka gerbang malam itu. Saat tiba di parkiran, Rika dan Alif melihat hanya terdapat satu kendaraan yang terparkir. Mereka memberitahukan aku, Aci, gunawan dan Rafa. Kita semuapun mencoba mencari kendaraan Rika setiap sudut di fakultas, Kita tidak menemukannya. Akhirnya kita mencoba mencari security yang bertugas jaga malam saat itu. Setelah mencari sekitar dua puluh menit lamanya, kita tidak melihat security satupun di fakultasku. Rika mulai terlihat khawir, tanpak bepikir panjang dia langsung meminta kita semua untuk menemani dia melapor ke kantor polisi. Semuanya juga sudah sangat binggung malam itu, kitapun menyetujui ide Rika.
Sesampai kantor polisi, Rikapun mencoba menjelaskan maksud kedatangnnya. Tak di sangka, niat kita yang hanyat menemani Rika ternyata tidak hanya Rika yang diarahkan salah satu petuga polisi untuk menuju ke ruang interview. Mau tidak mau, kita semuapun mengikuti arahannya dari pak polisi. Sesampai depan ruang interview, kita di perintahkan bergiliran masuk dua orang. Sebelum giliranku masuk, ponselku terus berbunyi. Akupun mencoa mengangakt telpon yang tidak lain dari kakak sepupuku , yang menanyakan aku di mana. Akupun memberitahukannya bahwa aku di kantor polisi mengatar temanku. Aku mulai gelisa, karena kunci kos saat itu aku yang membawanya, sedangkan kakak sepupunya menunda pulang ke kos saat aku mmeberitahukannya bahwa aku tidak akan lama di kantor polisi.
Ternyata giliranku bersama Aci yang terakhir masuk ke ruang interview. Sebelum masuk ruang tersebut, aku lupa mematikan ponselku. Ponselku terus berbunyi, polisi yang bertugas mengiterviewku saat itu hanya tersenyum saat mendengar ponselku. Akupun berinisiatif silent ponselku, tapi aku tidak henti-hentinya menatap layar ponselku.
Salah satu petugas polisi yang mengiterview diriku sudah tidak mengajukan pertanyaan lagi. Aku merasa tenang, akhirnya aku bisa pulang secepat mungkin, ternyata dugaanku salah. Aku dan Aci belum dibiarkan keluar ruangan, melainkan masih ada satu pertnyaan lagi, sahurnya. AKu dan Aci kembali duduk, kita berdua tak kunjung di tanyakan, akupun mulai kesal dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Sebelumnya saya minta maaf pak, Jika masih ada pertanyaan, tolong di pertanyaakan sekarang juga, Karena saya harus cepat-cepat pulang. Kakak sepupu saya sudah menunggu dan dia tidak bisa masuk, karena kunci kos saya yang membawanya."
Pak polisinya hanya tersenyum dan tatapannya mengarah kearahku.
"Sebenarnya sih sudah tidak ada pertanyaan, Tapi kamu tidak bisa langsung pulang. Karena sebentar lagi kalian akan menuju ke lokasi dimana tempat teman kalian meninggalkan kendaraannya. Jadi biarkan kakak sepupu kamu kesini untuk mengambil kunci kosnya."
Aku tidak bisa berkata lagi, melainkan aku mencoba menghubungi kakak sepupuku mengambil kunci di kantor polisi. Beberapa menit kemudian, kakak sepupuku tiba kantor polisi tepat bersamaan dimana kita akan menuju lokasi tempat kendraan Rika hilang. Tenyata, tidak apa-apa jika yang lainnya tidak bisa ikut ke tempat lokasi. Rika yang mendengar penjelasan dari pak polisi, meminta kita semua tidak perlu ikut untuk menemani dirinya, karena dia tahu, semua teman-temanya sudah kecapean. Akhirnya hanya Rika yang pergi ke lokasi tempat kejadian kehilangan kendaraannya itu. Akupun langsung pulang bersmaan dengan kakak sepupuku,
Pikiranku saat itu hanya ingin cepat-cepat sampai kos dan aku langsung ingin bersistrihat, Ternyata tidak secepat yang aku pikirkan untuk bisa tiba di kos.
Tepat di pintu gerbang keluar masuk kantor polisi saat itu, kakak sepupuku menghentikan kendaraanya. Saat aku melihat kearah depan, ternyata ada dua polis yang terlihat cukup masih mudah menghentikan kendaraan kakak sepupuku. Tanpak terlihat tidak begitu asing, ternyata salah satunya adalah polisi yang menginterviewku sebelumnya. Dia mencoba meminta nomor ponselku, kakak sepupuku cukup kebinggungn. Akupun meras itu tindakan yang kurang menyenangkan, memberhentikan kendaraan membuat aku cukup emosi karena aku benar-benar inginsesegera mungkin istirahat.
"Maaf pak, meminta nomor ponsel adik ku untuk apa ya?"
__ADS_1
"Temanku sbenarnya sejak tadi ingin meminta nomor ponsel adik kamu atau setidaknya pin BBM nya."
"Tapi maaf, saya tidak menggunakan hp BB. Jadi saya tidak mungkin memiliki BBM. Untuk nomor ponsel, maaf saja, saya tidak bisa memberikannya begitu saja kepada orang asing. Sekalipun kalian anggota polisi, aku tidak akan meberikannya."
"Ok. aku mengerti jika kamu tidak mau memberikan nomor ponsel kamu kepadaku. Tapi kalau boeh tahu kalian aslinya orang mana?"
"Kita dari kampung, jadi jika salah satu dari kalian tertarik kepada adik ku, lebih baik cari cewek kota saja."
"Seriusan kalian dari kampung?"
Kakak sepupuku langsung mengelurakan dan menunjukan KTP kepada kedua polisi muda tersebut. Mereka terlihat cukup terkejut.
"Kita mengira kalian orang bandung, karena wajah, kwarna kulit, tinggi, semuanya, mungkin orang akan susah percya bahwa kalian dari kampung."
Tiba di kos ponselku terus berbuny. Karena aku membutuhkan istirhat, aku langsung mandi dan tidak menghiraukan ponselku. tiga puluh menit kemudian, akupun langsung tidur setelah mandi. Aku melihat ada 17 anggilan tak terjawab dari Ray, dan beberapa SMS. Aku hanya membacanya, tapi tidak membalas SMS tersebut. Ternyata Ray tahu kalau aku baru saja dari kantor polisi. AKu tidak tahu dari mana dia mendapatkan kabar tersebut, tapi aku tidak mau ambil pusing dan segerah membaringkan tubuhku di tempat tidur. Tidak lupa aku memilih mematikan ponselku, karena aku tidak ingin terbangun karena sura ponselku.
Seketika aku terbangun dan melihat kakak sepupuku sedang sholat. Akupun menyadarkan diri dan langsung melihat jam yang menunjukan pukul 05:10 pagi, Aku segera bangun dan langsung mengambil air wuduh.
Karena biasanya aku selsai sholat subuh langsung tidur, akan tetapi beda dengan hari itu, aku tidak bisa tidur lagi setelah menyelsaikan sholat subuh. Akupun mencoba mencari aktivitas, yaitu bermain game di leptop.
Akan tetapi, tepat pukul 09:56 pagi, aku mulai mengantuk. Aku mencoba membaringkan [kepalaku tepat di atas boneka yang biasa aku gunakan.
__ADS_1
"Hay Clara bangun, Claraaaa bangunnnn.....!!"
"Ada apa sih kak?"
"Kamu hari nggak pergi kuliah?"
"Emangnya ini jam berapa?"
"Ini sudah jam 12:35."
"Tapi kenapa aku tidak mendengar alarm ponselku bunyi ya?, ka biasanya aku pasang alaram siang itu jam 12:00."
"Mana kakak tahu, kalau kamu tidak percaya, lihat saja sendiri!"
Akupun mecoba mengambil ponselku, ternyata sebelum aku tidur malam, aku mematikan ponselku saat aku menisi batrenya. Dan semenajk itu aku tidak melihat ponselku sma sekali. pantasan alaramnya tidak berbunyi.
"Clara jangan lama-lama mandinya, ini sudah jam berapa. OOoo ya kakak lupa, kakak mau kasih tahu kamu kalau hari ini kakak mau pakai motor, jadi kamu hari ini berangkat kuliahnya kakak yang antar. Mandinya jangan lama-lama. soalnya kakak mau berangkat jam 01:15."
"Hadu kak, aku biasanay berangkat kuliah itu jam 02:30. Kalau aku berangkat bareng kaka jam 01:15, donk itu kecepatan. Yang ada nanti aku nunggu lama di kampus untuk bisa masuk kelas. Mending juga nunggu lama ada teman berbocara gitu."
"Kan cuman lebih cepat lima belas menit saja hari ini kamu berangkat kuliahnya."
__ADS_1
"Tetap saja itu kecepatan. Karena aku beangkat kuliah jam 02:30 juga aku tetap lama nunggu Dosen datang. Kakak kalau mau pergi, pergi saja. Nanti aku minta temanku untuk menjemput aku ke kos deh."
Selsai mandi aku langsung mengambil ponselku, mencoba menghubungi dan memita tolong kepada Gunawan untuk menjeputku pas dia berangkat kuliah. Gunawanpun tidak pernah menolak jika aku meminta dia menjemput ataupun mengatarku pulang.