
Tidak hanya aku yang saja, semua orang juga pasti pernah mengalami dan akan mengalami sama hal yang aku alami hari itu. Tak ada yang bisa tahu peristiwa apa yang akan kita hadapi untuk kedepannya, terkadang banyak orang yang mencoba melibatkan dirinya kedalam kehidupan kita, yang padahal sesunguhnya itu bukan bagian dari hidup mereka. Sesuatu yang ingin aku sembunyikan, ketika seseorang tiba-tiba menegetahuinya, di saat itulah kadang aku merasa hidupku terasa berat dan merasa sedikit rumit.
Ketika aku mendengar beberapa orang yang menggosip atapun mengolok-olok diriku, aku tidak bisa menghetikan mereka. Karena aku tahu itu haknya mereka memberikan penilaian terhadapku, sehingga aku menerima apa saja bisikan-bisikan yang aku dengar.
Dua jam kemudian, ketika tiba waktunya jam mata pelajaran kedua berakhir, Adi langsung menghapiriku dan meminta maaf. Aku sepenuhnya sadar, bahwa kejadian hari itu bukan kesealahan Adi, melainkan itu kesalahan aku sepenuhnya. Aku yang mudah terperangkap dengan pancingan omongan Nugrah, sehingga aku tidak mempermasalahkannya. Aku meminta Adi untuk tidak meminta maaf kepadaku, karena itu bukan kesalahannya.
Adipun mulai terlihat tenang ketika aku berkata seperti itu, dan dia tau bahwa aku kekampus hari itu diantar oleh kakak sepupuku, diapun berinisiatif menawarkan untuk mengatar diriku.
"Kok kamu tidak mau aku antar pulang, kenapa?. Bukannya teman kelas juga sudah mengetahui hubungan kita. Atau kamu malu dilihat oleh orang lain selain teman kelas kita."
"Eeeeiiitttzzz, kok kamu ngomongnya begitu. Aku nggak malu sama sekali kok, hanya saja aku sudah janjian bakalan pulang bareng Gunawan."
"Oooo gitu. kalian mau kesuatu tempat ya?"
"kita nggak kemana-mana kok, hanya saja dia yang duluan menawarkan aku pulang, dan aku juga sudah mengiyakannya."
"Tapi aku kan pacar kamu. Kalau begitu biar aku saja yang antar kamu pulang, toh kalian nggak kemana-mana."
"Tapi aku nggak enak sama Gunawan."
"Ya udah, biar aku saja yang ngomong sama dia, pasti dia akan ngerti kok.
"Eeeeeeee jangan, biar aku saja yang ngomong sama dia."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku tunggu di parkiran ya."
Gunawan yang berjalan tepat di belakangku, akupun menghentikan langkahku.
"Lohh ko berhenti, kamu mau diam di kampus?"
"Hmmmm,.."
"Kenapa?"
"Sepertinya aku gak jadi pulang bareng kamu deh, soalnya ada yang ingin aku bicarakan dengan Adi. Jadi aku bakalan pulang bareng dia."
"Cie-cie Clara, yang baru punya pacar langsung diantar pulang." (sahut Rika).
"Ya sudah kalau gitu, Lagian dia lebih berhak ngantar kamu pulang dari pada aku, kan dia pacar kamu. jadi nggak apa-apa kok Clara." ( sahut Gunawan).
Akupun langsung bergegas menghampiri Adi yang sudah menunggu di parkiran. Saat aku menuju parkiran, aku bertemu dengan Cristan.
Berpura-pura tidak melihatnya, aku berpikir dia tidak akan mengangguku. Ternyata dugaanku salah. Cristan mencoba menghentikan langkahku, aku tidak berniat ingin berurusan sama sekali dengannya saat itu, tapi Cristan terus menggotot ingin berbicara denganku. Akupun terus menolak dan memberitahukan dia bahwa aku harus buruh-buruh pulang, dia tetap kekeh menghalangi jalanku. Adi yang cukup lama menungguku, akhirnya dia berbalik kearah berjalan menuju kelas, diapun melihat aku sedang berhadapan dengan Cristan. Aku kaget, entah kenapa aku harus takut saat melihat Adi yang menangap basa diriku sedang berdiri berhadapan dengan salah satu seniorku. Adi terus melangkah kearahku, aku takut terjadi keributan, sehingga aku memohon kepada Cristan untuk membiarkan aku jalan sebelum Adi sampai di tempatku. Cristan tetap tidak perduli, sedangkan Gunawan, Rika, Aci dan Rafa yang berada tidak jauh di belakangku juga melihat kejadian itu. Merekapun tetap terus melangkah, dan Adi lebih dulu sampai di hadapanku, akupun spontan menyebut nama Adi. Cristan yang tidak mengetahui keberadan Adi yang sudah berada tepat dibelakangnya terkejut ketika aku menyebut dan tatapanku mengarah kearah belakangnya. Cristan langsung membalikan tubuhnya, entah apa yang Cristan pikirkan ketika melihat Adi, aku tidak tahu. Karena saat Cristan melihat Adi dan menyapaku, dia langsung pergi begitu mudahnya tanpa mengeluarkan perkataan satu katapun.
"kok kamu lama sih?"
Aku yang sedikit binggun dengan sikap cristan yang langsung berubah membuat aku sedikit berpikir, akupun menebak-nebak, mungkin saja Cristan juga sudah mendengar kejadian hari itu, bahwa Aku sudah memiliki pacar. Akan tetapi, jika Cristan mengetahui itu, lalu kenapa dia masih mencoba mengganggu diriku.
__ADS_1
"Haaiiiiiiii, malah begong saat di tanya."
"Iyaaa tadi ada ganguan kecil gitu."
"Maksud kamu, barusan lelaki tadi mengganggu kamu. Bukanya dia senior kita?"
"Iya dia senior kita."
"Clara kamu tadi diganggu lagi sama dia?" (sahut Aci).
"Maksud kamu lelaki tadi suka menganggu Clara begitu?" (tanya Adi).
"Iya, Clara sudah sering diganggu sama dia."
"Kok bisa."
"Eeee gak usah dibahsa lagi, ini sudah mau magrib. Lebih baik kita langsung pulang. nanti di ajlan aku ceritain ke kamu."
Saat dalam perjalanan ketika Adi mengantarkan aku pulang, aku berpikir Adi akan menyakan tentanga apa yag telah terjadi hari itu antara aku dan Cristan. Tenyata apa yang aku pikirkan salah, aku tidak tahu harus memulai dari mana saat aku ingin menceritakan tentang diriku dengan para-para senior di kampusku, karena Adi sendiri saat dalam perjalan pulang yang ada saat itu dia menanyakan aku lapar atau tidak. Seketika aku terdiam, dia bukannya bertanya tentang apa yang telah terjadi padaku, malah bertanya apakah aku lapar atau tidak. Aku tidak tahu, apakah itu bentuk perhatian yang dia berikan atau dia sebenarnya tidak ingin mengetahui masalah yang telah terjadi selama ini antara aku dengan Cristan maupun seniorku yang lainnya.
Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan, beburuk sangkapun aku tidak bisa kepadanya,
Terkadang apa yang diinginkan hati tak harus di turutin, yang bisa aku lakukan saat itu adalah mengikuti alur dan mencoba berpikir positif.
__ADS_1
Hubungan yang baru saja aku bina, walaupun aku menjalaninya tanpa dasar rasa cinta dan hanya terjadi satu pihak saja, akan tetapi setidaknya aku menyadari bahwa diriku itu tidak memiliki kesempurnaan layaknya seperti orang lain. Bagaimanapun sebelumnya aku juga pernah menjalin suatu hubungan dengan seseorang tanpak dasar cinta, dan aku sendiri tetap berpegang teguh dengan perkataan yang dari dulu aku tanam dalam diriku, yaiu aku memiliki satu hati, itu berarti aku hanya akn mencintai satu orang lelaki dalam hidupku. walaupun kala itu, hubungan yang aku bina tanpa dasar rasa cinta tidak bertahan lama, setidaknya aku tetap hanya memilih satu cinta.